ADI HIDAYAT/KENDARI POS
MENJAGA TRADISI : Asisten II Setkab Konawe Taharuddin Saranani (tiga dari kanan) bersama Kepala Kantor Bahasa Sultra, Herawati (empat dari kanan), Ketua Harian DPP LAT Sultra Abdul Ginal Sambari (empat dari kiri), Kadis Dikbud Konawe, Suriyadi (tiga dari kiri), Kades Puuwonua Isman Malik (dua dari kiri) serta anggota Sanggar Tamboinolu Desa Puuwonua, saat pementasan sastra lisan Tolaki.

KENDARIPOS.CO.ID– Perkembangan zaman membuat eksistensi bahasa daerah, tanpa terkecuali bahasa Tolaki, pelan-pelan mulai terdegradasi. Percakapan menggunakan bahasa Tolaki mesti terus digaungkan untuk melestarikan warisan budaya dari para pendahulu.

Di Konawe, upaya pelestarian sastra lisan Tolaki tersebut disadari Pemerintah Desa (Pemdes) Puuwonua, Kecamatan Konawe dengan mendirikan Sanggar Tamboinolu. Potensi pengembangan sastra lisan di desa itu mendapat atensi khusus dari Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Setelah melakukan pemetaan, dari sekian banyak desa di daratan Bumi Anoa, Puuwonua akhirnya dipilih sebagai lokasi pentas revitalisasi sastra lisan Tolaki yang digelar Jumat (5/11).

Kepala Kantor Bahasa provinsi Sultra, Herawati, mengatakan, sastra lisan suku Tolaki menjadi bagian budaya yang mesti dirawat. Sebab ada nilai-nilai kearifan lokal sebagai dasar pembentukan karakter generasi muda. Dewasa ini, menurutnya, anak-anak muda lebih mengenali budaya luar dibanding tradisi sendiri yang sudah diwariskan turun temurun.

Herawati menyebut, sebelum pementasan sastra lisan Tolaki itu digelar, pihaknya terus memonitor latihan pengurus Sanggar Tamboinolu sejak September-Oktober 2021.
“Sastra lisan ini sangat perlu diwariskan kepada generasi muda. Sebab kalau tidak, niscaya suatu saat identitas budaya kita akan hilang. Jangan sampai sastra lisan ini tergerus dan punah,” ujar Herawati dalam sambutannya, kemarin.

Ia menuturkan, eksistensi budaya Tolaki memerlukan dukungan semua pihak termasuk pemangku kepentingan setempat agar secara berkesinambungan melakukan aksi-aksi nyata. Beberapa langkah konkret perlu dilakukan, salah satunya lewat pementasan sastra lisan dengan tujuan membentuk karakter generasi muda yang mencintai budaya daerah.
“Filosofi Kalosara harus ditanamkan kepada anak-anak muda kita. Kita harus saling mendukung dalam upaya pelestarian sastra lisan khususnya suku Tolaki,” imbuhnya. Di tempat yang sama, Asisten II Setkab Konawe, Taharuddin Saranani, menjelaskan, suku Tolaki memiliki persebaran yang besar di 29 kecamatan se-Konawe.

Tolaki merupakan suku asli dari penduduk di wilayah daratan Sultra meliputi Kota Kendari, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Timur dan Kolaka Utara.
“Akan tetapi, seiring perkembangan teknologi yang pesat, telah mempengaruhi keberadaan dan eksistensi bahasa Tolaki. Sebagai bukti, anak-anak lebih banyak komunikasi bahasa Indonesia,” ungkap Taharuddin Saranani. Revitalisasi sastra lisan Tolaki, menurutnya perlu dimanfaatkan untuk merawat kelangsungan budaya hingga ke generasi berikutnya.

Taharuddin Saranani menyebut pentas sastra lisan Tolaki merupakan momentum efektif dalam menggaungkan bahasa daerah yang mulai terlupakan. Harapannya, generasi muda tidak melupakan bahasa daerah dan justru bangga atas warisan budaya itu sendiri.
“Disamping itu, pementasan ini juga dapat menghibur sekaligus menggugah masyarakat agar mencintai bahasa daerahnya sendiri.

Insya Allah kita akan support melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Konawe untuk terus membuat kebijakan dalam rangka mengembangkan sastra lisan Tolaki,” bebernya dalam pentas revitalisasi sastra lisan Tolaki yang turut dihadiri Koordinator KKLP Pusat Perlindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbud RI, Anita Ningrum, Ketua Harian DPP LAT Sultra, Abdul Ginal Sambari, Kadis Dikbud Konawe, Suriyadi, serta Kades Puuwonua, Isman Malik. (b/adi)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.