KENDARIPOS.CO.ID — Puluhan emak-emak di Kabupaten Muna bersorak sorai sambil merebahkan pohon ke badan jalan viral di media sosial. Dalam aksi itu tampak dua emak – emak menenteng mesin chansaw (Senso) dan lainnya memegang kapak memotong pohon pelindung di samping jalan. Sementara puluhan lainnya terlihat bersorak sambil menerikkan kata “pemerintah sekarang hanya bohong-bohong”.

Aksi emak-emak itu terjadi di Desa Wakumoro, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna. Mereka kesal terhadap Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) yang tidak kunjung menepati janjinya untuk mengaspal jalan poros Raha-Lakapera terutama di wilayah Wakumoro hingga Bea. Aksi blokade itu mengakibatkan arus lalulintas tiga kabupaten yakni Muna, Muna Barat dan Buton Tengah (Buteng) lumpuh total. Tak satu pun kendaraan diizinkan melintas.

Muhammad Pasitoka, koordinator aksi mengatakan, kekecewaan masyarakat Muna khususnya yang bermukim disepanjang jalan poros Raha – Lakapera di Desa Wakumoro Kecamatan Parigi memang sudah memuncak. Tak heran, aksi blokade tidak saja dilakukan kelompok pemuda, melainkan dibantu langsung oleh kelompok emak-emak. “Gerakan kaum ibu itu menunjukkan betapa semua lapisan masyarakat sudah jengah dengan kondisi ruas Raha -Lakapera,” ujarnya kepada Kendari Pos, Kamis (18/11) kemarin.

Ia mengatakan, warga sudah memblokade jalan selama sepekan, sejak Kamis, 11 November. Aksi dimulai dengan hanya membentangkan spanduk dan menumpuk bebatuan di separuh badan jalan. Namun karena tidak kunjung mendapat respons dari otoritas Pemprov Sultra, aksi blokade ditingkatkan dengan membuat galian memanjang di seluruh badan jalan dengan kedalaman 1 meter dan lebar 1 meter.

Tak puas dengan itu, warga dari kelompok emak-emak menebang pohon yang ada di pinggir jalan. Pohon-pohon itu direbahkan hingga menutupi badan jalan. Pasitoka mengatakan, warga memblokade karena Pemprov membatalkan proyek rehabilitasi jalan Raha-Lakapera. Padahal, anggaran pekerjaan jalan senilai Rp6 miliar sudah dialokasikan dalam APBD Perubahan 2021. “Bahkan sudah dilelang dan tinggal dimulai di lapangan. Tapi tiba-tiba muncul surat pembatalan,” terangnya.

Pasitoka menyebutkan, surat pembatalan itu diterbitkan Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Sultra, Burhanuddin dengan tiga alasan yang berdasarkan pada hasil pemeriksaan dokumen kualifikasi dan penawaran rekanan pemenang tender, CV. Cipta Barakati. Alasan pertama, pemakaian asphalt mining plant yang didatangkan dari Pasarwajo dianggap terlalu jauh dan tidak memertimbangkan ketahanan temperatur aspal.

Kedua, adanya penambahan biaya mobilisasi aspal yang timbul akibat jarak tempuh yang jauh. Ketiga, durasi sisa waktu tahun anggaran dinilai terlalu sempit. “Jadi belum ada kepastian, apakah tahun ini poros Raha – Lakapera akan dikerjakan atau tidak. Padahal, komitmen Pemprov harusnya tahun ini diaspal,” jelasnya.

Pasitoka menguraikan, pembatalan itu menunjukkan jika komitmen Pemprov tidak bisa dipercaya. Padahal, sejak aksi blokade dititik serupa yang dilakukan selama lebih kurang sebulan pada Agustus lalu, Pemprov “datang” dengan iming – iming penuntasan pengaspalan jalan tahun ini.

Dengan begitu, Pasitoka memastikan bakal menutup penuh ruas Raha – Lakapera berikut seluruh jalan alternatifnya sebagai bentuk protes masyarakat. Blokade akan dibuka setelah Pemprov menghitamkan jalan tersebut. “Kami tetap pada pendirian agar jalan itu diaspal tahun ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Bina Marga Sultra, Burhanuddin menyampaikan, untuk jalan poros Laiba-Wakumoro, tidak memungkinkan dilakukan pengaspalan di akhir tahun 2021 ini. Waktu yang tersedia sudah tidak memungkinkan.

“Jika tetap dipaksakan, akan menyalahi aturan. Imbasnya bisa jadi perkara hukum. Karenanya, pengaspalan tahun ini ditunda. Kami janji akan terealisasi tahun 2022,” kata Burhanudin kepada Kendari Pos, Kamis (18/11).

Ia meminta warga wilayah Laiba dan Wakumoro agar bersabar. Dan tidak melakukan upaya pemblokiran jalan. Pihaknya juga telah mengutus tim untuk negosiasi, pendekatan persuasif kepada warga untuk membuka akses jalan yang kini ditutup warga.

“Jika kondisi sudah kondusif, kami akan melakukan fungsionalisasi jalan. Tapi dengan catatan, keadaan di lapangan membaik dan warga bisa menahan diri untuk tidak lagi menutup akses jalan. Selanjutnya alat berat dan material akan dikerahkan. Sebagai wujud perbaikan sementara,” ujarnya.

Burhanuddin berjanji tahun 2022, jalan poros Laiba-Wakumoro bakal diaspal. Bahkan ada anggarannya sudah tersedia Rp 33 miliar dari APBN. “Kami menargetkan pengaspalan sudah akan dimulai awal tahun 2022. Karena biasanya anggaran APBN, tendernya lebih awal,” pungkasnya. (ode/ali/b)

Bakal Menutup Penuh Ruas Raha-Lakapera

Tinggalkan Balasan