KENDARIPOS.CO.ID– “Prof, saya meneliti tentang dramaturgi pemilih pada pilkada di daerah……..”. Saya lalu suruh untuk menceritakan mengapa mau meneliti tentang topik itu. Mahasiswa itu bercerita, pada pilkada yang dilaksanakan di daerahnya, sejumlah pemilih melakukan sandiwara dengan para tim sukses.

Menjelang saat-saat pencoblosan, tim sukses semakin rajin mendatangi dari rumah ke rumah para pemilih. Mereka mendata nama, alamat, dan jumlah di dalam rumah yang mempunyai hak pilih. Usai mendata, para tim sukses, orang dekat, bahkan calon berjanji bahwa menjelang pencoblosan, akan memberi sejumlah uang. Jumlahnya belum ditentukan. Katanya, di daerah itu sudah diketahui berapa harga pasarannya.

Menjelang pemilihan, ada tim sukses yang menepati janji. Tapi ada juga tidak menepati janji. Jika menepati janji, tim sukses membagikan uang kepada salah seorang anggota keluarga sambil menitip pesan untuk mendukung pasangan calon (paslon), atau foto dan nomor urut paslon. Ada juga yang sudah menitip seperti surat suara lengkap dengan nomor urut.

Lalu saya tanya, fenomena dramaturginya seperti apa. Mahasiswa itu menambahkan, bahwa para keluarga yang menerima uang itu bukan hanya satu paslon, tapi juga dari paslon lain. Jika sudah menerima uang dari berbagai pasangan, maka sebaran untuk pemilihan sudah diatur. Ada yang memilih calon A, calon B, dan seterusnya. Saat bercerita, mahasiswa menyebutkan nama calon bupati dimaksud dengan fasih. Saya jawab, fenomena kamu menarik. Asalkan bertemakan Ilmu Politik, jawabku sebagai Penasehat Akademik.

Yah itulah, pada masa orde baru dikenal dengan serangan fajar, tapi saat ini bukan lagi serangan fajar, tetapi bisa jadi pagi hari, siang, sore, atau malam. Intinya, ada pembagian uang kepada para pemilih. Itu jawaban saya.

“Kualitatif atau kuantitatif, bagusnya mana prof ?
Coba pelajari buku penelitian dahulu. Kira-kira mana yang cocok. Juga hasil-hasil penelitian terdahulu.
“Sudah Prof, tapi bingung”.
“Kalau kamu mau ke kota ingin melihat Jembatan Teluk Kendari, ada 2 alternatif. Jika posisi di Pasar Wua-Wua enaknya lewat mana. Mau ke arah kota atau ke arah Anduonohu. Sebab, keduanya bisa digunakan. Kalau memilih arah kota dahulu maka menyusuri by pass lalu ke arah Kemaraya, Tipulu, masuk Kota lama dan tiba di jembatan dimaksud. Jika ke arah Andunohu tembus Perken, pasar Lapulu dan tiba di jembatan dimaksud. Dalam penelitian juga penting yakni dengan mengumpulkan banyak sumber”.

Itulah petikan dialog saya dengan mahasiswa yang hendak mengajukan judul skripsi. Banyak mahasiswa yang datang asal membuat judul tanpa mengetahui persoalan yang sebenarnya; mengapa itu perlu diteliti, pakai metode apa, teori apa saja yang relevan karena belum banyak membaca litelatur terkait judul yang mau diajukan.

Hasilnya tidak ada dialog yang menarik. Jika terjadi perdebatan, mahasiswa akan mengalah atau sengaja mengalah. Bahkan pada akhirnya menyerah. Banyak yang bilang begini, “Prof, apa judul yang bisa saya pilih”, sambil mengeluarkan kertas kosong lalu ia tulis.

Di depan kelas, saya sering menjelaskan kepada mahasiswa. Bahwa memilih metode penelitian seperti memilih alat. Jika dari pasar, lalu ada ikan habis dibeli, tiba di rumah membersihkan gunakan apa. Ada banyak alat yang bisa digunakan. Ada pisau kecil, pisau sedang, parang, gunting.

Dari semua alat itu mana yang cocok untuk memotong ikan. Yah, tergantung jenis ikannya. Jika ikannya kecil, maka yang digunakan adalah pisau. Jika ukurannya besar maka digunakan parang. Inilah pentingnya tolak ukur.

Tentu saja jika mahasiswa dimaksud terus melanjutkan penelitiannya, maka akan menjadi informasi menarik. Ternyata, para pemilih dengan uang yang mereka sudah terima akan menimbang-nimbang tawaran dari calon sebelum mereka memutuskan yang mana akan mereka dukung. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.