Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Wisata Kuliner di Sultra

KENDARIPOS.CO.ID — Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan daerah yang kaya akan berbagai hal. Kaya akan tempat-tempat wisata, kaya akan keaneka ragam budaya, serta kuliner yang lazat. Berbicara tentang kuliner Sulawesi Tenggara, daerah ini memiliki makanan tradisional yang merupakan warisan dari orang tua terdahulu yaitu Sinonggi, Kambose, Kasoami dan Kabuto (SIKKATO) yang menjadi makanan khas yang berasal dari beberapa daerah yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Makanan khas memiliki nilai gizi yang baik bagi tubuh, karena diolah tanpa menggunakan bahan pengawet, bahannya diolah secara tradisional dan muda ditemukan diwilayah Indonesia. Selain itu juga tanaman pangan seperti ubi kayu, sagu, dan jagung merupakan komoditas unggulan di wilayah Sulawesi Tenggara sebagai sumber karbohidrat selain dari beras.

Sinonggi, merupakan makanan khas suku Tolaki yang dibuat dari sari pati sagu terbaik. Dari beberapa sumber yang dikutip menunjukkan bahwa sampai saat ini sinonggi merupakan makanan yang sangat populer dimasyarakat Tolaki dan sudah berkembang menjadi makanan yang dikonsumsi oleh semua suku yang ada di Sulawesi Tenggara, selain itu makanan yang bertekstur lembut dan kenyal ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Sinonggi memiliki nilai gizi yang baik bagi tubuh, sebagai mana yang dikutip dari telisik.id bahwa sagu sebagai bahan utama pembuatan sinonggi memiliki kandungan karbohidrat 85,6 % dan 100 grm sagu kering setara dengan 355 kalori.

Kasoami, merupakan makanan tradisional yang berasal dari pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara yang hingga saat ini masih begitu popular dikalangan masyarakat, kuliner satu ini terbuat dari ubi kayu kering/ ketela pohon yang digiling atau diparut, kasoami ini pada umumnya berbentuk kerucut atau gunungan yang berwarna putih agak kekuning-kuningan.

Sawal Sarifudin / G31P21008 (Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian UHO)

Kasuami adalah makanan pokok pengganti nasi dan umumnya menjadi makanan khas para pelaut karena daya tahannya, serta tak mudah basi. Banyak yang menyebut asal muasal makanan ini berasal dari kawasan Kepulauan Tukang Besi yang kini bernama Wakatobi yang terdiri dari sejumlah pulau-pulau yang berderet memanjang dari utara ke selatan.  Dari Wanci, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Pada prinsipnya makanan tradisional “SIKKATO” mempunyai peranan strategis dalam upaya percepatan penganekaragaman konsumsi pangan, hal ini disebabkan bahan baku dari “SIKKATO” tersedia secara spesifik, tempat/lokasi serta resep yang diwariskan secara turun temurun, sehingga makanan tradisional “SIKKATO” dengan beragam unsur pangan lokal dapat dijadikan sarana untuk membentuk penganekaragaman pangan dalam mewujudkan ketahanan pangan Nasional  dan wisata kuliner di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dampak yang paling besar dirasakan oleh masyarakat dengan makanan tradisional “SIKKATO” adalah kesehatan, dimana ‘SIKKATO” diolah dengan memanfaatkan pangan lokal seperti sagu, ubi kayu, jagung dan lain sebagainya tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga baik buat kesehatan tubuh.

Makanan lokal “SIKKATO” sesungguhnya merupakan bentuk kekayaan budaya kuliner masyarakat Sulawesi Tenggara. Keanekaragamannya yang terbentuk atas dasar ketersediaan bahan baku dan kebutuhan lokal, menjadikannya memiliki tingkat kesesuaian yang tinggi dengan kebutuhan masyarakat akan energi bagi tubuh. Konsumsi makanan yang bervariasi baik bagi kesehatan.

Gubenur Sulawesi Tenggara melalui strategi Gerakan Diversifikasi pangan pada tahun 2020 berusaha untuk mengurangi ketergantungan konsumsi beras sebagai karbohidrat. Strategi Kebijakan Diversifikasi pangan pemerintah Sulawesi Tenggara melakukan tiga pendekatan yaitu teknologi, bisnis dan kearifan lokal.

Pendekatan teknologi dilakukan melalui pemanfaatan teknologi pengelolaan pangan dengan memanfaatkan teknologi, bentuk asli pangan lokal yang sudah ada di masyarakat diubah baik tampilan maupun dengan memperkaya nilai gizi yang dikandungnya. Sumber daya pangan lokal di daerah Sulawesi Tenggara seperti sagu, ubi kayu dan jagung cukup melimpah, selain itu juga olahan pangan lokal telah menjadi kuliner khas daerah yang dapat dinikmati oleh pengunjung di Provinsi Sulawesi Tenggara seperti Sinonggi, Kasuami, Kambose dan Kabuto (SIKKATO).

Eksistensi kuliner khas dapat terus ditumbuhkembangkan melalui pendekatan kedua, yakni pendekatan bisnis yang dilakukan dengan pola industrialisasi berbasis korporasi, serta peningkatan kuantitas produksi dan pemasaran bagi para pelaku UMKM di bidang pangan lokal.

Pendekatan ketiga yaitu pendekatan kearifan lokal yang dilakukan dengan mempertahankan kearifan lokal terhadap budaya pola pangan setempat dengan tetap memperhatikan higienitas dalam proses produksi.

Sosialisasi dan promosi kepada masyarakat baik dari kalangan anak muda, orang tua, kelas bawah, menengah hingga kelas atas harus terus digencarkan dengan cara makanan khas daerah ini akan menjadi makanan sehari-hari baik tempat formal maupun non formal untuk menguatkan keyakinan masyarakat bahwa konsumsi pangan lokal perlu dipertahankan, baik dari sisi kesehatan maupun pelestarian budaya.

Ke depan diharapkan aneka tanaman pangan ini dengan ketersediaan lahan yang cukup memadai dapat diolah lebih lanjut sebagai pangan pokok mensubstitusi beras dan terigu sebagai sumber karbohidrat. (*)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.