Pe-Selfie Koteka ber-SPPD PON, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Pe-Selfie Koteka ber-SPPD PON, Oleh : La Ode Diada Nebansi


Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Apakah yang dibutuhkan publik dari arena Pekan Olahraga Nasional (PON)? Perolehan medali? Ya. Posisi peringkat? Ya. Serba serbi PON? Ya. Lantas mana itu semua? Ndak ada. Saya tidak tahu berapa perolehan medalinya. Daerah apa yang terbanyak medalinya juga saya tidak tahu. DKI peringkat berapa, saya tidak tahu. Sulawesi Tenggara, daerahku, menempati peringkat ke berapa dalam perolehan medali, saya juga tidak tahu. Bayangkan, saya wartawan tapi saya kehilangan berita PON. Kalau wartawan sudah kehilangan berita milik pemerintah, kehilangan berita juang, kehilangan berita “Padamu Negeri”, itu artinya, kegiatan itu menjadi tidak penting tapi wajib ada pertanggung-jawaban publiknya.

La Ode Diada Nebansi

Saya kehilangan informasi PON. Seluruh perangkat media mulai televisi, radio, koran, online, termasuk medsos-medsos, saya tidak menemukan berita PON. Bisa saya temukan, dengan syarat, saya searching khusus. Oww, kalau informasi harus didapat melalui searching, mana ada waktu?. Semakin malas untuk searching berita yang tak penting-penting amat disaat paket data internet yang hanya taputar-putar terus, loading terus, tak pernah terbuka link-nya.

Berusaha mendapatkan berita melalui televisi juga susah. Setiap saya tengok TV, acaranya hanya pertengkaran orang-orang India. Setiap saya melintas di depan TV, acaranya kok ini terus. Saya tanya, acara apakah ini? “Uttaran”. Saya tanya, ada berita PON ndak di TV? Seketika dijawab dengan memperlihatkan berita dari arena PON. Ini ada berita PON di group. Saya perhatikan, ternyata bukan berita tentang peringkat medali tapi foto penonton di tribun stadion yang penontonnya banyak yang pakai Koteka.

Yang saya butuh berita perolehan medali, yang disebar justeru berita Koteka. Artinya, berita PON tak penting lagi, tapi wajib ada pertanggungjawaban. Trus? Bukankah membiayai sesuatu yang tak penting merupakan kerugian? Ya, kerugian tapi tak melanggar hukum. Mumpung belum ada pengetatan anggaran dan hukum, kita mainkan dulu ini PON.

Untuk kepentingan bangsa, gelaran PON memang penting. Tapi, agar produktif dan efektif maka, cabang-cabang olahraga yang tak sanggup masuk 4 besar, janganlah diikutkan. Pokoknya, cabang-cabang olahraga yang hanya mengintai dana Porda dan dana PON sebaiknya di-DELETE-mi saja. Misalnya, Cabang Double Stick, atau cabang-cabang olahraga yang mirip-mirip itulah, karena Bruce Lee sudah tua, sebaiknya tinggalkanmi model-model begitu.

Jika cabang olahraga yang diyakini tak mungkin dapat medali dan harus di-DELETE dari daftar peserta PON, apalagi dengan tim kontingen. Selain pelatih, sebaiknya jammi korang ke PON. Nonton virtual saja. Saya kira, masih lebih irit mengadakan TV 50 Inci lalu nonton bareng ketimbang memperjalankan kontingen yang justru bikin habis nasi. Mestinya ada laporan kejujuran. Misalnya, Bro, selama ko ada di Papua, adakah pengaruhnya dengan Kontingen Sultra ?. Terus, andai kotidak ke Papua, kira-kira Sultra turun peringkatkah? Kalau ternyata tak berpengaruh, lalu untuk apa kamu mencatatkan diri sebagai anggota kontingen?

Jangan sampai pengalaman Mujikan di Perang 10 November di Surabaya terjadi pada kamu di PON Papua. Sekembalimu dari Papua, orang-orang akan menanyakan bagaimana perjuangan atlit di setiap pertandingan dan saya yakin, jawabanmu begini: “Komotau, kita pergi di perbatasan RI-Papua Nugini (New Guinea) ternyata, tidak boleh maso. Biar mau injak saja 20 meter tanahnya Papua Nugini, tiabisa belae. Samoselfi mauku. Tapi dilarang. Tiabisa.” Jawabanmu pasti begitu. Kalaupun meleset, yaa, paling di sekitaran Koteka. Maksudnya apa? Yang ditanyakan adalah kapasitasmu sebagai anggota kontingen tapi jawabanmu justru menggambarkan dirimu sebagai seorang pelancong. Yang ditanya tampilan heroik atlet, bukan persoalan boleh-tidaknya selfie di perbatasan RI-Papua New Guinea.

Jawaban yang melesetkan harapan juga pernah disampaikan Mujikan, mengaku leluhurnya dari Surabaya dan pernah berlama-lama di sekitaran Wakobalu. Almarhum Zainul pernah bertanya kepada Mujikan. “Mujikan! Kamu kan orang Surabaya. Coba koceritakan bagaimana situasi Perang 10 November di Surabaya”. Jawabannya begini: “Woalah Maaaasss. Perang 10 November itu seru buangat. Waktu itu, Banyak Nasi Tabuang-buang lhooo”. Yang ditanya soal heroiknya rakyat Surabaya, jawabannya malah nasi belae. Samami di arena PON, yang ditanya bagaimana PON Papua, jawabanmu soal kesulitan selfie di Papua Nugini.

Karena itu, iven besar sekelas PON, besarkanlah beritanya agar menyemangati masyarakat. Oleh karena PON adalah gawean pemerintah, maka selayaknya, instansi terkait dengan keolahragaan dan informasi mengemas kebesaran PON agar sampai ke masyarakat. Jangan mengharap praktisi media dan pebisnis media karena zaman semono, tak adalagi kegiatan “Padamu Negeri”.

Perusahaan media yang memperjalankan crew-nya di arena PON, pastilah sudah mempertimbangkan benefitnya. Saya perjalankan kamu ke Papua, trus kalau ditemba teroris Papua siapa yang mopergi ambe kau di sana? “Tetap saya pulang sendiri to. Kan tidak kena ditemba,”.(nebansi@yahoo.com)

Tidak Kena Ditemba

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy