SIMAK: Bupati Muna LM. Rusman Emba menyimak pemaparan master plan pengembangan kawasan Mutiara yang disampaikan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Aisyah Gamawati, kemarin (18/10) secara virtual.

KENDARIPOS.CO.ID– Pengembangan kawasan transmigrasi di wilayah Muna Timur Raya (Mutiara), Kabupaten Muna segera dilanjutkan setelah mandek akibat pandemi Covid-19. Daerah yang ditetapkan sebagai kawasan transmigrasi nasional itu akan dikembangkan dengan konsep trans science techno park, metode pambangunan berbasis potensi kawasan dan menitik beratkan pemberdayaan masyarakat. Kawasan Mutiara itu meliputi lima kecamatan; Maligano, Batukara, Wakorumba Selatan, Pasir Putih dan Pasikolaga.

Program strategis Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi itu akan mengelola lahan seluas 30 ribu hektar, yang dipusatkan di SKP A, Kecamatan Maligano, SKB Kecamatan Batukara dan SKP C di Wakorumba Selatan. Direktur Jenderal Pembangunan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Aisyah Gamawati menggariskan konsep trans science teknopark merupakan gagasan baru dalam pengembangan kawasan transmigrasi nasional. Untuk pertama kali konsep itu akan dikembangkan di kawasan Mutiara dan telah dimulai sejak 2017 lalu. Hanya, progres selama dua tahun terakhir sedikit terhambat karena pandemi.

“Kita akan mulai lagi dalam waktu dekat. Sebenarnya sudah ada komunikasi dengan investor, namun terhambat pandemi,” jelasnya saat pemaparan master plan kawasan Mutiara secara virtual yang diikuti wartawan media ini
Tim dari Universitas Gajah Mada juga memaparkan master plan pengembangan kawasan. Diikuti Kemen-PDTT, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kemen PUPR dan Bupati Muna LM. Rusman Emba secara virtual dan langsung.

Ketua Tim Riset dari Fakultas Geografi UGM, Prof. Suratman mengatakan, penelitian di kawasan Mutiara berupa pengambilan data topografi, sosial masyarakat dan infrastruktur sudah dilakukan sejak 2019 lalu. Data tersebut untuk menyusun master plan pengembangan dengan menentukan produk unggulan, desain arsitektur dan detail egineering desain.

Ia mengatakan, kawasan Mutiara akan dibangun dengan pendekatan inovasi dan ekonomi kreatif. Kawasan Mutiara memiliki produk unggulan jagung, cabe rawit, kakao, ayam kampung, itik, kambing dan kelapa. Namun yang potensial secara ekonomi untuk dikembangkan hanya empat produk yakni sapi, kelapa, jambu mete dan jagung. Potensi empat produk unggulan itu meliputi sapi 1.259 ekor, jagung 1.000 ton per tahun, mete dan kelapa 90 ton per tahun.

“Sebaran pengembangannya yakni zona produksi mete dan kelapa di SKP A, zona produksi mete, jagung dan kelapa di SKP B serta zona produksi sapi dan kelapa di SKP C,” paparnya.

Selain produk unggulan, kawasan Mutiara juga akan memiliki gedung sentral sebagai tempat kantor pengelola, pusat produksi, gudang, fasilitas dan publik yang akan ditempatkan di Kec. Batukara.
“Kawasan Mutiara ini cukup potensial karena sudah memiliki akses yang mudah baik dari Kendari ataupun dari Raha. Kondisi sosial masyarakat juga terbilang kondusif sehingga aman untuk investasi. Kendalanya hanya kekeringan,” jelasnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Muna, Fajaruddin Wunanto mengatakan, di kawasan Mutiara kini ditempati 680 kepala keluarga transmigran. Adapun lahan pengembangan pemukiman masih bisa menampung hingga 2.000 KK. Kawasan Mutiara diproyeksikan menjadi pusat ekonomi baru regional. (ode/b)