DOKUMEN KENDARI POS
PENATAAN KAWASAN : Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (menunjuk) mengawasi penataan kawasan kumuh di Bungkutoko-Petoaha beberapa waktu lalu. Terbaru, Pemkot bersama Kodim 1417 Kendari menyulap menjadi kampung warna-warni dengan mengecat 285 rumah di dua wilayah tersebut.

-Setiap Pekan Dikunjungi 5 Ribu Pengunjung

KENDARIPOS.CO.ID– Kawasan Bungkutoko – Petoaha tidak hanya dibebaskan kekumuhan. Berbagai sarana dan prasana penduduk turut dihadirkan termasuk merubah kawasan ini menjadi objek wisata baru. Terbaru, Pemkot bersama Kodim 1417 Kendari menyulap menjadi kampung warna-warni dengan mengecat 285 rumah di dua wilayah tersebut.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir, mengatakan kehadiran kampung warna warni di kawasan Bungkutoko – Petoaha menjadi daya tarik bagi warga metro. Berdasarkan informasi yang didapatkannya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) tak kurang dari 5 ribu warga setiap pekannya berkunjung di kawasan tersebut.
“Banyak warga yang memanfaatkan lokasi tersebut untuk bersantai, jalan-jalan dan berswafoto. Ini sangat baik bagi sektor pariwisata kita. Apalagi di masa pandemi covid-19 saat ini,” kata Sulkarnain Kadir, kemarin.

Tingginya animo warga yang berkunjung Bungkutoko – Petoaha kata Sulkarnain, dapat memicu perputaran uang di kawasan itu. Pasalnya, nasyarakat yang berkunjung tak jarang membeli produk yang dijajakan warga setempat seperti ikan segar, olahan hasil perikanan, dan lainnya.
“Warga setempat kami beri peluang untuk berusaha dan menjajakan dagangannya dikawasan tersebut dengan syarat tetap menjaga kebersihan lingkungan. Data ke Bungkutoko juga gratis, tidak dipungut biaya,” kata Sulkarnain Kadir.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengungkapkan, kampung warna warni lahir merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dengan Kodim 1417/Kendari. Namun untuk penataan kawasan, adalah kerjasama Pemkot dengan Kementerian PUPR melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).

Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Sultra ini yakin penataan Bunkutoko dan Petoaha menjadi tak lain untuk mewujudkan sebuah kawasan yang layak huni bagi masyarakat setempat. “Tidak hanya secara fisik berubah. Tapi juga merubah secara perilaku masyarakat. Kita rapikan wilayahnya sehingga masyarakat malu kalau tidak menjaga kebersihannya sendiri,” kata Sulkarnain Kadir. (b/ags)

Tinggalkan Balasan