Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Wkwkwk. Saya ketawa duluan. Apalagi maksudnya ini. Saya juga tak tahu mau lari kemana ini tulisan. Yang pasti, di sini ketawaku belum tuntas. Masih ada sisa-sisa ketawa. Saya masih fengir-fengir sedikit membaca judul. Fengir ialah: penghujung ketawa ngakak yang panjang dengan posisi gigi terlihat rapat namun bibir tetap tersungging. Nah, itu namanya fengir. Oke. Kita mulai.

Mahalnya kepedulian Pak Kajati. Sekali peduli dihargai Rp 14,9 Miliar. Agar lebih simple penulisan selanjutnya, saya bulatkan saja: Rp 15 Miliar. Darimana duit itu? Dari area tambang ilegal. Hutannya habis, negara tak dapat duit karena tak ada yang peduli. Karena itu, kita harus angkat topi untuk Pak Sarjono Turin yang peduli.

Apa artinya angkat topi?
Mau minta bagian? Tidak.
Mau minta upah pungut? Ndak juga. Lalu?
Angkat topi artinya hormat dengan menunduk sambil buka topi.

La Ode Diada Nebansi

Pak Kajati, Sarjono Turin tak perlu menunduk sebagai hormat balasan, tapi yang diharap masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah, perbanyak dan perluaslah kepedulian itu.Jalan-jalanlah di Mandiodo dan saksikan penambangan illegal di sana. Jalan-jalanlah di Lapao-pao, dan dengarlah istilah-istilah “Penambang Pakai Dokter” dan “Pelakor”.

Awalnya saya kaget, kok Dokter sudi praktek di kawasan hutan. Ternyata, istilah “Penambang Pakai Dokter” artinya Penambang pakai Dokumen Terbang. Sedangkan Pelakor artinya, Penambang di Lahan Koridor.

Dengan sekali peduli, negara dapat duit Rp 15 Miliar. Itupun yang baru ketahuan. Itupun, karena Jakarta mengirim orang untuk jadi Kajati Sultra dan ternyata orang itu: berani, peduli dan tanpa tedeng aling-aling. Pak Sarjono Turin namanya.
Apa karena Pak Kajati ini mantan penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) hingga naluri anti rasuah-nya tinggi? Saya kira tidak. Tapi bahwa, dari sisi integritas, tak mungkinlah lolos sebagai penyidik KPK jika track recordnya ternyata melempem dalam hal penegakan kebenaran dan keadilan.

Oleh karena pernah menyandang status sebagai penyidik KPK, itu artinya, dari sisi integritas Pak Sarjono Turin pastinya berstatus: MS. Apa MS? Memenuhi Syarat. Itu di satu sisi.

Di sisi lain, sebagai penambang illegal yang cerdas, mestinya, stopkan dulu aktifitas. Parkirkan dulu seluruh alat berat. Pasukan exca kumpulkan dulu di kedai kopi. Kira-kira selama dua tahun di-teporombua-kan di kedai kopi. Paling juga menghabiskan kopi siap saji kira-kira kisaran 1 atau 2 tangki sebesar tangki airnya Bapaknya Ida merk penyu.

Stopkan dulu aktifitas tambang illegal. Tunggu sampai Pak Sarjono Turin kembali ke Kejaksaan Agung. Setelah Pak Sarjono balik ke Jakarta, nah, sekarang, mari kita menggaruk lagi. Persoalannya, jika Kejagung belum mau menariknya, maka yang akan berbahagia saya kira orang-orang di Perbendaharaan Negara. Akan banyak duit masuk. Hanya dengan 1xpeduli sudah menghasilkan Rp 15 Miliar.

Bagaimana lagi jika kepedulian itu dinaikkan menjadi kisaran 100xpeduli atau sebanyak perusahaan tambang yang terdaftar di Sultra. Dan, ini sangat potensi.

Kamu ini bagaimana? Pro Pak Kajati atau Pro Penambang Illegal? Dua-duanya saya pro. Kalau kita sepakati untuk menegakkan kebenaran investasi di bidang tambang, kita bersepakat agar pengusaha taat azas terutama dalam hal kebenaran AMDAL, maka mari kita benarkan. Mari kita dukung demi lingkungan yang lestari sembari rakyat menikmati kesejahteraan.

Sebaliknya, jika kebenaran dan penegakkan hukum kalian ngangkangi, maka silahkan kalian jadikan stok tambang alam sebagai bahan bancakan (kata orang Jawa), silahkan kalian gelar haroa (kata orang Muna) di Mandiodo, silahkan kalian pakande-kandeakan di Mandiodo.

Banyaknya lokasi tambang di Sultra, kenapakah hanya Mandiodo yang disebut? Ndak tahu juga. Yang terlintas di kepalaku hanya Mandiodo. Silahkan kalian pesta pora. Tapi ingat, ketika bencana alam melanda, jangan salahkan saya jika saya bentak pemegang gardus peduli bencana banjir di lampu merah karena pasti saya marahi begini: “Minggir. Saat kalian panen dolar di area tambang, kalian tidak pernah berbagi sedekah kepada pelintas di lampu merah yang patut dibantu. Giliran terkena bencana, kalian jinjing gardus peduli bencana area tambang di lampu merah. Sory. Ini bukan kata hati. Ini hanya uneg-uneg. Kata hati tetap mendobrak: bantulah siapapun yang terkena bencana.

Oleh karena sudah terbukti dengan sekali peduli menghasilkan Rp 15 Miliar, kita berharap semoga Jaksa Agung melama-lamakan Pak Sarjono Turin di Sultra. Betul, ini tak bagus bagi Pak Sarjono Turin. Berlama-lama bagi Sarjono Turin, itu sama dengan menghambat karier. Tapi, apalah arti karier personal yang tak mampu menaikan muruah (marwah) institusi.

Andai saya jadi Sarjono Turin, saya lebih memilih mengorbankan karier demi muruah institusi ketimbang karier personalku gemilang tapi institusi rontok di mata rakyat. Cuellah. Terlalu ideal. Bukan. Bukan begitu maksudku.

Maksud saya, kenapakah bisnis tambang ini sudah puluhan tahun, nanti sekarang juga baru agak seru pengetatannya menuju gerbang usaha yang benar? Kenapa tidak dari dulu-dulu ? Karena itu, mari kita fokus memelototi pembenaran melalui Pak Kajati Sultra ini.

Kita abaikan dulu seluruh informasi remeh-temeh yang mengganggu konsentrasi berpikir kita dalam hal pelurusan bisnis tambang. Lupakan dulu, misalnya, lontaran tentang shalat 5x sehari semalam yang disebutkan tak ada perintah dalam kita suci Al Quran.

Kok bisa sih hal-hal seperti ini diangkat ke permukaan. Lontaran seperti itu, apakah memang tujuannya untuk mengganggu sesuatu upaya serius penegakan hukum agar tak diseriusi? Hal-hal begini tak perlu dilontarkan. Sebagai orang yang berkitab suci Al Quran, jangankan perintah shalat 5x sehari semalam, perintah shalat tahajjud saja, ada.

Makanya, ketika muncul berita yang menyoroti shalat 5x sehari semalam, saya langsung googling: orang yang menyatakan ini beragama apa sih? Di Wikipedia, saya tidak temukan. Yang saya dapat, gambar foto orang yang tali pinggangnya di atas pusat. Dalam hatiku, orang ini pasti pelit, karena hasil penelitian face to face-ku selama puluhan tahun, memberi kesimpulan bahwa orang yang tali pinggangnya di atas pusat: pasti pelit. Tapi, tidak semua orang pelit mengenakan tali pinggang di atas pusat.

Untuk yang menyoroti, saya minta, apapun agamamu, tolong baca tuntas kitabmu. Simak dan tuntaskan. Baca dari halaman satu sampai halaman terakhir. Setelah membacanya, kajilah, pikirlah.

Andai kamu pakar, maka dengan kepakaranmu, saya yakin, kamu akan menemukan pernyataan baru lagi dan ketika itu, tak akan ada yang pro-kontra karena itu adalah pernyataan pakar berdasarkan kitab suci yang dibacanya tuntas, bukan berdasarkan hasil googling.

Kenapa saya suruh membaca tuntas kitabmu? Agar kamu tahu, apakah kitab ini benar-benar wahyu dari Allah atau wahyu bercampur karangan manusia. Pokoknya, apapun agamamu, baca tuntas kitabmu.

Seorang intelektual mestinya, sudah mengetahui bahwa, pernyataan seperti ini bukan wilayah pakar telematika atau pakar puzzle, ataupun pakar lainnya tapi ini wilayah pakar agama, pakar Al Quran dan pakar Hadist.

Saya kasi ilustrasi, perhatikan kelakuan ayam jantan di waktu malam dimana pada jam-jam tertentu, mereka ber-kukuruyuk sahut-sahutan dari satu tempat ke tempat lain. Nah, menurut saya, ini ada makna ghaib walaupun kukuruyuk-nya terdengar nyata. Andai ayam bisa bicara, mereka pun pasti akan membukukan kitab sucinya dan ketika zaman sudah modern, lahirlah “ayam arumando” yang meng-googling perintah kukuruyuk 3xsemalam.

Sebagai pakar mestinya berpikir. Kenapa ada perintah “layu” di waktu Magrib terhadap pohon trembesi dan kenapa pula ada perintah “mekar” di waktu Subuh. Kenapa ada perintah kukuruyuk 3x semalam kepada ayam jantan, Kitab suci mana yang membahas ini semua. Kenapa kamu bangga saat swafoto di makam Thomas Alfa Edison hanya karena dia menciptakan lampu tanpa minyak sementara kamu tak pernah bangga dengan sosok yang menciptakan lampu tanpa tiang yang menerangi dunia.

Saya akan bangga jika James Riyadi memberi saya oleh-oleh Jam Tangan dari Amerika. Saya bangga karena diberikan oleh orang berpengaruh, kaya raya dan tempat belinya jauh: di Amerika.

Tapi, kamu tak pernah bangga dengan “oleh-oleh” Shalat yang diberikan Nabi Muhammad dan tempat ambilnya melewati batas dunia yakni: Sidratul Muntaha. Rugilah orang yang bangga dengan oleh-oleh dari Amerika dan mengabaikan “oleh-oleh” dari Sidratul Muntaha.

Bohamma. Kenapa ini tulisan dalari kiri kanan? Supaya dakonek dengan judulnya(nebansi@yahoo.com)

Saya Akan Bangga

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.