FOTO: MUH. ABDI ASMAUL AMRIN/KENDARI POS
Wakil Direktur Keuangan, Personalia dan Umum Kendari Pos, Agus Tranhadi (tiga dari kiri), Pemimpin Redaksi Kendari Pos, Inong Saputra (dua dari kiri), Direktur Eksekutif Center For Islamic and Global Studies (CIGS) Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate sekaligus Penulis Buku, Yanuardi Syukur (tiga dari kanan), foto bersama usai mengisi podcast di kanal youtube Kendari Pos Chanel, di Grahan Penda Kendari Pos, Rabu (24/11).

Sukses yang diraih Yanuardi Syukur bukan sebuah kebetulan. Dia meretas jalan suksesnya sejak belasan
tahun lalu. Kala masih berstatus mahasiswa.

KENDARIPOS.CO.ID– Pria kelahiran Maluku Utara yang karib disapa Yankur itu meraih sukses berkat kegandrungannya di dunia literasi. Bakat menulisnya sudah muncul saat masih belia. Yankur konsisten menulis hingga kini sembari
mengajar di jurusan Antropologi Universitas Hairun, Ternate, Maluku Utara.

Kesetiaan Yankur merawat bakatnya menjadikannya sebagai penulis andal dan aktif diberbagai lembaga
kepenulisan. Pria 39 tahun yang sedang menempuh studi doktoral di Universitas Indonesia, Jakarta itu
menuturkan kisah menggeluti dunia menulis.

Awal Yankur tertarik menulis ketika masih kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar. Saat itu dia kerap
melihat koran kampus (Identitas), lalu termotivasi menulis ketika membaca tulisan senior-seniornya yang
berbobot dan unik. “Saya berpikir, apakah saya bisa juga seperti mereka. Akhirnya saya mulai mengambil
selembar kertas dan menulis menggunakan stabilo,” Yankur berbagi kisah saat tampil di Kanal Youtube
Kendari Pos Channel di Graha Pena Kendari Pos, Rabu (24/11) kemarin.

Judul tulisan pilihan Yankur kala itu adalah Strategi Sukses Kuliah. Karyanya dipajang di majalah dinding
(Mading) kampus. “Sebagian orang yang membaca menilai usalan saya bagus. Ada juga yang mengabaikan dan
sebagian orang lagi mengatakan ini bagus sekali. Bahkan mereka memotivasi saya untuk menulis artikel
lagi,” ucapnya.

Yankur berbagi kisah sebagai motivasi bagi generasi milenial di Sultra yang punya bakat sebagai penulis.
Mantan loper di Koran Harian Fajar Makassar itu menceritakan, lebih dari lima belas tahun terakhir
hidupnya banyak bergelut dengan dunia menulis dan terlibat aktif dalam kaderisasi penulis di beberapa
organisasi antara lain Forum Lingkar Pena (FLP).

“Ini yang kedua kalinya saya datang di Kendari, Sultra. Pertama kali ke Kendari tahun 2007. Saya
memenuhi undangan Diknas di kota ini untuk melatih menulis. Waktu itu saya bawakan materi dan motivasi
pelatihan menulis dalam forum lingkar pena (FLP) Sultra,” tutur Yankur.

Yankur juga aktif menelurkan karya dan bergabung dalam Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena).”Tahun 2016,
saya bersama beberapa teman mendirikan lembaga kajian Islam dan Global, Center for Islamic and Global
Studies (CIGS), dan saya sekarang menjadi direktur eksekutif di lembaga tersebut,” imbuhnya.

Di kesempatan yang singkat itu, mengaku sempat menjadi loper koran Harian Fajar Makassar. Ia mulai menggeluti
pekerjaan sampingannya itu sambil kuliah. Berbekal sepeda kayuh, Yankur menyusuri jalan kompleks Unhas
mengedarkan koran usai salat subuh.

“Kebetulan cuaca kurang bersahabat. Hujan turun. Tiba-tiba koran yang saya bawa terjatuh dan basah.
Akhirnya saya kena marah oleh atasan. Saat itu hati kecil saya membatin. Hari ini kamu marahi saya, tapi
hari esok moga saya menjadi orang yang sukses,” kisahnya.

Berawal dari kejadian itu, Yanwar akhirnya terus mengasah kemampuannya dalam dunia menulis. Apapun yang
ada dalam gagasannya tentang fenomena kehidupan dan budaya di sekitarnya, dituangkannya dalam bentuk
artikel. Bahkan ia bercita-cita menjadi penulis buku 1000 naskah.

Sampai saat ini pun, Yankur masih aktif menulis artikel untuk Fajar Network (Fajar Online) sembari
kuliah strata tiga. Yankur juga sempat menulis buku di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait
literasi budaya dan kewarganegaraan, serta panduan diplomasi budaya. “Di Kementerian Maritim, saya
menulis buku. Karya saya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan sekarang sudah tersebar ke
beberapa KBRI,” ucapnya.

Buku tersebut dipegang tujuh KBRI bagian dari diplomasi jalur rempah. “Dan sekarang kita support
pengusulan jalur rempah ke UNESCO sebagai salah satu warisan dunia,” kata Yankur.

Di lain waktu, Yanwar juga menulis buku tentang perlindungan anak disetiap suku-suku di Indonesia.
Karya ilmiah Yankur itu sudah dibedah di Yogyakarta. “Beberapa waktu yang lalu, saya ke Australia dalam
rangka program pertukaraan tokoh muslim. Olehnya itu dengan segudang pengalaman ini, saya berpesan kepada
anak bangsa agar eksplorasilah budaya-budaya lokal kita karena budaya lokal yang membuat bangsa kita
maju,” tutup Yankur. (kamaluddin/b)

Tinggalkan Balasan