KENDARIPOS.CO.ID — Kuliner Sulawesi Tenggara yang merupankan warisan leluhur yang wajib dipertahankan untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekaligus melambangkan kearifan dari makanan sehat yang beragam seperti dalam penelitian yang dilakukan Alimudin Indi, mahasiswa Pasca Sarjana S3, Ilmu Para sosiolog dan ahli gizi mendapati temuan bahwa faktor budaya sangat mempengaruhi dalam pembentukan pola konsumsi dan kebiasaan menu makanan di suatu daerah. Salah satunya adalah Provinsi Sultra, yang berada di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Daerah ini punya empat suku adat, yaitu Muna, Buton, Tolaki dan Moronene. Masing-masing memiliki beragam kuliner khas yang disajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Patut disyukuri adalah sumber daya pangan lokal di daerah kita seperti sagu, ubi kayu, dan jagung cukup berlimpah dan telah lama dijadikan pangan pokok lokal oleh sebagian besar masyarakat Sultra. Memiliki warisan leluhur yang wajib dipertahankan yang di kenal dengan Sinonggi, Kasoami, Kambose, dan Kabuto atau di singkat “SIKKATO” untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekaligus melambangkan kearifan dari makanan sehat yang beragam dan eksotis, tangguh, dan simbol tradisi serta budaya.

Diolah secara organik yang ramah lingkungan. Dalam rangka mempertahankan warisan leluhur tersebut maka pemerintah gencar mempromosikan pangan lokal Sinonggi, Kasuami, Kambose dan Kabuto atau “SIKKATO” sebagai panganan khas daerah. Salah satu upaya promosi yakni dengan cara bekerja sama dengan pengelola hotel, restoran dan rumah makan agar menjadikan pangan SIKKATO sebagai menu utama.

Alimudin Indi, (Mahasiswa Program Pasca Sarjana S3, Ilmu Pertanian Universitas Halu Oleo)

Pemprov Sultra, terus berupaya memperkenalkan atau mensosialisasikan pangan lokal tersebut melalui berbagai ajang dan pameran kuliner. “Pemerintah juga memberikan edaran kepada pemilik hotel dan restoran agar menyiapkan menu pangan lokal SIKKATO, agar tamu luar daerah mudah menjumpai pangan tersebut, pangan lokal SIKKATO berbahan nonberas yakni sinonggi berbahan baku sagu, kasuami berbahan baku singkong, kambose berbahan baku jagung, dan kabuto berbahan baku ubi kayu. “Bahkan saat ini sudah banyak rumah makan yang tumbuh menjamur hamper diseluruh sudut kota Kendari dan mereka menyajikan makanan khusus pangan lokal seperti SIKKATO.

Ketahanan pangan merupakan salah satu faktor penentu stabilitas ekonomi sehingga upaya pemenuhan kecukupan pangan menjadi kerangka pembangunan yang mampu mendorong pembangunan sektor lainnya. Ketahanan pangan dibangun atas tiga pilar utama, yaitu ketersediaan pangan, akses pangan, dan pemanfaatan pangan.

Tersedianya pangan secara fisik di daerah bisa diperoleh dari hasil produksi daerah sendiri, impor, maupun bantuan pangan. Analisis mengenai ketersediaan pangan dan akses pangan menjadi tahapan pembangunan yang strategis karena dibutuhkan untuk menelaah kinerja ketahanan pangan di Sultra. “Kemandirian pangan akan mampu menjamin masyarakat memenuhi kebutuhan pangan yang cukup, mutu yang layak, aman dan tanpa ketergantungan dari pihak luar.

Pemprov Sultra sudah membudayakan dan memperkenalkan menu makanan SIKKATO dalam keluarga agar warisan leluhur tetap selalu menghiasi menu makan sehari-hari, bahkan sampai di rumah makan dan restoran, dimana makanan sinonggi yang bahan bakunya terbuat dari sagu yang diperkenalkan masyarakat etnis Tolaki dan Mekongga. Sedangkan makanan kasoami terbuat dari ubi kayu diperkenalkan masyarakat etnis Wakatobi dan Buton.

Makanan kambose terbuat dari jagung, sementara kabuto dari ubi kayu. Kambose dan kabuto diperkenalkan masyarakat etnis Muna. Dengan demikian diharapkan SIKKATO bisa booming seperti makanan-makanan kuliner lainnya yang ada di Kota Kendari, bahkan SIKKATO diharapkan bisa terkenal sampai kemanca Negara,” urainya.(Adv)

Tinggalkan Balasan