Pariwara
Muna

Merintis Kameko Jadi Bioetanol, Muna Gandeng LIPI Bentuk Desa Mandiri Berbasis Aren

LA ODE ALFIN / KENDARI POS
BIOETANOL : Wakil Bupati Muna, Malik Ditu (dua dari kiri) bersama Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI (dua dari kanan) dan Prof. Dr. Yani Sudiyani, Penasihat Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol (berhijab) meninjau rumah produksi bioetanol di Desa Bangkali Kecamatan Watuputih, Muna, Senin (10/12).

KENDARIPOS.CO.ID — Pohon aren di Kabupaten Muna bukan komoditas baru. Sayangnya, masyarakat bumi sowite mengenal tanaman tersebut hanya sebagai penghasil nira lalu diolah menjadi minuman keras tradisional. Masyarakat menyebutnya kameko. Pemanfaatan yang salah kaprah itu memantik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggagas pengembangan sumber energi terbarukan dengan mengoptimalkan potensi aren di Muna.

LIPI awalnya tertarik dengan aren Muna saat Bupati Muna, LM. Rusman Emba memaparkan keinginannya pada Juli 2017 lalu bahwa masyarakatnya mengenal aren bukan saja sebagai sumber pembuatan kameko, melainkan sebagai komoditas bernilai jual tinggi. Candu kameko tidak saja menghilangkan potensi positif pohon aren, tetapi juga sudah menjadi pemicu banyaknya kasus hukum di Muna.

Pemkab Muna dan LIPI pun sepakat membangun kerja sama yang diteken Oktober 2017. Langkah konkrit kerja sama tersebut menghasilkan pencanangan Bangkali menjadi desa mandiri berbasis aren yang dilakukan Senin (10/12).  Pencanangan tersebut dihadiri lima tenaga ahli LIPI dan jajaran Pemkab Muna beserta jajaran camat dan para kepala desa. “Ini momentum meningkatkan nilai aren lebih dari sekedar menjadi kameko. Kami menggandeng LIPI karena lembaga ini sangat kompeten membantu masyarakat mengolah aren menjadi bioetanol,” kata Malik Ditu, Wakil Bupati Muna.

Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono berkata, aren sebenarnya komoditas dengan banyak manfaat. Mulai dari akar hingga daun aren bisa diolah. Misalnya, buahnya bisa menjadi kolang-kaling, ijuk bisa menjadi sapu dan daun bisa menjadi anyaman. Agus juga membuka potensi lain dari aren yakni lewat air nira yang dihasilkan. Aren bisa menjadi sumber energi terbarukan yakni bioetanol. “LIPI akan fokus mengembangkan ini di Muna. Kami mulai dengan mencanangkan desa mandiri,” paparnya.

Lebih rinci perihal bioetanol dijelakskan Prof. Dr. Yani Sudiyani dari Penasihat Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol. Sesungguhnya masyarakat sudah terbiasa melakukan penyulingan bioetanol tersebut. Perbedaanya hanya pada pemanfaatan bioetanol yang ternyata justru dimanfaatkan sebagai minuman keras.

“Bioetanol itu sama saja dengan arak menyala istilahnya. Itu sebenarnya bioetanol dengan kadar alkohol 40 persen. Arak itu bisa jadi bahan bakar, tapi di sini justru diminum dan memabukkan,” kata Yani Sudiyani. Ia melanjutkan, untuk menghasilkan bioetanol baik, air nira cukup direbus selama 24 jam lalu didestilasi selama empat jam. Hasilnya menjadi bioetanol berkadar 70 persen yang per liternya bisa menjadi bahan bakar kompor selama enam jam.

Tugas LIPI, kata dia adalah mendorong produksi bioetanol di Desa Bangkali dilakukan secara masif oleh masyarakat. “Kami akan memberi pendampingan. Langkah ini perlu dukungan Pemkab untuk membuka pasar bioetanol supaya masyarakat tidak kehilangan pendapatan. Jadi aren bukan saja kamekonya yang bisa dijual, bioetanolnya bahkan lebih ekonomis,” urai Yani Sudiyani.

Dilanjutkannya, air nira mentah (kameko) per 50 liter bisa menjadi 20 liter bioetanol dengan harga jual Rp.12.000 per liter. Saat ini, LIPI juga sudah memiliki rumah produksi bioetanol di Desa Bangkali yang akan menyerap produksi nira masyarakat. “Langkah awal, kami berikan bantuan 20 unit kompor bioetanol supaya masyarakat sadar bahwa enau bisa jadi bahan bakar energi terbarukan,” pungkas Yani Sudiyani. (ode/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy