Penulis: Arniaty DK, S.P.,M. Si (Wakil Ketua BPD KKSS Kota Kendari, Sekretaris Umum FORHATI SULTRA)

KENDARIPOS.CO.ID — Kepemimpinan merupakan bagian penting dalam proses manajemen organisasi. Pemimpin merencanakan dan mengorganisasikan sumber daya yang ada dengan mempengaruhi dan mengarahkan anggota organisasi dalam upaya mencapai kinerja (tujuan organisasi). Zaman terus bergerak, berubah dengan cepat, banyak pemimpin muncul akibat tuntutan dan kondisi lingkungan.


Menjadi seorang pemimpin yang baik pada generasinya tentu menjadi harapan generasi itu. Masa ini adalah masa generasi milenial. Dalam konteks kepemimpinan milenial, tentu kepemimpinan yang efektif akan terwujud apabila pemimpin tersebut memenuhi kualifikasi-kualifikasi sebagai pemimpin yang kredibel, mempunyai kemampuan intelektual dan manajerial, dan visioner dan tentu gaya kepemimpinan sangat menentukan.

Penulis: Arniaty DK, S.P.,M. Si (Wakil Ketua BPD KKSS Kota Kendari, Sekretaris Umum FORHATI SULTRA)

Era milenial secara umum ditandai oleh masifnya penggunaan teknologi dan inovasi digital yang bergerak eksponensial. Karakteristik milenial tentunya berbeda-beda, bisa berdasarkan wilayah maupun kondisi sosial-ekonomi.

Di sebagian negara, pengaruh milenial ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi; meskipun pengaruhnya masih diperdebatkan.

Menurut Bruce Horovitz (2012) William Straus dan Neil Howe dianggap sebagai pencetus penamaan milenial. Straus dan Howe pertamakali menggunakan istilah ini pada tahun 1987, di saat anak-anak yang lahir tahun 1982 masuk pra-sekolah, dan media mulai menyebutnya sebagai kelompok yang terhubung ke milenium baru tahun 2000 (generasi tersebut lulus SMA). Straus dan Howe menulis dua buku. Pertama “Generations: The of History of America’s Future Generations, 1584 to 2069” terbit tahun 1991. Kedua, “Millennials Rising: The Next Great Generation” terbit tahun 2000. Strauss dan Howe percaya bahwa setiap generasi mempunyai karakteristik umum yang akan menjadi karakter generasi itu. Menurtu kedua penulis tersebut, ada tujuh karakter milenial yaitu: spesial, terlindungi, percaya diri, berwawasan kelompok, konvensional, tahan tekanan dan mengejar pencapaian.

Sebagai bangsa yang besar dengan segala permasalahan, Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus diselesaikan. Untuk proses perubahan besar itu, kepemimpinan model lama kurang relevan dan oleh karena itu harus dikoreksi (yang tidak kontekstual) dan dikembangkan Generasi muda.

Indonesia tumbuh pesat bahkan tahun 2030 Indonesia akan mencapi puncak bonus demografi, maka gaya kepemimpinan yang muncul pun harus menyesuaikan ritme dan polanya. Generasi milenial harus dipimpin dengan gaya kepemimpinan milenial.

Muda itu Kekuatan

Dilansir Inc.com, menurut penelitian Pew Research Center tahun 2030 generasi Baby Boomer akan mencapai usia pensiun. Sisi lain, sejak 2014 generasi milenial sudah mendominasi perusahaan-perusahaan, lebih dari setengahnya masuk dalam peran manajemen. Artinya masa depan perusahaan akan diisi oleh generasi milenial. Fenomen demikian, juga terjadi di Indonesia, ada berperan di manajemen perusahaan sampai direktur BUMN, menjadi entrepreneur dengan mendirikan berbagai strat up sebut saja CEO Bukalapak, organisasi-organisasi non pemerintahan (CSO), bahkan politik seperti anggota legislatif, kepala desa, sampai menteri, dan staf Presiden.

Sejumlah fenomena di atas mengingatkan kepada cerita pemerintahan “milenial” Georgia di bawah pimpinan Presiden Mikheil Saakashvili yang “naik tahta” di umur 37 tahun menggantikan Eduard Shevardnadze, melalui sebuah revolusi damai bernama Revolusi Mawar. Saakashvili membangun Kabinet yang didominasi menteri berusia 30-40 tahun, menyisakan sedikit beberapa senior sebagai penasehat, dan mengirimkan pesan bahwa para pemimpin “tua” yang dianggap lamban dan koruptif sudah saatnya keluar dari percaturan kebijakan publik. Hal yang sama terjadi di Selandia Baru dan Islandia, dimana pemimpinnya masih muda namun dianggap berhasil menangani Covid 19 dan menjadi barometer contoh keberhasilan kepemimpinan penanganan pandemi. Dalam konteks yang lebih besar lagi, Malala dan Greta Thunberg, dua tokoh usia lebih belia dari generasi milenial tetapi menjadi ikon; Malala ikon perdamaian dan Greta ikon penyelamatan lingkungan yang diakui oleh para senior dan pemimpin Negara bahkan pemimpin keagamaan.

Fenomena universitas di berbagai negara pun tidak luput, termasuk Indonesia ketika di usia muda menjadi dekan atau rektor. Contoh, Anies Baswedan terpilih menjadi Rektor Universitas Paramadina di usia 38 tahun (2007), Arif Satria terpilih jadi Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB di usia 39 tahun (2010) sekarang adalah Rektor IPB.

Begitupula dalam peran perputaran ekonomi digital didorong oleh para milenial seperti yang Tokopedia, dan Bukalapak, Kesenjangan industri transportasi ditangani secara serius oleh Gojek dan selama pandemi menjalani peran instrumental untuk pemulihan ekonomi masyarakat, peran bantuan sosial berskala besar diinisasi secara lebih efektif oleh institusi seperti Kitabisa ketimbang lembaga formal. Termasuk inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM dilakukan oleh start-up seperti Investree atau TaniHub.

Mereka berkontribusi, setidaknya mencegah paradoks young country, old leaders. Satire yang ditulis oleh Sanjay Kumar, Direktur Mittal Institute, Universitas Harvard sebagai sebuah kondisi yang ditengarai akan menciptakan kondisi dimana negara tidak bisa memenuhi harapan dari kebanyakan masyarakatnya yang mayoritas sudah berusia muda.

Apapun dinamikanya, kiprah kaum muda telah eksis dan akan terus bergerak sebagaimana dipotret Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our Time is Now, Young People Changing The World” bahwa abad 21 adalah abad kaum muda beserta kiprah yang dapat mereka lakukan kepada perubahan dunia.

Menjadi Pemimpin Milenial

Sensus Penduduk tahun 2020, penduduk Indonesia didominasi Generasi Z. Totalnya 74,93 juta (27,94%) dari total penduduk Indonesia 273,5 juta. Generasi Z adalah penduduk berusia 8 hingga 23 tahun. Belum semua usia Generasi Z produktif, tetapi sekitar tujuh tahun lagi seluruh Generasi Z akan masuk usia produktif. Komposisi terbesar selanjutnya adalah kaum milenial sebanyak 69.38 juta (25,87%). Milenial inilah yang sudah masuk usia produktif. Sebagai informasi, populasi millenial didalam sebuah organisasi atau institusi telah mencapai rata-rata 50-60 persen, dan diperkirakan jumlah ini akan terus tumbuh hingga 75 persen di tahun 2025.

Disini kita perlu hati-hati menangani persoalan milenial, jika salah asih, salah asuh dan salah asah, atau dengan kata lain salah kepemimpinan, bisa dipastikan apakah perusahaan, CSO, pendidikan, sampai pemerintahan, tinggal menunggu waktu akan tergilas dalam persaingan, dan ditinggalkan oleh para talenta terbaik. Tentu, menjadi seorang pemimpin milenial yang baik menjadi satu tantangan yang kritis. Mencari pemimpin yang tepat untuk masa sekarang dan akan datang menjadi tantangan yang harus dipenuhi untuk bangsa ini. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, bukan lagi faktor senioritas.

Ada empat cara kepemimpinan yang relevan untuk para millennial sebagaimana ditulis oleh Jazak Yus Afriansyah dalam buku Lead or Leave It to Millennials. Pertama adalah, bangkitkan mereka dengan cara encouraging ideas atau mendorong mereka menyampaikan ide-ide kreatif dan inovasinya. Ingat generasi milenial sangat loyal terhadap kepentingan mereka. Ini berbeda dengan Generasi X yang sangat loyal dengan perusahaannya, atau berbeda dengan Generasi Y yang loyal dengan profesinya. Kedua, berikan sentuhan modifying ideas atau modifikasi ide-ide mereka, mengapa? karena, meskipun generasi milenial ini sangat kreatif dan inovatif, jelas tidak semua ide-ide mereka applicable atau bisa dilaksanakan. Ketiga adalah providing feedback atau menghadirkan umpan balik bagi mereka, cambukan ini begitu berdaya guna memastikan para generasi muda ini terus membara dengan motivasinya sehingga mereka akan mulai mengaum kembali. Keempat adalah give alternative and limited direction artinya, beri mereka alternatif dan arahan atau perintah yang terbatas.

Lantas, bagaimana gaya kepemimpinan milenial yang memungkinkan berhasil: (1) pemberdayaan anggota. Salah satu yang paling menonjol dari kepemimpinan milenial adalah mampu merangkul anggota dengan baik layaknya keluarga; (2) berkomunikasi dengan anggota tanmpa sekat dan protokoler (berbelit-belit). Generasi milenial sangat senang berkomunikasi dengan orang-orang, terutama dengan anggotanya ketika ia menjadi seorang pemimpin. Selain itu, generasi milenial juga sering kali mengekspresikan pikiran mereka secara terbuka, sehingga sangat nyaman untuk saling bertukar pikiran; (3) respon cepat. Pemimpin milenial cepat tanggap dalam mempertanyakan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan misalnya kebijakan; (4) daya kreatifitas dan inovasi yang tinggi. Generasi milenial selalu dicap dengan generasi yang penuh kreattifitas dan inovasi yang tinggi; (5) kolaboratif. perbedaan yang menonjol dari gaya kepemimpinan milenial dengan generasi baby boomer adalah terletak dalam penekanan kolaborasi. Setiap orang dapat berbagi pendapat dan berkolaborasi ketimbang fokus pada hierarki.


Sekali lagi, bukan senioritas yang harus di dahulukan, tetapi kemampuan (kapasitas maupun manajemen), integritas dan komitmen pengabdian. Umur hanya angka, jadi sekalipun masih muda jika punya portofolio yang kuat, why not.!!(*)