Rahma Safitri/Kendari Pos
Dekan FHIL UHO, Prof. Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M. Si., saat melakukan penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Tapulaga, Kabupaten Konawe, Rabu (24/11).


—Helat Penanaman 100 Mangrove

KENDARIPOS.CO.ID– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan melakukan bakti sosial penanaman 100 mangrove di desa Tapulaga, Rabu (24/11).
Aksi sosial ini dilakukan dalam rangka Hari Cipta Puspa dan Hewan Nasional serta Hari Pohon Sedunia dengan mengangkat tema “Menanamkan Rasa Peduli dan Tanggung Jawab  Sebagai Mahasiswa FHIL  Dalam Merawat Alam dan Menanam Pohon.

Terpenting, penanaman mangrove dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan ekosistem bakau di Desa Tapulaga sekaligus mendorong pengembangan ekowitasa Mangrove di desa Tapulaga Kabupaten Konawe kedepan. Sebanyak 100 bibit pohon mangrove disebar dipesiair pantai desa Tapulaga.

Aksi penanaman ini merupakan kegiatan lanjutan yang sudah dilakukan pekan lalu dengan menanam 500 pohon. Kali ini, dilanjutkan dengan 100 pohon sebab total seluruh pohon mangrove yang harus ditanam adalah 600 pohon. Penanaman mangrove telah menjadi program dalam Laboratorium Lapangan FHIL.
Dekan FHIL UHO, Prof. Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M. Si., mengatakan aksi lanjutan dari penanaman mangrove beberapa pekan lalu tersebut, merupakan salah satu langkah mencapai tujuan guna menjadikan  Tapulaga sebagai desa ekowisata Mangrove. 

“Insya Allah FHIL siap wujudkan Tapulaga sebagai ekowisata Mangrove, ” kata Prof Aminuddin saat membuka acara, Rabu (24/11).

Menurut Prof Aminuddin, program penanaman mangrove sesuai visi FHIL UHO menjadi fakultas yang unggul di Asia Pasifik pada bidang kehutanan dan lingkungan berbasis restorasi ekologi pada wilayah pedesaan, pesisir, dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan tahun 2045. Tentunya desa yang bakal dikembangkan adalah Tapulaga. Terlebih sesuai permintaan Kepala Desa Tapulaga, Marhaban dan Ketua Karang Taruna Desa Tapulaga, Bakri. Mereka berharap FHIL jangan hanya menanam tapi juga memelihara mangrove yang sudah ditanam.

“Insya Allah kita siap. Tapi mahasiswa disini hanya menyelesaikan tanggung jawab karena mata kuliahnya cukup banyak. Tapi saya janji setiap semester saya akan menanam pohon di Tapulaga. Bahkan bila ada program FHIL saya bakal pusatkan di Tapulaga sebab FHIL dan Desa Tapulaga sudah ada MoU menjadikan Tapulaga sebagai desa ekowisata mangrove kedepan. Sehingga mangrove di desa ini bukan saja harus dijaga oleh mahasiswa tapi juga masyarakat setempat,” ucapnya.

Selain itu, program penanaman pohon merupaka salah satu wujud kepedulian dan tanggung jawab FHIL UHO. Sehingga meski dekan dan kepala desa berganti, namun Tapulaga akan tetap bersahabat dengan FHIL.  “Tanamkan kepedulian dan tanggung jawab. Sebab apa yang kita lakukan saat ini sesuai dengan program FHIL Ayo M3PS melalui bingkai 651. Demi terwujudnya alumni berkualitas dan berdaya saing,” tambah Mantan Ketua Senat UHO itu.

Sementara itu, Kepala Desa Tapulaga, Marhaban, mengucapkan terimakasih kepada Dekan FHIL yang selalu berpartisipasi khususnya dengan warga desa Tapulaga. “Saya baru menerima kedatanganya beberapa pekan lalu dan kini berkunjung lagi mengajak para mahasiswanya untuk bakti sosial.

“Alhamdulillah saya sangat antusias sebab ini menjadi satu-satunya desa yang paling sering dikunjungi mahasiswa, ” kata Marhaban.

Ia pun berharap apa yang telah dicanangkan Dekan FHIL UHO, dimana Desa Tapulaga bakal dijadikan ekowisata mangrove bisa terwujud. Masyarakat disini pun bakal mengupayakan hutan mangrove tidak rusak. 

Salah satu Pemateri dalam Kegiatan ini, Dr. Abdul Manan, M. Sc., mengatakan sesuai tema bakti sosial, bagimana menanamkan rasa peduli, cinta terhadap alam melalui penanaman pohon. Tentu untuk mengimplementasikan tema ini kedalam diri peserta,  perlu beberapa teknik.

“Saat ini, program yang senantiasa diwujudkqn adalah bagaimana visi FHIL membangun Tapulaga melalui ekowisata mangrove yang unggul di 2045,” ungkapnya.

Tentu yang harus ditanamkan dalam hati para peserta saat ini bagaimana wujud desa wisata dimasa depan. Bagaimana menumbuhkan rasa peduli akan itu. Sebab kepedulian itu bukan dipikiran tapi dihati.
“Jadi kita harus menyentuh hatinya atau mengempati. Bagaimana empati tehadap alam, empati tehadap bakau. Jadi yang kita tanamkan apa yang harus saya lakukan agar mangrove di Tapulaga ini bisa lestari, ” jelasnya.

Ketua Bem FHIL UHO, Ricky Astawan, menuturkan bahwa sebagai mahasiswa FHIL mereka tak akan lupa untuk selalu berkunjung di Desa Tapulaga. Bahkan saat kesini setidaknya bisa kembali memantau apa yang telah dilakukan FHIL untuk Desa Tapulaga. Kemudian disekitaran Tapulaga ada obyek wisata Toronipa, sekiranya rekan-rekan mahasiswa melalui desa ini, agar berkunjung ke rumah orang tua atau  ketua karang taruna yang dipimpin oleh Bakri.

“Ketika balik dari sini ada cerita tersendiri yang kita bawa. Harapanya jikalau jalan-jalan kesini dua tempat yang sudah saya sebutkan  harus diprioritaskan untuk dikunjungi pertama ketua karang taruna pak Bakri yang selalu memberi motivasi pada mahasiswa untuk cinta lingkungan, kedua Kepala Desa. Jangan hanya ada kegiatan kita ada disini, tapi luangkanlah waktu setiap saat. Bahkan  kalau bisa setiap kita dibutuhkan harus selalu ada,” pesannya. (rah/b)

Tinggalkan Balasan