–Menyampaikan Informasi Berdasarkan Fakta


KENDARIPOS.CO.ID — Kemajuan teknologi informasi begitu deras. Salah satu dampaknya adalah informasi hoaks berseliweran di berbagai platform media sosial. Berbekal gawai, netizen sangat mudah memproduksi informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya. Bahkan bernada provokasi dan mengarah pada penggiringan opini publik yang keliru.

Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra), Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya mengatakan, merebaknya kabar hoaks di laman media sosial harus diperangi. Akibatnya bisa sangat fatal, salah satunya bisa menyulut konflik antarmasyarakat. Ia menambahkan, fenomena hoaks di Sultra kadang dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi.

Irjen Pol Yan Sultra Indrajaya

“Kepolisian sangat membutuhkan rekan-rekan jurnalis. Hadirnya media massa sangat penting bagi pembangunan kualitas masyarakat. Khususnya dalam menyampaikan informasi berdasarkan fakta, seperti menginformasikan situasi Kamtibmas di Sultra,” kata Kapolda didampingi Pejabat Utama (PJU) Polda Sultra saat Coffee Morning bersama insan pers di aula Polda Sultra, Kamis (30/9).

Kabid Humas Polda Sultra, Kombes Pol Ferry Walintukan menambahkan, saat ini, Polda Sultra meningkatkan kinerjanya melalui tim Cyber Troops, yang belakangan dikenal dengan nama polisi virtual. Cyber Troops ini bertugas, memantau aktivitas akun-akun media sosial yang dirasa meresahkan. Entah itu mengandung SARA, hoax dan apapun itu yang berpotensi menimbulkan konflik, sehingga polisi mengawasi aktivitas warganet di jejaring dunia maya.

“Tugas dan fungsi dari Cyber Troops yang dimiliki Polda Sultra, senada dengan arahan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo dalam Surat Edaran Kapolri Nomor SE/2/II/2021. Cyber Troops tidak hanya dari Bidang Humas, namun juga melibatkan personel dari Ditreskrimsus, Ditreskrimum, Dit Intelkam dan Bid TIK Polda Sultra,” jelas Kombes Pol Ferry Walintukan.

Hal tersebut senada dengan arahan Kapolri yang meminta untuk meningkatkan perhatian di ranah digital. Polda Sultra telah siap. Kita ada Cyber Troops yang salah satu tugasnya mengumpulkan akun atau berita yang mengandung SARA dan hoaks atau tidak benar, dan informasi tersebut kami laporkan ke Cyber Mabes Polri atau kami beri peringatan. Namun jika akun tersebut anonymous, kami proses take down,” kata Kombes Pol Ferry Walintukan.

Dirinya menuturkan, sudah ada beberapa akun yang di laporkan dan di-take down. Alasannya karena memposting informasi yang tidak benar bahkan memprovokasi. Kebanyakan dari akun tersebut anonymous. Kombes Pol Ferry menjelaskan polisi virtual untuk mencegah tindak pidana Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). “Kehadiran polisi di ruang digital merupakan bentuk pemeliharaan Kamtibmas agar dunia siber dapat bergerak dengan bersih, sehat dan produktif,” ujarnya.

Apabila ditemukan konten yang terindikasi melakukan kesalahan, tim langsung mengkaji bersama ahli pidana hingga ahli ITE. Hal itu untuk mewujudkan subjektivitas polisi dalam menilai suatu konten di internet. “Jika ada informasi yang dianggap tidak benar, maka tim polisi virtual akan mengirimkan pesan langsung ke pemilik akun. Jika beberapa kali pesan masih belum direspons, maka tim akan memanggil pemilik akun untuk diklarifikasi. Upaya penindakan dilakukan sebagai langkah terakhir,” terang Kombes Pol Ferry Walintukan. (ndi/b)