KENDARIPOS.CO.ID– Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang digelar Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) adalah momentum yang patut diapresiasi. Bagus. Baik. Bukankah dengan membaca kalam Ilahi mengingatkan mereka akan kebesaran Tuhan. Dengan mengingat kebesaran Allah SWT, mereka akan sadar bahwa segendut apapun PNS tetap saja kecil di mata Allah SWT.

Sebanyak apapun SPPD-mu, tetap saja bernilai kecil di mata Allah. Dengan mengingat kebesaran Allah, sebesar apapun fee proyek yang dikelola, sekalipun fee itu cukup untuk membeli mobil mewah dan rumah gedongan, tetap saja: kecil di mata Allah.

Karena itu, gelaran MTQ KORPRI ini jangan hanya pandang lantang-merdunya suara, tapi pandanglah bahwa orang yang melantunkan kalimat-kalimat Allah, adalah mereka yang boleh dikata memiliki hidayah dari Allah SWT.

Bukankah dengan membaca kalam Ilahi, akan mengingatkan ke-maha-kuasa-an Allah. Dengan mengingat ke-maha-kuasa-an Allah, maka setinggi dan sebesar apapun kuasa seorang PNS, tak ada apa-apanya di mata Allah.

Kuasa presiden? Kecil di mata Allah.
Kuasa Gubernur, Bupati dan Walikota? Keciiill.
Kuasa Kepala Dinas? Hmm apalagi.
Kuasa Kepala Seksi? Alee, ndak ada apa-apanya.

Yakinlah, PNS yang hafalannya 1 juz, 5 juz, 10 juz, apalagi 30 juz, akan memandang bahwa kekuasaan seorang manusia tak ada apa-apanya di mata Allah. Jika Allah mau, siapapun bisa berkuasa. Ini pandangan seorang PNS yang benar-benar kokoh imannya. Sebaliknya, PNS yang rapuh imannya, misalnya kepala dinas yang imannya rapuh, kekuasaan Allah tetap dia akui, bahkan ia dengan lantang mengatakan: tak yang maha kuasa di dunia ini. Allah yang Maha Kuasa. Manusia tak punya kuasa. Begitu digertak akan dilaporkan kepada Gubernur/Bupati/Walikota: ia buru-buru menambahkan: kecuali Pak Gub, kecuali Pak Wali dan kecuali Pak Bupati.

Gelaran MTQ KORPRI patut diapresiasi. Baik. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang di dalam dadanya terdapat 1, 2 juz Al Quran, yakinlah, bahwa anda adalah manusia pilihan. Allah saja menyukaimu apalagi pimpinanmu.

Sebuah riwayat menyebutkan, Malaikat Munkar dan Nakir tak berani memukul seorang pendatang baru di alam kubur, hanya karena di dalam badan orang itu bersemayam Surat Kuluhu (Al Ikhlas). Saat Malaikat Munkar mengayun palu-palunya, Surat Kuluhu berteriak: “Jangan pukul orang ini. Sekalipun orang ini doyan dengan SPPD Fiktif, jangan pukul dia karena jika ia dipukul, saya (Al Ikhlas) akan merasakan sakit pula. Kalau orang ini dipukul, saya akan minta kepada Allah untuk mengeluarkan saya dari Al Quran. Kenapa saya (Al Ikhlas) minta keluar dari Al Quran karena saya (Al Ikhlas) tak bisa memberi safaat kepada orang ini.”

Bayangkan, hanya dengan menghafal dan menyemayamkan Surat Al Ikhlas dalam diri kita, sudah mampu menahan siksaan malaikat. Bagaimanalagi jika dalam diri kita bersemayam 1 juz, 2 juz dst? Bisa jadi, apa yang saya tuliskan adalah riwayat “karang-karang” tapi maksud saya, arahkan pikiranmu ke arah yang baik, petik manfaatnya, buang buruknya. Kenapa?

Karena saya pernah dengan cerita ini dari seorang Kyai. Bedanya, Pak Kyai menceritakan bersemayamnya Surat Al Al Ikhlas dalam diri seseorang ditunjang dengan dalil dari berbagai kitab, sedangkan saya menjelaskannya ala rekaman penjual kain dan sepatu di pasar kagetan: “Murah… Murah… Beli 2 Gratis 1. Terus-terusan bersuara “Murah… Murah… Beli 2 Gratis 1”, dalam hatiku: tidak capek mulutnya orang itu berteriak. Setelah saya dekati: ternyata rekaman radio.

Dengan MTQ KORPRI, yakinlah, karakter dan mental ASN sekecil apapun pengaruhnya tetap saja ada pengaruh. Artinya, seseorang yang menghafal, apalagi jika hafalan itu ia amalkan, maka mestinya, pimpinan ASN dalam hal ini kepala daerah, patutlah memberinya apresiasi. Bayangkan jika kalimat Gubernur, Bupati dan Walikota dilombakan bukankah wahai para kepala daerah akan senang karenanya?

Allah Tuhanmu saja senang kalimatnya dibaca dan dipelajari, apalagi kepala daerah.
Allah Tuhanmu saja memberikan nilai ibadah bagi siapa saja yang membaca kalamnya.
Nah, jika Tuhanmu saja memberi imbalan kepada orang yang membaca kalamnya, apalagi kamu sebagai Hamba-Nya.

Karena itu, bagi seluruh peserta MTQ KORPRI, kalau dia belum punya jabatan, berilah dia jabatan. Kalau dia sudah punya jabatan, minimal pertahankan dia. Allah saja memberi imbalan, apalagi Hmba-Nya. Gubernur kan hamba. Bupati kan hamba Allah. Wali kota juga seorang hamba. Karena KORPRI yang ber-MTQ maka sasarannya adalah jabatan, bukan uang. Karena itu, jangan kasi uang, tapi kasi dia jabatan. Nantilah jika suatu ketika terdapat MTQ Pengusaha, baru kasikan hadiah uang.

Dengan MTQ KORPRI, maka mereka akan eling kemaha-tahu-an Allah. Dengan mengetahui betapa Maha-Tahu-nya Allah, yakinlah mereka akan ter-rem untuk melakukan korupsi. Yakinlah, SPPD Fiktif tak akan terjadi karena mereka tahu, walaupun Inspektorat, BPKP, BPK dan KPK tidak tahu, mereka yakin bahwa SPPD fiktif ini tetap ada yang tahu yakni: Allah SWT. Imbal balik dari ini, maka pemeriksa pun tak akan ngotot-ngotot amat, bahkan mungkin tak mau repot lagi karena mereka yakin bahwa orang yang terperiksa ini bersemayam 5 juz Al Quran dalam dirinya dan tak mungkin dia melakukan hal-hal yan tak diridhai Allah. Wallahu ‘Alam. (nebansi@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan