HL Eko bawah
Agus Setiawan/Kendari Pos
Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (tengah) saat melakukan penanaman padi sawah di Kawasan Amohalo, beberapa waktu lalu

–Dipicu Kenaikan Harga Barang dan Jasa Konsumsi Petani–

KENDARIPOS.CO.ID– Para petani di Sultra nampaknya harus lebih bijak dalam berbelanja barang konsumsi (selain biaya produksi) saat ini. Itu penting dilakukan agar para pahlawan pangan ini bisa survive (bertahan) dimasa pra panen. Hal tersebut mengacu pada hasil analisis Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra yang mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) menurun sebesar 0,12 persen dari 99,87 menjadi 99,75 persen pada September tahun ini.

Menurut Kepala BPS Sultra, Agnes Widiastuti, penurunan NTP pada September 2021 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian (It) lebih rendah jika dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal (Ib).

Pada September 2021, It naik sebesar 0,05 persen dibanding It Agustus 2021, yaitu dari 107,58 menjadi 107,64. Kenaikan It pada September 2021 disebabkan oleh naiknya It ditiga subsektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,03 persen, holtikultura 2,51 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,62 persen.

“Sementara itu, It pada subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami penurunan sebesar 0,22 persen, dan pada peternakan turun sebesar 0,81 persen,” ungkap Agnes, kemarin.

Sementara dari aspek pengeluaran petani (Ib) pada September 2021, naik sebesar 0,17 persen bila dibanding Ib Agustus 2021, yaitu dari 107,72 menjadi 107,91. Hal ini disebabkan oleh kenaikan nilai Ib pada seluruh subsektor pertanian, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,18 persen, tanaman hortikultura 0,14 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,17 persen, peternakan 0,15 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,18 persen.

“Sehingga kami menyimpulkan NTP di Sultra pada September ini mengalami penurunan karena indeks yang dibayarkan petani (belanja) lebih tinggi yakni 107,91 poin  jika dibandingkan dengan indeks harga yang diterima (hasil penjualan) hanya 107,64 poin,” kata Agnes.

Agnes tak menampik jika penurunan NTP akan berdampak terhadap kesejahteraan petani. Sehingga ia berharap pemerintah bisa segera melakulan pendampingan kepada para petani baik itu melalui peningkatan kemampuan petani maupun pemberian stimulus. Disisi lain, Agnes berharap para petani bisa bijak mengelola keungannya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kendari, Sitti Ganef mengaku pihaknya terus mengupayakan petani di Kota Lulo terkhusus petani padi sawah agar kesejahteraannnya terjamin selama masa pra panen. Salah satu upaya yang dilakukan yakni membantu petani menekan biaya modalnya seperti untuk pembelian benih dan  pupuk termasuk pembelian alat mesin pertanian (alsintan).

“Tahun ini kami sudah siapkan 3 ton benih padi hibrida, kemudian kam juga bantu subsidi pembelian pupuk. Program ini kami berikan kepada seluruh petani khusunya mereka yang memiliki kartu tani. Mudah-mudahan apa yang kami berikan bisa meringankan beban mereka apalagi ditengah situasi Covid-19 saat ini,” kata Sitti Ganef. (ags/b)