KENDARIPOS.CO.ID — Polisi terus mengejar pelaku pemerkosa dua anak di bawah umur di Landono, Konawe Selatan (Konsel). Saat ini, penyidik telah mengindentifikasi 14 pelaku. Dari jumlah itu, sebanyak delapan pelaku telah ditangkap dan enam lainnya masih dalam pengejaran dan telah berstatus buron.

“Pelakunya telah diidentifikasi. Beberapa pelaku telah ditangani Polsek Ranomeeto. Makanya, kami masih terus berkoordinasi. Sementara enam pelaku lainnya masih buron,” beber Kanit Polsek Landono, Laode Syahudin kemarin.

Kejadiannya terjadi pada tanggal 16 Oktober lalu. Hanya saja, baru dilaporkan orang tua korban tanggal 27 Oktober. Dari keterangan orang tua korban, anaknya yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP itu, sebut saja bunga (13) dijemput oleh temannya perempuannya Mawar (15) bukan nama sebenarnya, untuk menemani mengambil buku di Landono.

“Pelaku IR Cs (19) menjemput kedua remaja ini, dan membawanya di Gunung Merah. Di sana, ternyata sudah ada menunggu pelaku lainnya. Lalu, kedua remaja ini diperkosa secara bergantian. Informasi yang dihimpun sementara, kedua korban digilir oleh 14 pelaku. Dan terdiri dua titik, di lapangan di kelurahan Landono dan Gunung Merah,” ujarnya.

Kepala DP3APPKB Sultra, Andi Tenri Rawe (baju warna putih, jilbab biru) menyambangi para korban pemerkosaan di Landono, Konawe Selatan (Konsel) akhir pekan lalu. KAMALUDDIN/KENDARI POS

Kasus pemerkosaan ini mendapat perhatian dari Dinas Pemberdayan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) Sultra. Sebagai bentuk kepedulian, Kepala DP3APPKB Sultra, Andi Tenri Rawe turun menyambangi korban didampingi pemerhati pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan ahli psikolog.

“Kami sangat terpukul dengan kasus yang menimpa korban ini. Selain tugas, ini juga bentuk rasa prihatin. Apalagi kita ini perempuan. Makanya, saya bersama mitra perlindungan perempuan dan anak berinisiatif untuk turun langsung,” ujar mantan Pj Bupati Konsel ini.

Tidak hanya memberi bantuan, Andi Tenri Rawe meminta kepada semua pihak untuk mengawal proses hukum terhadap pelaku pemerkosaan itu.

“Disamping itu, terhadap korban, maka wajib mendapatkan perlakuan khusus, baik dari segi kesehatan, pendidikan dan keadilan,” tegasnya.

Untuk masalah penanganan medis, karena korban yang masih anak di bawah umur itu mengalami gangguan kesehatan yang fatal, dalam hal ini alat reproduksi dan daerah vital, pihaknya langsung berkordinasi dengan petugas Rumah Sakit (RS) Konsel agar diberikan pelayanan khusus.

“Kami sudah hubungi Direktur RS setempat, dan alhamdulillah direspon baik. Jadi semua pengobatan dan layanan medis lainnya digratiskan. Untuk layanan pendidikan, kami sudah berkordinasi kepada Dinas Pendidikan untuk memberikan perlakuan khusus,” ujarnya. (b/kam)