KENDARIPOS.CO.ID --Eksistensi sejumlah ritual adat leluhur terus dijaga oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau. Langkah tersebut sebagai upaya memelihara budaya yang sudah ada sejak zaman Kesultanan. 
Salah satu yang baru saja dihelat adalah malam Gorana Oputa, sebagai tanda dimulainya pelaksanaan haroa peringatan Maulid Nabi Besar, Muhammad SAW. 
	
Sepanjang sejarah perjalanannya, ritual Gorana Oputa selalu dilaksanakan di kediaman Kaogesana Lipu (Sultan) yang sekarang bermanifestasi menjadi wali kota. Selain untuk menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, tradisi ini juga sebagai momentum bagi pemimpin mendoakan keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya.
	
"Tradisi Gorana Oputa ini sarat dengan nilai-nilai budaya dan religius yang patut dipertahankan. Pada malam Gorana Oputa ini kita berdoa agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya dan bencana serta diberikan kedamaian serta kesejahteraan. 

Nanti setelah malam Goranana Oputa ini masyarakat baru bisa melaksanakan haroa Maludu,” jelas Wali Kota Baubau, H. AS Tamrin, usai gelaran ritual Gorana Oputa di rumah jabatannya, Selasa (19/10) lalu, seperti dirilis Diskominfo Baubau. 
	
AS Tamrin menyadari, di zaman modern ini, banyak yang menganggap tradisi tersebut sebagai perbuatan bid’a. Namun pihaknya meyakini, tradisi itu mengandung banyak makna. Baik dari sisi budaya maupun religius. Baubau-1 itu berharap, agar tradisi dapat terus dijaga dan dilestarikan hingga generasi mendatang. "Sebab selain menjaga budaya warisan leluhur, tradisi ini juga merupakan bentuk kecintaan serta mengagungkan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai suri teladan bagi umat Islam. 

Selain itu, menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat eks Kesultanan Buton pada umumnya," tandas AS Tamrin. (cok)