Biro Komunikasi Kemenko Perekonomian
Menko Airlangga Hartarto menyampaikan sambutan secara virtual pada seminar nasional moderasi Indonesia dalam mendukung kepemimpinan Indonesia di tingkat global, Senin (15/11).

–Misi Besar Indonesia di Perhelatan Presidensi G20 Tahun Depan–

KENDARIPOS.CO.ID– Indonesia punya misi besar dalam perhelatan Presidensi G20 tahun depan. Menjadi Presidensi G20 tahun depan adalah sebuah kehormatan sekaligus harapan bagi Indonesia untuk turut andil mencari exit policy dari pandemi Covid-19. Namun bagi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartanto bahwa tantangan global tidak akan selesai hanya dengan kehormatan dan harapan saja.

“Presidensi tahun depan harus dimaknai lebih dari sekedar ”ketua sidang” (atau Chair), namun juga pemimpin (leader) yang akan menentukan arah perkembangan perekonomian dunia ke depan,” ujar Airlangga saat menyampaikan sambutan pada Seminar Nasional Moderasi Indonesia: Peran Strategis Muhammadiyah dan Aisyiah dalam Mendukung Kepemimpinan Indonesia di Tingkat Global, Senin (15/11) kemarin.

Menurut Menko Airlangga, Indonesia sudah punya modal dasar yang kuat untuk mencapai tujuan dalam Presidensi G20. Modal dasar itu antara lain pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2021 tercatat 3,51 persen (yoy), tren penurunan kasus Covid-19 masih terus dicapai di Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali, serta angka reproduction rate pandemi Covid-19 pada akhir Oktober 2021 sebesar 0,74 (di bawah 1) yang jauh lebih baik dibanding bulan Juli 2021 yang sebesar 1,35.

Indonesia juga melihat pentingnya pemerataan sentra produksi internasional untuk menguatkan rantai pasok global dan mendorong regional champions di kawasan. Ketergantungan harus dikurangi dan kemandirian harus didorong untuk meningkatkan nilai tambah eksistensi ekonomi di kawasan.
Dalam mendukung ekosistem electric vehicle, Indonesia membangun pabrik baterai mobil listrik di Karawang.

Presidensi G20 diperkirakan dapat meningkatkan konsumsi domestik hingga Rp1,7 triliun, menambah PDB nasional hingga Rp7,4 triliun, dan menyerap tenaga kerja sekitar 33 ribu di berbagai sektor. Dengan sekitar 150 pertemuan sepanjang tahun, manfaat ekonomi yang diperoleh bisa mencapai 1,5 sampai 2 kali lebih besar dari acara IMF-WB Annual Meeting tahun 2018.

Tema besar yang dipilih pemerintah, “Recover Together, Recover Stronger”. Pemulihan di beberapa negara sudah terjadi, tapi masih belum merata dan rentan. Akses terhadap vaksin masih rendah, khususnya bagi Low Income Developing Countries (LIDCs). Indonesia berkomitmen memperjuangkan kesetaraan akses terhadap vaksin dan memberikan kesempatan bagi negara untuk memproduksi sendiri vaksin Covid-19 serta mendorong distribusi yang lebih merata.

Pemulihan yang kuat adalah pemulihan yang inklusif. Ekonomi yang kuat adalah ekonomi yang mampu bertransformasi. Semuanya ini sejalan dengan visi G20, yakni menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, seimbang, berkelanjutan, dan inklusif, serta berkontribusi terhadap upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2022 sebesar 5,2 persen – 5,5 persen.

”Penghargaan yang tinggi kami berikan kepada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas dukungan dan kesediaannya untuk bersama-sama Kemenko Perekonomian dalam menyiapkan Presidensi G20 Indonesia tahun depan. Acara hari ini memiliki dua arti penting. Pertama, sarana sosialisasi dari peluang dan aspirasi Presidensi G20 Indonesia terhadap dunia. Dan kedua, memberikan masukan bagi Pemerintah untuk memaksimalkan manfaat Presidensi Indonesia bagi masyarakat,” imbuhnya.

Muhammadiyah dan Aisyiyah telah banyak memberikan manfaat bagi peningkatan dan kemajuan harkat dan martabat Indonesia sekaligus memberikan warna tersendiri dalam aspek sosial, pendidikan, kesehatan, dan keagamaan yang selama ini menjadi titik tolak gerakannya.

Wujud nyata pengembangan pendidikan yang berakhlak mulia untuk umat dan bangsa, dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan, sosial, dan amal usaha yang dikelola oleh Aisyiyah dan Muhammadiyah. “Kiprah tersebut tentu sangat mendukung tidak hanya peningkatan kualitas manusia Indonesia, namun juga turut mempengaruhi dinamika perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” pungkas Menko Airlangga.

Group of Twenty (G20) merupakan forum koordinasi kebijakan yang lahir sebagai respons terhadap krisis ekonomi tahun 1998-1999 yang merepresentasikan 85 persen PDB dunia, 75 persen perdagangan dunia, 80 persen investasi global dan dua pertiga populasi penduduk dunia. Indonesia menjadi bagian dari forum ini sejak awal dibentuk karena negara G7 melihat bahwa upaya penyelesaian krisis tidak akan efektif tanpa keterlibatan negara ekonomi berkembang yang terdampak oleh krisis tersebut. (map/fsr)

Tinggalkan Balasan