Penulis : Sabar, IT Support Media Kendari Pos

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, beberapa desa di Indonesia mulai mengembangkan smart village. Namun, dalam praktiknya belum ada satu kesepahaman mengenai elemen dari smart village, sehingga menimbulkan interpretasi yang berbeda beda mengenai konsep smart village. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mencoba memberikan konsep dasar pengembangan smart village bagi desa-desa di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara.  

Dasar pemikiran  yang digunakan dalam pembahasan ini adalah model-building method yang membangun pemahaman konseptual mengenai suatu fenomena empiris. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) elemen pokok smart village, yakni smart government, smart community dan smart environment. Ketiga elemen itu menjadi dasar untuk mencapai tujuan pengembangan smart village berupa “smart relationship” yakni keterjalinan konstruktif yang muncul dari relasi ketiga elemen smart village tersebut.

Dengan demikian, sinergisitas yang berbasis pemanfaatan teknologi informasi akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Konsep Smart Village dan Smart City

Dilihat dari perkembangan teknologi informasi, konsep smart village tidak bisa dilepaskan dari perkembangan konsep smart city. Alasanya bahwa desa sebagai unit pemerintahan terendah dalam struktur pemerintahan Indonesia juga memerlukan pembaharuan dan adopsi terhadap perkembangan teknologi informasi, sehingga dengan menerapkan teknologi informasi akan mendorong percepatan pengembangan smart city yang tengah dilaksanakan.

Walaupun terdapat korelasi antara konsep smart city dengan smart village, namun persoalannya terletak pada beberapa aspek anta lain : (1) Pendekatan, (2) Posisi Pemerintah, (3) Posisi Masyarakat, (4) Proses Pengembangan, (5) Prioritas sasaran, (6) Prasyarat Keberhasilan, dan (7) Tujuan.

AspekSmart CitySmart Village
PendekatanTop – DownBottom – Up
Posisi PemerintahRegulatorFasilitator
Posisi MasyarakatEnd UserCustomer
Proses PengembanganKolektivitas & integrasi elemen dasar smart cityPenguatan, kesadaran dan pastisipasi terhadap elemen smart village
Prasyarat KeberhasilanPendekatan teknologi menjadi basis utama di mana setiap pihak didorong untuk menggunakan teknologi informasi. sebagai dasar keberhasilan smart cityPendekatan sosial-kultural menjadi basis utama. Adanya identifikasi yang valid erhadap berbagai nilai, karakter, norma dan masalah yang ada di masyarakat menjadi dasarkeberhasilan smart village
TujuanTerwujudnya teknologi informasi yang mampu mencitakan pertumbuhan ekonomi, kemudahan akses informasi dan layanan dasar, sehingga menciptakan peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaanTerwujudnya pemberdayaan, penguatan kelembagaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan yang didasarkan atas pemanfaatan teknologiinformasi
   

Desa merupakan kesatuan unit dari suatu entitas masyarakat yang memiliki karakter dan tradisi yang khas di mana masyarakatnya menjadi bagian terdepan dan penggerak utama embangunan sehingga desa diasosiasikan sebagai kesatuan masyarakat hukum. Desa juga merupakan kesatuan homogenitas masyarakat yang sederhana dengan mata pencaharian homogen.

Desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang homogen tidak bisa disamakan dengan kota dalam adopsi teknologi informasi. Konsep smart city tidak bisa diterapkan di desa dengan mengusung terminologi smart village karena homogenitas masyarakatnya serta lokalitas karateristik dan budaya. Perlu ada upaya konstruksi konseptual yang didasarkan kepada karakteristik desa.

Dari pemahaman tersebut, maka adanya pemanfaatan teknologi informasi di desa ditujukan untuk penguatan kelembagaan masyarakat, pemberdayaan, kelestarian tatanan sosial dan struktur masyarakat perdesaan sebagai sebuah kesatuan hukum yang khas. Atas dasar tersebut, maka upaya awal membedakan pengembangan karakteristik smart village dengan pengembangan smart city dilakukan dengan cara membedakan pendekatan dan tujuan yang ingin dicapai.