Dokumentasi Pribadi for Kendari Pos
Muhammad Fachrurozi Zamzami (kanan) menerima hadiah dari panitia seusai dinyatakan sebagai juara I pada lomba MHQ Tingkat ASEAN untuk golongan 30 juz, yang digelar di Kairo, Mesir, baru-baru ini.

KENDARIPOS.CO.ID– Santri asal Kabupaten Kolaka terus membuktikan bahwa wilayah otorita Bupati H Ahmad Safei tersebut merupakan daerah pencetak generasi penghafal Alquran berprestasi. Tak hanya berprestasi di level provinsi atau nasional, santri asal Bumi Mekongga bahkan selalu menjadi juara internasional. 

Terbaru, Muhammad Fachrurozi Zamzami yang merupakan jebolan santri Pondok Tahfiz Quran (TPQ) Al-Hudzaiffiyyah Kolaka yang kini kuliah di Universitas Al-Azhar, berhasil menjadi yang terbaik pada ajang Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Tingkat ASEAN yang dilaksanakan di Kairo, Mesir pada Sabtu (13/11) lalu. Pembina TPQ Al-Hudzaiffiyyah Kolaka, Baharuddin, mengungkapkan, pada lomba tersebut, santrinya itu dinobatkan sebagai juara I hifdzil Quran untuk golongan 30 juz. Ia mengaku sangat bangga atas prestasi yang diraih oleh santrinya tersebut.

“Semoga prestasi ini bisa menjadi penyemangat bagi generasi kita di Kabupaten Kolaka untuk terus mempelajari dan menghafal Alquran. Sehingga, nama Kabupaten Kolaka ini semakin dikenal sebagai daerah pencetak penghafal Alquran berprestasi,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Muhammad Fachrurozi Zamzami. Ia mengaku sangat bangga bisa kembali mengharumkan nama Indonesia, khususnya Kolaka di level Internasional. 

“Semoga dengan prestasi ini saya semakin termotivasi untuk terus mendalami Alquran,” katanya saat dihubungi, kemarin.

Fachrurrozi menjelaskan, lomba tingkat ASEAN itu diselenggarakan oleh Forum Studi Keluarga Madura (FOSGAMA) yang didukung oleh Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang ada di Mesir. Adapun lomba tersebut awalnya diminati oleh berbagai negara yang ada di ASEAN. Namun, setelah melalui proses pendaftaran, hanya sekitar 20 orang yang dinyatakan memenuhi syarat untuk menjadi peserta.

“Sebenarnya saat pendaftaraan online itu sudah banyak yang daftar dari negara lain, seperti Malaysia dan Brunei. Tapi belakangan, ternyata panitia umumkan harus ada pendaftaran offline sehingga banyak peserta dari negara lain yang tidak melanjutkan pendaftarannya,” jelasnya.

Fachrurrozi mengatakan, dalam lomba tersebut pihak panitia tidak menerapkan pembatasan umur pada peserta. “Jadi tidak ada batasan umur. Syarat utamanya itu yang penting peserta merupakan mahasiswa Universitas Al-Azhar. Adapun juri yang menjadi penilai pada lomba tersebut, pihak panitia mendatangkannya dari Yaman,” bebernya. (fad/b)

Tinggalkan Balasan