Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi

–Epos Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Digagas Masuk Sekolah

KENDARIPOS.CO.ID– Saban 10 November diperingati Hari Pahlawan. Tak sedikit kisah heroik dan perjuangan mengiringi eksistensi bangsa ini dalam meraih kemerdekaan. Perjuangan membebaskan negeri dari belenggu kolonialisme Belanda juga bergelora di Sulawesi Tenggara (Sultra). Adalah Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo. Sultan Buton itu mengangkat senjata melawan penjajah selama 24 tahun, sejak 1752 hingga akhir hayatnya tahun 1776.

Sang Sultan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan surat keputusan Presiden RI Jokowi, bernomor 120/TK/Tahun 2019 tertanggal 7 November 2019 tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Buton ke-XX (1750-1752) dan ke-XXIII (1760-1763).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Asrun Lio, mengatakan Sultan Himayatuddin adalah satu-satunya Sultan Buton yang konsisten melawan kolonial Belanda hingga akhir hayatnya.
Menurut Asrun Lio, penetapan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi menjadi pahlawan nasional butuh proses dan waktu panjang serta energi yang cukup besar. “Saya mengapresiasi segala upaya tokoh-tokoh dan berbagai pihak yang turut serta berkontribusi mewujudkan gelar kepahlawan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, “kata Asrun kepada Kendari Pos, Selasa (9/11) kemarin.

Epos perjuangan dan kepemimpinan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi mesti diwariskan kepada generasi milenial saat ini. Dikbud Sultra telah mendesain program strategis penanaman dan pewarisan nilai perjuangan Sultan Himayatuddin ke sekolah-sekolah. “Kami berupaya memasukan sejarah Sultan Himayatudin Muhammad Saidi sebagai salah satu materi muatan lokal dan pelajaran sejarah di sekolah,” ujar Asrun Lio.

Kadis Dikbud Sultra, Asrun Lio mengimbau guru-guru dan pelajar untuk menulis atau memproduksi karya dalam bentuk apa saja mengenai story maupun histori semangat heroisme Oputa Yi Koo. “Saya mendukung ini dan berharap peran dan kerja sama seniman, wartawan, akademisi, perguruan tinggi untuk menyebarluaskan sosok figur dan kepahlawan Sultan Himayatuddin,” imbuhnya.

Asrun Lio menuturkan Sultan Himayatuddin bergerilya melawan penjajah Belanda. Sebelum masa pemerintahan Sultra Himayatuddin, Kesultanan Buton dianggap sebagai sekutu Belanda karena perjanjian yang dibuat penguasa sebelumnya. Pada perjanjian kedua, Kesultanan Buton harus memusnahkan seluruh rempah (cengkih dan pala), dengan ganti rugi 100 rijksdaalders setiap tahun. Setiap membuat persahabatan dengan pihak luar dan urusan penggantian Sultan Buton harus disetujui Belanda dan Raja Ternate. “Ketentuan yang terakhir membuat Kesultanan Buton menjadi kedaulatan semu. Jadi, apa yang dilakukan Belanda sesungguhnya adalah untuk mengurangi kedaulatan kesultanan serta penindasan dan upaya memiskinkan rakyat Buton (Zuhdi dan Effendy 2015: 58-65),” tutur Asrun Lio.

Sultan Himayatuddin dengan tegas menyatakan tidak mau terikat dan patuh dengan semua perjanjian yang dibuat oleh pendahulunya dengan Belanda, karena tidak menguntungkan Kesultanan Buton. Sikap itu menyulut api permusuhan Belanda terhadap Buton.

Perang Buton versus Belanda dalam ingatan kolektif masyarakat Buton disebut dengan Zamani Kaheruna Walanda atau Zaman huru-hara Belanda. Peristiwa itu digambarkan oleh sastrawan keraton Buton, La Ode Abdul Ganiyu (Kanepulu Bula), dalam karyanya Ajonga Inda Malusa (dalam Zuhdi 1999), seperti berikut: Yinda urangoa tongko bunkena Walanda (Tidakkah engkau mendengar sewaktu keributan Belanda).

Dalam perjalanan gerilya, Sultan Himayatuddin bertemu para petinggi Kesultanan Buton dan menyusun strategi perlawanan. Dia membangun pertahanan di Katapi bersama 40 pengikutnya. Dari Katapi, pindah ke Wakaisua dan membangun benteng. Menghadapi serangan pasukan Belanda, Sultan Himayatuddin pindah lagi ke kawasan belantara Lakasuba.

“Pusat pertahanan terakhir Himayatuddin adalah puncak Gunung Siontapina (kampung Wasuamba). Sejak tahun 1755, tidak lama setelah perang Buton versus Belanda, Himayatuddin tinggal menetap di Siontapina sampai akhir hayatnya tahun 1776,” tutur Asrun Lio.

Sultan Himayatuddin sebagaimana kalangan aristokrasi Keraton Wolio-Buton umumnya memperoleh pendidikan akhlak dan budi pekerti berlandaskan islam. Pendidiknya langsung para orangtua di lingkungan Keraton Buton, yang mengajarkan baca-tulis Alquran, aksara Buri-Wolio, dan beladiri.

Melalui kajian akademik dikemukakan bahwa jenazahnya dimakamkan di Kompleks Keraton Wolio, tidak jauh dari Bukit Lelemangura (tempat makam Sultan Murhum), meskipun forklor (cerita rakyat) menyebutkan kuburan Oputa Yi Koo juga terdapat di puncak Gunung Siontapina (menurut memori atau kesadaran kolektif masyarakat wasuamba dan labuandari). (rah/b)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.