Agus setiawan/Kendari Pos
Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (baju putih) memantau stok ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sodoha Kendari.

KENDARIPOS.CO.ID– Kota Kendari mengalami deflasi terdalam sebesar 0,70 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,74 pada September menjadi 107,98 pada Oktober tahun ini. Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga pada kelompok makanan. Salah satunya penurunan harga pada komoditas ikan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Agnes Widiastuti mengatakan, jumlah stok atau hasil tangakapan ikan nelayan yang cukup melimpah pada bulan Oktober menyebabkan harga ikan dipasaran menurun. Misalnya, ikan kembung (aso-aso) dan ikan layang (benggol)  yang memberikan kontribusi deflasi masing-masing sebesar 0,12 persen, ikan teri sebesar 0,08 persen, ikan cakalang 0,05 persen dan ikan selar 0,04 persen.

“Penurunan harga juga terjadi pada kelompok sayuran seperti pada bayam dan kangkung masing-masing 0,04 persen,” kata Agnes, melalui keterangan persnya kemarin.

Selain kelompok makanan, penurunan harga juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok transportasi. Pada kelompok perawatan pribadi, komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi, yaitu emas perhiasan 0,01 persen, shampo 0,005 persen, dan tissu, hand body lotion, serta conditioner masing-masing sebesar 0,001 persen.

Sementara pada kelompok transportasi, yang memberikan andil deflasi adalah komoditas angkutan udara sebesar 0,03 persen. Kondisi tersebut, kata Agnes, menggambarkan perekonomian Kota Kendari, dan umumnya Sultra tengah membaik dan menuju pada peningkatan dan perbaikan perekonomian dimasa pandemi saat ini.

“Mudah-mudahan bisa selalu terjaga agar ekonomi daerah bisa terus meningkat dan masyarakat bisa sejahtera,” kata Agnes.

Terpisah, Wali Kota Kendari Sulkarnain Kadir, menyambut kondisi perekonomian daerah yang kian membaik. Menurutnya, deflasi yang terjadi di Kendari menjadi gambaran bahwa perekonomian daerah mulai kearah perbaikan dimasa pandemi saat ini.

Sebagai upaya mengawal perbaikan ekonomi saat ini, pihaknya berkomitmen mengelolah seluruh selurh potensi yang ada. Termasuk memaksimalkan hasil perikanan yang saat ini menjadi prnyumbang deflaso terbesar di Kota Kendari.

“Kita sudah punya perumda (Perusahaan Umum Daerah) yang akan mengelolah seluruh potenai yang ada di Kendari, termasuk disektor perikanan. Karena pada musim tertentu hasil tangkapan nelayan cukup melimpah, ini bisa dikelolah hingga pada kondisi paceklik, ikannya masih tersedia,” kata Sulkarnain Kadir.

Sekedar informasi, dari 90 kota IHK, 22 kota mengalami deflasi dan 68 kota mengalami inflasi. Deflasi terdalam terjadi di Kendari sebesar 0,70 persen dengan IHK sebesar 107,98 dan terendah terjadi di Bengkulu sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 105,89.

Sementara inflasi tertinggi terjadi di Sampit sebesar 2,06 persen dengan IHK sebesar 109,30 dan terendah terjadi di Sumenep dan Banyuwangi masing-masing sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing sebesar 106,21 dan 104,64. (ags/b)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.