Sebuah Refleksi


Penulis : Dr.H. Nur Alam, S.E., M. Si. (Gubernur Sulawesi Tenggara 2008-2013 dan 2013-2018)

KENDARIPOS.CO.ID — Kepemimpinan dalam pandangan Kitab Suci Al Quran bukan sekadar kontrak sosial antara pemimpin dengan rakyatnya, namun perjanjian personal antara seorang pemimpin dengan Allah SWT — bersumpah atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah tanggung jawab besar di dunia dan akhirat.

Siapakah orang yang pantas menjadi pemimpin? Apakah setiap orang dilahirkan dengan bakat dan potensi sebagai pemimpin? Jawabannya adalah, tidak setiap orang ditakdirkan memiliki bakat kepemimpinan. Namun, untuk menjadi pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan bakat semata, tetapi juga ilmu dan pengalaman.

Dalam Islam, karakteristik kepemimpinan yang paling ideal dapat ditemukan dalam pribadi Rasulullah SAW. Karena, kepemimpinan beliau berjalan dengan landasan spiritual dalam tataran paling tinggi — dalam bimbingan Allah SWT secara langsung.

Gaya Kepemimpinan

Sosok kepemimpinan seorang kepala daerah merupakan aspek penting dalam organisasi, khususnya dalam ruang lingkup administrasi pemerintahan daerah. Dialah penggerak utama organisasi dan otoritas organisasi terletak di tangannya.

Sebagaimana halnya pimpinan organisasi lainnya, kepala daerah juga dihadapkan pada berbagai situasi dan tantangan dalam memimpin. Diantaranya adalah, bagaimana mewujudkan otonomi secara luas, nyata, dan bertanggung jawab, yang didukung oleh kualitas sumber daya aparatur yang prima, sumber daya keuangan, serta sarana prasarana memadai, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya melalui program dan strategi pelayanan.

Itu sebabnya, seorang kepala daerah dituntut mampu bersikap proaktif dengan mengandalkan gaya kepemimpinan yang berkualitas untuk membangkitkan semangat semua orang yang terlibat dalam tim kerja. Di samping itu, harus mampu menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dan berpartisipasi dalam pembangunan. Kepala daerah adalah seorang kreator, inovator, dan fasilitator dalam rangka efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat.

NUR ALAM

Kita mengenal nama-nama besar pemimpin dunia dengan berbagai tipe dan gaya kepemimpinannya. Ada tipe kepemimpinan otoriter yang dicontohkan oleh Adolf Hitler. Ada tipe kepemimpinan demokratis oleh Mahatma Gandhi. Ada tipe kepemimpinan kharismatik oleh Nelson Mandela, dan ada tipe kepemimpinan militeristik oleh Soeharto.

Lalu, di era saat ini, gaya kepemimpinan seperti apakah yang paling ideal bagi seorang kepala daerah? Apakah cara-cara yang dianut oleh nama-nama besar di atas masih relevan dan masih bisa diterapkan ?

Visi dan misi para kepala daerah terpilih pastilah disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya. Untuk mewujudkan visi misi diperlukan dukungan dan partisipasi publik. Gaya komunikasi akan sangat menentukan berhasil tidaknya seorang gubernur maupun bupati dan wali kota membangun partisipasi publik.

Menurut saya, kita sudah tidak bisa lagi memimpin dengan cara-cara dominan otoriter. Di era demokrasi dan di tengah era informasi yang sangat terbuka seperti saat ini, dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki gaya komunikasi yang dialogis dan interaktif.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang kepala daerah perlu didukung tenaga ahli yang memiliki kompetensi dan keahlian di berbagai bidang. Pola kepemimpinan semacam one man show sudah bukan zamannya lagi. Sangat berbahaya kalau masih menganut pola tersebut. Gaya kepemimpinan sekarang adalah kolaboratif.

Daerah sangat membutuhkan pemimpin yang bisa bekerja keras untuk mempercepat pembangunan di segala lini, agar bisa mengejar ketertinggalan di berbagai bidang sekaligus mengentaskan kemiskinan. Dan hal itu sulit sekali dilakukan kalau hanya bekerja sendiri. Seorang kepala daerah tidak akan bisa maksimal kalau bekerja sendiri, dan pasti mengalami kesulitan dalam mengontrol satuan kerja di jajarannya.

Saat menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), saya sadar betul bahwa, meski posisi saya sebagai orang nomor satu dan memiliki kekuasaan penuh, tapi dalam pelaksanaan tugas tidak mungkin semuanya saya kerjakan sendiri.

Oleh karena itu, sebagai pemimpin, dengan tanpa meninggalkan ruh tanggung jawab kekuasaan, maka tanggung jawab tugas dan pekerjaan selalu saya bagi secara berjenjang kepada semua stakeholder yang terlibat di dalam penyelenggaraan kekuasaan. Tentu saya objektif proporsional (betul-betul membagi tugas dan tanggung jawab kepada orang-orang yang tepat, yang sesuai tugas dan fungsi serta keahlian masing-masing). Tidak sekedar mempekerjakan orang tapi semua otoritas diambil alih.

Dalam memimpin, saya juga menggunakan hati (feeling). SOP adalah prosedur formal yang menjadi pedoman dan diatur dalam UU maupun peraturan dan regulasi yang mendukung. Tapi buat saya, pemimpin seyogyanya juga melibatkan hatinya dalam melaksanakan tugas, mengingat pelaksanaan tugas itu merupakan kombinasi antara kerja fisik materialistik namun digerakkan oleh nilai-nilai spiritual dan moralitas.

Masih jelas dalam ingatan, setiap kali mengikuti upacara bendera, kepala saya selalu dihinggapi percik pikiran yang membuat hati saya berdebar. Bertugas sebagai pemimpin upacara membuat saya sadar bahwa saya adalah orang nomor satu di Sultra. Saya berdiri paling depan dan berhadapan dengan bendera merah putih. Bendera adalah simbol negara.

Artinya, posisi saya terdepan dan utama — berhadapan langsung dengan negara, bekerja untuk negara dan bangsa dengan segenap dedikasi, semangat juang, nasionalisme, dan patriotisme. Orang banyak di depan saya (peserta upacara) adalah cerminan dari masyarakat Indonesia di wilayah kepemimpinan saya.

Ketika melakoni sendiri tanggung jawab tugas kepemimpinan menjadi saat untuk melakukan pemadatan dan proses pengayaan. Semua tugas saya identifikasi dengan tekun dan cermat berikut detail permasalahannya. Setiap pengalaman saya bagikan kepada generasi penerus. Saya membagi fakta dari hasil pengalaman (kerja) nyata, bukan sekedar teori belaka.

Pemimpin Amanah

Menurut saya, untuk menjadi pemimpin daerah yang berhasil menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik, serta dapat mencapai tujuan bersama dengan efektif, dibutuhkan etika kepemimpinan. Etika yang dapat menunjang performa sebagai pemimpin tertinggi di daerahnya.

Selain itu, dia juga harus bisa menjaga amanah — tidak boleh menyalahgunakan posisinya untuk kepentingan transaksional jangka pendek. Amanah bagi seorang pemimpin sangat mahal nilainya, tidak tergantikan dengan uang sebanyak apapun.

Amanah tidak hanya berkaitan soal janji yang harus ditepati. Dalam konteks kepemimpinan, amanah dapat diartikan sebagai meletakkan sesuatu pada tempatnya (objektif proporsional), memberikan jabatan, dan menyerahkan tugas kepada orang yang berhak (sesuai kemampuan dan keahliannya). Pemimpin amanah bukan sebatas amanah dalam menjalankan tugasnya, namun juga dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Kemudian ketika seorang sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan amanat yang disia-siakan? Maka Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” — (HR Bukhari — 6015).

Seorang pemimpin yang baik, selain bisa menerjemahkan visinya dengan baik lewat kerja nyata, dia juga wajib memiliki sifat-sifat utama agar dia bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Sifat utama yang dimaksud meliputi integritas, moralitas, tanggung jawab, komitmen, dan iman.

Selain itu, dalam menjalankan tugas pemerintahannya perlu memiliki etika yang baik, dan memiliki pengetahuan yang lengkap yang mencakup ilmu, moral, dan seni. Ilmu akan menentukan benar atau salah, moral menentukan baik dan buruk dan seni menentukan keindahan dan keburukan. Kombinasi dari semua itu melahirkan sosok pemimpin yang estetik kharismatik.

Keberhasilan kepemimpinan bisa diraih kalau ada andil (dukungan) dari orang-orang di belakangnya. Kepemimpinan yang kuat adalah mampu membangun tim yang hebat — tim yang bisa memberikan kerja maksimal. Memang, untuk membuat rencana kerja yang jelas dan mendapatkan hasil yang sesuai target, serta menumbuhkan loyalitas dan tanggung jawab tinggi dari tim, dibutuhkan karakter kepemimpinan yang kuat.

Jangan lupa bahwa, jabatan sebagai kepala daerah adalah amanah atau kepercayaan dari rakyat yang harus dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Penyimpangan atau penyelewengan atas kepercayaan adalah pengkhianatan. Seorang pemimpin jangan sekali-sekali berani berkhianat. Sejarah mencatat, tidak pernah ada orang yang sukses karena berkhianat.

Akhirnya, karena etika kepemimpinan fokus utamanya adalah perilaku pemimpin maka, ada semacam kode etik baik tertulis maupun dalam praktik yang harus dipatuhi dan diawasi langsung masyarakat luas. Caranya adalah, setia mengemban amanah sebagaimana diperintahkan dalam Al Quran Surat An-Nisa Ayat ke 58:

“Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah Maha Mendengar Maha Melihat,” dan tegas menghindari khianat sebagaimana perintah dalam Al Quran Surat Al-Anfal Ayat ke 27: “Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (NA)

Jangan Lupa

Tinggalkan Balasan