Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Saya suka caramu Jenderal. Dan, memang harus disuka karena sikap Jenderal. Dalam struktur resmi masih berpangkat Brigadir Jenderal, tapi saya sebut saja Jenderal sebagai penghormatan kesukaanku atas sikapmu. Saya suka karena saya juga seperti itu. Demi sebuah kebenaran dan keadilan, risiko saya siap. Risiko apapun. Saya takut dengan lelaki bertato, tapi demi kebenaran dan keadilan, tatomu saya anggap nggori.

Karena sudah ada Jenderal Junior, saya kok berkeyakinan akan ada Jenderal Senior yang bersikap dan bertindak sama. Entah untuk urusan kebenaran dan keadilan apalagi selanjutnya. Kenapa seperti itu, karena di Sabang Merauke, potensi atas perlakukan ketidak-adilan begitu subur dan tumbuh.

La Ode Diada Nebansi


Maraknya bisnis tambang, memungkinkan untuk terjadi konflik ketidak-adilan sangat terbuka lebar. Maraknya bisnis properti juga memungkinkan terjadinya penindasan. Maraknya investasi perkebunan, lebih berpotensi meletupkan disharmoni di masyarakat. Jangankan hal-hal besar seperti itu, hal-hal kecil saja dalam urusan lahan parkir misalnya, kita sudah sama menonton betapa konflik hebat bisa terjadi.

Saya suka caramu Jenderal. Saya suka karena jauh hari kamu telah mempersiapkan diri dengan mengalisa kemungkinan munculnya Tantangan, Gangguan, Hambatan dan Ancaman. Pokoknya, risiko apapun yang akan terjadi dengan sikap yang anda tunjukkan, saya suka itu, Anda sudah siap. Diperiksa, siap. Nonjob, siap. Dimutasi, siap. Kenapa siap? Ndak usah dijelaskan.

Dari rona wajah Anda sudah “melapor” bahwa Anda bersikap seperti itu demi kebenaran dan kebaikan. Tanpa kamu katakan, rona wajahmu sudah melapor. Saya tahu, Anda akan mengatakan bahwa benar belum tentu baik dan baik belum tentu benar. Kok bisa? Agar anda paham saya kasi contoh. Sebagai orang Timur, ketika anda ditanya: “Dari Mana?” Anda jawab : “Dari Belakang”. Jawabanmu benar tapi tidak baik. Ketika Anda ditanya: “Dimana Rumahmu?” Anda jawab: “Rumahku saya ndak bawa”. Jawabanmu benar, tapi tak baik dari sisi etika. Artinya, baik tapi tak benar.
Ketika anda menjalankan shalat Subuh 4 Rakaat, sesungguhnya itu baik tapi tak benar. Dan seterusnya. Saya tahu, Jenderal Junior sedang memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan.

Jenderal? Teringatlah saya kegelisahan masyarakat lima desa di daerah kelahiranku, Muna Barat. Tanah ulayat mereka, tanah tempat mereka bercocok tanam tersiar kabar akan dicaplok sebuah perusahaan perkebunan. Mereka gelisah. Mereka melapor ke mana-mana. Mereka unjukrasa. Bayangkan. Bayangkan, ada orang tua yang tak pernah pegang toa microfon tiba-tiba memegang toa dan dia kaget. Dikirinya kantofi tempat menanak kabuto di Muna, atau tempat memasak kasuami di Buton, dan mungkin tempat menanak thiwul bagi orang Jogja. Saya tidak tahu apa Bahasa Indonesianya Kantofi, tapi bentuknya memang mirip toa mikrofon yang terbuat dari anyaman daun kelapa.

Bukan Kantofi-nya yang problem, tapi kesungguhan para orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh pemuda yang mempertahankan tanah ulayat dan tanah tempat mereka berkebun dari sergapan investor perkebunan di atas lahan yang sempit. Bagaimana mungkin investor perkebunan yang membutuhkan lahan dengan hitungan break even point minimal membutuhkan lahan seluas 68 ribu hektar ujug-ujug akan membuka perkebunan di daerah yang ketersediaan lahannya hanya 3 ribu hektar? 3 ribu hektar adalah luasan yang sangat jauh dari target luas lahan 68 ribu hektar untuk mendapatkan break even point.

Bukan break even point-nya yang problem tapi ketika seluruh lahan itu diambil oleh investor perkebunan, lantas, dimana masyarakat akan berkebun? Memisahkan kebun sebagai pekerjaan yang sudah turun temurun dengan masyarakat, itu artinya, pemiskinan dan penyengsaraan rakyat. Oleh karena di sana tak ada sosok yang berkirim surat dan menggetarkan dan mengagetkan, itulah sebabnya hingga kasus ini tak masuk TV dan tak pula diupload di Youtube. Tapi ini jangan salahkan siapa-siapa karena jangankan meng-upload di Youtube, menelepon via HP Kore saja, kresek. Tak percaya? Ya, silahkan anda berdiri di tengah kampung Wampodi lalu meneleponlah. Saya jamin, biar kamu telepon yang punya satelit, pasti kresek.

Junior? Gerakanmu saya suka. Sekiranya masih ada satu dua orang sepertimu, sudilah kiranya menjadi Ketua Dewan Pertimbangan untuk dibentuk sebuah organisasi “Suara Jenderal Junior” di seluruh wilayah agar problematika serupa di seluruh negeri dapat terakses secara sistemik dan didengar oleh para pemangku kebijakan. Karena saya yakin, para pemangku kebijakan di negeri ini memiliki sikap tawadhu, istiqamah demi kesejahteraan rakyat dan keadilan yang berpihak kepada seluruh warga bangsa. Kalau kurang baik, korang perbaiki. Kalau lebih baik, terimakasih.(nebansi@yahoo.com)

Junior? Gerakanmu Saya Suka