Tiga Tahun Hafal 30 Juz, Lulus Seleksi Imam Uni Emirat Arab (UEA)

“Saya tidak menyangka akan sampai pada titik ini. Saya yakin dan percaya, skenario Allah SWT kepada hambanya, penuh dengan kejutan. Intinya, taat pasti bahagia, maksiat pasti sengsara,” ujar Rahmat Ramadhan memulai kisah lulus seleksi imam di Uni Emirat Arab (UEA) kepada Kendari Pos.

KENDARIPOS.CO.ID — Menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Prinsip itulah, yang menjadi pedoman Rahmat Ramadhan dalam mengarungi kehidupan. Pria kelahiran Kendari 10 Januari 1999 ini adalah hafiz Al-Qur’an 30 juz. Tak hanya menghafal menyeluruh isi Al-Qur’anyang terdiri 6.666 ayat, namun ia juga menguasai arti serta tafsir kitab suci umat Islam itu. Termasuk letak ayat dikuasainya.

Rahmat lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Anak dari pasangan Idris dan Irawati itu sejak kecil dididik dengan ilmu agama. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), semangat Rahmat menekuni ilmu agama, kian menonjol.

Tahun 2006, titik awal Rahmat Ramadhan menumbuhkan benih mimpi, bercita-cita menjadi seorang hafiz Al-Al-Qur’an. Ia termotivasi oleh tetangganya, Ustaz Nur Alfiq. Hampir saban hari, indra pendengaran Rahmat disuguhkan lantunan merdu dan hafalan fasih sang ustaz. Rasa kagum pun menyeruak dikalbu Rahmat. Hasrat ingin seperti ustaz Nur Alfiq pun membara dalam di Rahmat.

Rahmat Ramadhan (tengah) pemuda kelahiran Kendari saat meraih gelar juara I MHQ Tingkat Internasional Se Asia Pasifik di Jakarta tahun 2017 di Jakarta. Kini dia bersiap menjadi imam masjid di Uni Emirat Arab setelah dinyatakan lulus seleksi. DOK.PRIBADI

Bisa menghafal 30 juz Al-Qur’an dan fasih melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu menjadi impian Rahmat. Dengan tekad bulat, Rahmat memberanikan diri menemui ustaz Nur Alfiq dan menyampaikan keinginannya. Niat Rahmat diangkat menjadi murid, direspons ustaz Nur Alfiq.

“Kala itu saya kelas 6 SD. Saya datang ke ustaz Nur Alfiq, agar bisa berguru langsung, menghafal Al- Qur’an. Alhamdulillah, beliau menerima saya. Di situlah awal mula memperdalam ilmu tentang Al- Qur’an. Jika orang lain, saya juga pasti bisa,” kata Rahmat Ramadhan saat ditemui di pesantren Tahfidz Baitul Al-Qur’an Al Askar Kendari, kemarin.

Dengan penuh semangat serta ketekunan, Rahmat mulai menghafalkan Al-Qur’an. Mula-mula ia mengalami kesulitan mengingat ayat demi ayat. Namun ia tak berputus asa. Bagi Rahmat, kesulitan yang mendera adalah penyesuaian kebiasaan lama menuju kebiasaan baru.

“Dalam satu lembar hanya bisa hafal enam baris dalam satu hari. Itupun terasa sulit. Saya tetap istikamah. Karena saya meyakini ini bagian dari proses penyesuaian otak terhadap kebiasaan baru. Seumpama pepatah, bisa karena biasa,” ujarnya.

Selain belajar kepada ustaz M. Nur Alfiq di pondok pesantren Tahfidz Baitul Quran Al Aksar Kendari, ia juga belajar kepada hafiz Al-Qur’an alumni Mesir, ustaz La Endre Manna. Lokasi belajar di Masjid Raya Al Kautsar Kendari. Setelah melalui proses yang panjang, Rahmat konsisten meningkatkan hafalan.

Jika sebelumnya, hanya enam baris dalam satu lembar menjadi tiga lembar dalam satu hari. Menurutnya, sesulit apapun langkah yang ditempuh, namun jika konsisten secara terus menerus pasti berhasi. Selama kurun waktu tiga tahun, ia berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 Juz. “Alhamdulillah, saat duduk di kelas 3 MTs saya berhasil menghafal seluruh ayat-ayat Al-Qur’an. Kuncinya, satu, yaitu istikamah dan ikhlas mengharap ridha Allah SWT semata,” imbuhnya.

Berbekal kemampuan itu, Rahmat kerap didaulat mewakili Sultra mengikuti lomba tingkat nasional hingga se Asia Tenggara. Bahkan, ia pernah mewakili Indonesia dan mengukir prestasi sebagai Juara 1 Musabaqah hafiz Al-Qur’an se Asia Tenggara di Jakarta tahun 2017.

Meski berderet prestasi, Rahmat tak jemawa. Ia tetap rendah hati dan tak berpuas diri. Ia merasa ilmu yang diperolehnya masih sangat sedikit. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan kesempatan studi banding ke Jakarta, Bandung, Batam, hingga Kediri. Selama studi banding, ia mempelajari ilmu agama seperti ilmu fiqh, tafsir Al-Qur’an sekaligus belajar bahasa Arab dan Inggris. “Saya bercita-cita kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Dan sempat mengikuti tes, namun tidak lulus karena faktor usia yang tidak sesuai kriteria persyaratan,” kisahnya.

Meski belum beruntung menyandang status mahasiswa Universitas Al Azhar, ia tak patah arang. Berbekal hafalan 30 juz, Rahmat berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Ar Raya Sukabumi, jurusan Bahasa Arab.

Dalam situasi pandemik, kampus menerapkan sistem belajar online. Ia pulang kampung ke Kendari. Selang beberapa lama, ia menerima infomasi dari Kementerian Agama (Kemenag) tentang tes imam masjid yang akan ditugaskan di Uni Emirat Arab (UEA). “Awalnya saya mencoba-coba tes. Sekadar ikut-ikutan. Ibaratnya, menguji kemampuan,” ucap Rahmat sembari tersenyum.

Tes pertama yang ikut andil sebanyak 200 peserta. Yang lulus hanya 89 peserta. Dan ia berada di urutan 86. Ia menceritakan, yang ikut tes notabene orang-orang hebat. Ada alumni Madinah, Yaman, dan kampus-kampus besar ternama di dunia. “Materi tes terbilang sulit. Diantaranya tes kemampuan bahasa arab, ilmu fiqh, tafsir, hafalan Al-Quran dan pengetahuan Islam lainnya,” tutur Rahmat.

Sistem tes tahap pertama menggunakan bahasa Arab. Dewan juri berasal dari Indonesia. Tes kedua, dewan juri berasal dari UEA. Mereka datang langsung ke Jakarta. Dari 89 peserta yang lolos tahap kedua, diterima hanya 23 orang. “Alhamdulillah dari 23 peserta yang lulus tes terakhir, salah satunya adalah saya. Saat itu saya diberikan berkas hasil pengumuman dan arahan mengurus berkas untuk ke UEA. Yang tidak diberikan berkas, dinyatakan gugur,” jelas Rahmat.

Saat ini Rahmat Ramadhan sedang mempersiapkan diri, sembari menunggu panggilan ke UEA. Persiapannya memperdalam ilmu yang dipelajari selama ini dan belajar tentang budaya negara UEA. Semua itu sebagai bentuk persiapan menjadi imam di negara pecahan Arab Saudi itu.

Sementara itu, Ustaz M. Nur Alfiq, menceritakan, Rahmat Ramadhan merupakan salah satu santri pondok pesantren Tahfidz Quran Al Askar Kendari, memiliki kemampuan lebih dibanding yang lain. Semangatnya yang besar, sehingga mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dalam waktu yang cukup singkat.

“Rahmat menghafal, tidak sekedar mengingat ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, dia juga menguasai tafsir dan arti setiap ayat-ayat Al-Qur’an. Dan dia mengetahui dengan baik titik letak penempatan ayat tertentu jika kita baca. Mudah-mudahan Rahmat menjadi ustaz Adi Hidayat-nya Kendari,” harap ustaz Nur Alfiq. (ali/b).

Sedang Mempersiapkan Diri Sembari Menunggu Panggilan ke UEA

Deretan Gelar Juara Rahmat Ramadhan

-Juara 1 Golongan 10 Juz MTQ Tingkat Provinsi Sultra, 2012
-Juara 1 Golongan 20 Juz MTQ Tingkat Provinsi Sultra, 2015, 2016 & 2017
-Juara 1 Golongan 20 Juz MHQ Tingkat Internasional Se Asia Pasifik di Jakarta, 2017
-Juara Harapan 1 Golongan 20 Juz MTQ Tingkat Nasional, 2016 & 2018
-Juara Harapan 1 Golongan 30 Juz MHQ JQH Tingkat Nasional, 2018
-Juara 1 Golongan 30 Juz dan Tafsir bahasa Arab Tingkat Provinsi Sultra, 2021
-Juara 1 Golongan 10 Juz MTQ Tingkat Provinsi Sultra, 2012