Romeo Syahrir

KENDARIPOS.CO.ID– Meski nominalnya belum jelas, namun jumlah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Wakatobi yang bersumber dari pajak dan retribusi pada tahun 2021 ini, masih rendah. Beberapa faktor memengaruhi. Mulai dari faktor ekonomi yang lesu, juga karena kepatuhan masyarakat dan pelaku usaha dalam membayar pajak, masih minim. Meski begitu, target PAD tahun 2022 justru mengalami kenaikan.

Jika proyeksi PAD Wakatobi tahun 2021 sebesar Rp 35 miliar lebih, tahun depan bertambah menjadi Rp 36 miliar lebih. Optimisme untuk menaikan target PAD tersebut, bukan tanpa alasan. Meski pencapaian masih belum maksimal, namun secara agregat, perhitungan target tahun depan bisa meningkat.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Wakatobi, Romeo Syahrir, menjelaskan ada potensi objek yang belum ditarik. Itu menjadi salah satu peluang sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah.
“Rencana kita nanti, yang masuk kategori sebagai objek potensi, akan dimasukan sebagai faktual untuk dipungut. Contohnya pajak bumi dan bangunan (PBB). Misalnya yang sebelumnya diterbitkan jumlah objek sebanyak 60, tapi ada yang diukur baru, maka itu akan kita masukan.

Sehingga itu akan memengaruhi dan meningkat,” terangnya, Senin (15/11). Ia menjelaskan, ada dua sistem penarikan pajak. Pertama, official assessment system yang membebankan wewenang untuk menentukan besarnya pajak. Kedua, self assessment system, yang adalah penentuan besaran pajak yang perlu dibayarkan warga secara mandiri.

“Jadi kalau official assessment itu kita yang mendata dan menentukan jenis objeknya, jenis atau faktualnya sudah masuk atau belum. Yang kedua ini tergantung kondisi daerah, karakteristik objek itu. Ada hal-hal yang memengaruhi fluktuatif penerimanya. Contoh, hotel atau restoran. Kan tidak ada yang menjamin setiap bulan pemasukannya berapa. Ini tidak bisa disamakan dengan PBB,” pungkas Romeo. (c/thy)

Tinggalkan Balasan