Pariwara
Kolom

Belajar dari Penjual Mie, Oleh: Prof Hanna

Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Setiap manusia memiliki potensi yang diberikan Allah. Dalam kehidupannya, manusia terkadang menemukan kejadian, baik yang dapat menguntungkan maupun merugikan dirinya. Tidak satupun manusia di bumi merasa beruntung selamanya atau sebaliknya. Itulah rahasia Allah. Walaupun semua manusia bercita-cita untuk bahagia selamanya. Artinya, kebahagiaan abadi yang menjadi cita-cita setiap manusia, tidak hanya bagi orang kaya saja. Tapi setiap manusia berhak untuk memperolehnya. Tergantung seberapa besar kemampuannya menghadapi ujian.

Dalam diri manusia, Allah melengkapinya dengan potensi. Sehingga, mampu menghadapi ujian dalam bentuk apapun. Manusia dibekali akal untuk berpikir. Terkait hal itu, saya pernah diceritakan seorang teman, satu tempat duduk di pesawat Malindo dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Dalam penerbangan kurang lebih 2 jam itu, ia bercerita tentang seorang bapak mengajari anaknya yang memiliki potensi. Si bapak itu seorang penjual mie di pedesaan. Dia ingin anaknya bisa bermanfaat terhadap negara dengan potensi yang dimilikinya. Namun, dia sedikit khawatir. Sebab, si anak memiliki sifat sangat egois.

Karena sikap egois itulah, sehingga si anak kurang disenangi teman sekolahnya, bahkan saudaranya. Parahnya lagi, si anak ini tidak mau juga bersahabat dengan orang lain. Kondisi ini sangat dipahami orang tuanya. Namun si bapak tidak pernah menyampaikan kepada anaknya tentang perilaku egoistis ini. Dia hanya melakukan pendekatan.

Pada suatu waktu, bapaknya memasak 2 mangkuk mie berbeda. Pertama, ia memberikan telur yang dicelup di bawah mie. Tapi telur itu tak tampak dipermukaan. Kedua, mangkuk mie yang sama sekali tidak memiliki telur. Kedua mangkuk mie disimpan di atas meja. Kemudian memanggil anaknya dan menyuruh memilih salah satu dari kedua mie itu. Si anak yakin bahwa kedua mangkuk itu memiliki telur, seperti sejak lama diharapkannya. Itu makanan kesukaannya. Karena egonya, ia memilih mangkuk yang menurutnya ada telurnya.

Ketika mereka sudah mulai makan, si anak awalnya merasa bangga dengan pilihannya. Namun, ia kecele dan kalah. Ternyata pilihannya itu tidak punya telur. Justru mangkuk yang diambil ayahnya memiliki dua biji telur. Lalu anak itu memarahi dirinya sendiri, karena terlalu terburu-buru dalam keputusan, dan berharap agar bapaknya tidak makan telur.

Inilah adalah pendidikan moral yang baik dari seorang ayah terhadap anaknya. Bahwa, apa yang dilihat mata, tidak selamanya benar. Apabila punya keinginan jahat dan mau ambil keuntungan dari orang lain, pasti berakhir dengan kekalahan. Pada kesempatan berikutnya, si ayah kembali memasak 2 mangkuk mie. Mangkuk pertama, diletakaan telur di atas dan mangkuk kedua tanpa telur di atasnya. Ketika dua mangkuk mie tersebut siap disajikan, ia memanggil anaknya dan menyuruh untuk memilih salah satu. Sekali lagi karena keegoisannya, dan menganggap dirinya lebih pintar, si anak memilih mangkuk yang tidak memiliki telur dan tampak di atas mangkuk itu. Ketika mereka makan, si anak pertama memisahkan mie di atas dengan harapan akan ada telur di bawah mangkuk, ternyata tidak ada. Lagi-lagi dia kecele.

Peristiwa itu mengajarkan bahwa, dalam hidup ini tidak selalu harus bergantung dari pengalaman. Karena belajar dari pengalaman, terkadang dapat mengecoh. Sebaliknya, juga tidak boleh jengkel atau bersedih dalam menerima masalah. Karena pengalaman sebagai pengetahuan yang diperoleh sebagai proses pembelajaran.

Si bapak belum puas tehadap anaknya. Karena itu, dia melakuakn perlakuan ketiga. Dia kembali masak 2 mangkuk mie yang berbeda. Mangkuk pertama menyimpan telur di atas mangkuk. Mangkuk kedua tidak ada telur di atas permukaan mangkuk itu. Lalu kedua mangkuk diletakkan di atas meja dan kembali memanggil anaknya untuk makan. Kali ini, si anak tidak serta merta memilih. Justru si anak meminta bapaknya untuk memilih lebih awal.

Sebagai seorang bapak yang banyak membimbing anaknya, sekaligus sebagai kepala keluarga, tidak menolak permintaan anaknya. Lalu ia memilih mangkuk pertama yang tersimpan satu telur di atas permukaan. Lalu mereka makan bersama. Saat mereka makan, dengan egoisnya si anak yakin bahwa pasti tidak ada telur di dalam mangkuk pilihannya. Ternyata perkiraan itu meleset. Ada telur dalam mangkuknya. Dari persitiwa ini, si bapak tersenyum kepada anaknya. Pelajaran moralnya adalah ketika kita berpikir untuk kebaikan orang lain, maka hal-hal yang baik akan selalu terjadi pada diri kita. Oleh karena itu, dalam menghadapi segala peristiwa, selalu berprasangka baiklah kepada siapapun. Tak boleh membenci, dan jangan mengkambinghitamkan orang lain. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy