Penulis : Prof. Eka Suaib (Guru Besar Fisip UHO & Ketua AIPI Cab.Kendari)

KENDARIPOS.CO.ID — Relawan politik menjadi salah satu trend dalam dunia politik. Menghadapi Pemilu 2024, didirikan sejumlah relawan politik. Ganjar, membentuk Ganjarist dan Seknas Ganjar Indonesia. Puan Maharani, membentuk Gema Perjuangan Maharani Nusantara. Airlangga Hartarto membentuk Airlangga Hartarto (BARA). Cak Imin, membentuk Relawan Gaspol (Gus Muhaimin Asik Poll). Sandiaga Uno membentuk Relawan Kawan Sandi. Terakhir, muncul Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera alias ANIES.

Kemunculan relawan tidak lepas dari upaya untuk memenangkan kandidat yang akan diusung dalam ajang politik. Relawan politik muncul untuk mengatasi kebuntuan proses kandidasi dalam partai politik (Parpol). Sebagaimana diketahui parpol resmi mengusung kandidat menurut tahapan yang sudah diatur di KPU. Kalau belum ada calon resmi, maka parpol belum bisa untuk melakukan kampanye. Karena belum resmi diusung, relawan politiklah yang merupakan alternatif untuk ‘menjual’ calonnya. Dengan kata lain, turut mendongkrak popularitas dan elektabilitas calon.

Namanya relawan. Yakni fokus untuk membantu orang lain. Tidak butuh balasan materi atau apa saja. Terlibat sebagai relawan karena simpatik dan suka pada figur yang akan diusung. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satu bentuknya yakni berasal dari diri sendiri. Jika terlibat sebagai relawan, maka waktu, materi, dan tenaga dicurahkan untuk membantu calon yang akan diusung.

Prof. Dr. Eka Suaib

Tumbuh dan berkembangnya relawan politik karena kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Melalui platform digital dapat menggandeng banyak pihak untuk mengundang orang ikut dalam relawan. Coba perhatikan konten-konten media sosial (Medsos) menjelang kampanye. Banyak akun-akun yang sudah dibuat.

Saat saya membuka akun facebook (FB), rupanya sudah ada FB Pilwali Kota Kendari. Isinya, ternyata masing-masing relawan bakal calon wali kota sudah saling ‘kampanye’, ‘siut-siutan’,’pasang foto calon’. Macam-macam. Padahal pilwali masih lama, tahun 2024.

Pertarungan akan makin sengit jika tahapan sudah dimulai, para buzzer politik akan semakin ramai melakukan twit, kicauan. Diharapkan dengan kicauan ini akan membuat narasi dan hastag harian hingga dapat dilihat oleh masyarakat. Akibatnya menjadi trending topic, viral dan lain. Keterlibatan mereka, tidak tahu. Apakah gratis, imbalan. Entahlah, tidak ada informasi yang terang benderang.

Relawan politik, jika dikaitkan dengan ilmu politik yakni keterlibatan aktif warga negara dalam kehidupan politik. Jenis partisipasi politik yakni ada yang disebut partisan dan non partisan. Partisan yakni keterlibatan warga dikaitkan dengan lembaga tertentu. Bisa saja berafiliasi dengan parpol, atau cabang dari dari parpol. Non partisan maksudnya bahwa keterlibatannya tidak dikaitkan dengan jalur kepartaian tertentu.

Meski non partisan, bukan berarti ‘bebas dari nilai politik’. Sebab, relawan politik mempunyai tugas yang sama dengan mesin parpol. Yakni sebagai kendaraan dan pengumpul dukungan politik kepada calon. Melalui relawan politik ini dapat mengkonvensi berbagai modal menjadi modal politik bagi calonnya. Konversinya yakni dapat dilkakukan melalui strategi politik modern yang bisa saja agar calonnya calonnya dilirik oleh parpol. Dengan cara demikian, maka relawan politik juga memiliki punya garis politik ke parpol.

Demikianlah, maka relawan politik sebagai salah satu cara bagi kaum muda saat ini untuk terlibat dalam politik. Jadi, kalau orang katakan bahwa saat ini kaum muda apatis terhadap politik, relawan politik sebagai jawaban bahwa sebenarnya kaum muda saat ini tetap aktif berpolitik. (*)

Pertarungan Akan Makin Sengit