-Tugas di Wilayah Terpencil, Rela Tak Dibayar

KENDARIPOS.CO.ID — Mengemban tugas sebagai bidan desa memang butuh keikhlasan. Jam kerja padat dan tak menentu. Sewaktu-waktu, harus menangani pasien. Namun bagi Harmin Toha, itu sudah menjadi resikonya sebagai tenaga kesehatan (Nakes). Makanya, wanita kelahiran Bangkali 10 September 1977 berusaha ikhlas menjalankan tugasnya.

Harmin Toha terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya sempat menjabat sebagai lurah. Anak pertama dari lima bersaudara ini mengawali karir sebagai bidan PTT tahun 1997. Ia ditugaskan di desa terpencil. Di tempat tugasnya, ada banyak cerita menarik. Dirinya pernah harus menyeberang ke Pulau Katela untuk melakukan persalinan.

Harmin Toha, S.ST, M.Kes

Meskipun disadari, pulau Katela bukan wilayah kerjanya namun jiwanya terpanggil untuk menolong. Di perjalanan, ibu tiga orang anak ini harus rela terombang-ambing di tengah laut. “Kalau dibutuhkan pada saat persalinan, saya harus menyebrang ke tempat tersebut. Soalnya, di sana belum ada bidan,” kata istri Said Takala.

Dalam menjalankan tugasnya, ia tak menutut tarif atau bayaran. Apalagi tingkat perekomonian masyarakat sangat sulit. Terkadang dibayar dengan ikan atau hasil kebun lainnya. Apapun yang diberikan ia terima. Baginya, tugas seorang bidan itu bukan semata-mata materi dan uang. Impiannya adalah membantu masyarakat secara tulus dan ikhlas.

Harmin Toha, S.ST, M.Kes selaku Wakil Ketua I IBI Muna, berfoto bersama jajaran pengurus IBI Muna

“Jika mencari materi, saya mungkin akan menyerah sejak awal. Apalagi honor pas-pasan dan hanya Rp 400 ribu setiap bulan. Yang membuat saya kuat adalah kecintaan terhadap apa yang saya kerjakan sebagai bidan. Bisa menolong banyak orang tanpa meminta imbalan saya sangat bahagia,” kata alumnus SPK Depkes Kendari.

Ia punya sebuah cerita menarik yang akan selalu dikenangnya. Suatu ketika, ada masyarakat yang minta maaf kepadanya karena tidak ada uang bayar persalinan. “Hati saya bergetar. Saya bilang tak apa-apa. Tidak usah dipikirkan tentang pembayaran. Bisa membantu masyarakat saja, saya sudah senang,” katanya.

Alumni D3 kebidanan Poltekes Kemenkes Kendari mengaku tak ada satupun momen atau keadaan yang berhasil memaksanya untuk menyerah. Amanah yang diberikan dijalankan hingga tuntas tanpa keluh kesah. “Saya ikhlas menjalaninya, saya suka dan cinta profesi ini. Makanya tidak pernah berpikir untuk menyerah,” tegasnya.

Foto bareng keluarga.

Setelah dari sana, sayap pengabdiannya semakin lebar. Ia pun ditugaskan menangani persalinan di tiga desa di Pulau Muna yakini desa Tanjung Pinang, Kusambi dan Konawe. Harmin Toha mengaku merasa tertantang. Sebab menjadi bidan sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.

“Waktu SMP saya ingin menjadi bidan. Saya ingin menolong orang terutama ibu yang akan melahirkan. Saya tidak bisa diam melihat orang yang membutuhkan bantuan, jiwa saya memanggil untuk menolong mereka,” ujar alumni SMP Negeri Watopute ini.

Pengalaman pertamanya menjadi bidan penuh tantangan. Sempat dimusuhi oleh dukun beranak sebab dianggap saingan. Namun ia tetap rendah hati. Bagaimanapun, kearifan lokal harus tetap dihargai. Saling menghormati adalah kunci. “Proses adaptasi saling melengkapi, jadi semua bisa berjalan beriringan tanpa masalah berkepanjangan,” ujarnya.

Harmin Toha, S.ST, M.Kes bersama suami.

Begitupun proses meyakinkan masyarakat untuk melahirkan di bidan. Di awal mengabdi, masyarakat masih asing dengan bidan. Tapi dengan kerja kerasnya, ia berhasil meyakinkan masyarakat.

Selanjutnya lulus ASN, dia pindah di Puskesmas Dana. Pada tahun 2006, ia bisa mengabdi di kampung halamannya di Desa Bangkali. Tugasnya sebagai bidan desa berlangsung selama tahun 2021. “Senang bisa mengabdikan diri di tanah kelahiran sendiri,” kata Harmin Toha.

Pada tahun 2013, ia pun pindah tugas di Puskesmas Watopute sebagai bidan koordinator. Jabatan ini pun diembannya hingga sekarang. Berbekal pengalaman tugas dan organisasi yang dimiliki, sosok yang tak kenal lelah ini konsisten di jalan pengabdian.

Di sela-sela tugasnya, ia pun aktif di organisasi. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua I Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Muna. Pada saat pemilihan Ketua IBI, ia hanya kalah satu suara dengan ketua terpilih. Hal ini menjadi cermin bahwa ia dicintai oleh rekan se-profesinya.

Tuntas sebagai bidan, kesempatan untuknya terbuka lebar. Ia dipercaya sebagai pengajar. Pernah jadi dosen di AKBID YKN Baubau dan 2021 ini jadi dosen di STIKES Karya Persada Muna. “Terpenting tidak mengganggu pekerjaan utama sebagai bidan. ASN tak boleh lalai akan tugas. Di waktu lowong, saya senang bisa membagi pengetahuan,” terangnya.

Hingga kini, semangat pengabdiannya tak pernah surut. Selagi masih sehat, ia akan berangkat membantu persalinan. “Tengah malam sekalipun saya tetap pergi, sesibuk apapun saya, jadi bidan adalah pekerjaan utama, hidup saya sebagai abdi negara,” tekannya. (b/ndi)


-Belajar Hikmah Hidup dari Orang Tua

Di sela-sela kesibukannya sebagai bidan, Harmin Toha tetap melakoni beberapa pekerjaan sampingan. Namun dirinya merasa tak terbebani sebab semuanya berangkat dari hobi. Ia kini tercatat sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi di Muna. Selain itu, ia turut membuka bidan praktik mandiri dengan memperkerjakan empat bidan honorer.

Sejak tahun 2006, ia membuka usaha di bidang jasa rias pengantin, dekorasi, elekton, kos-kosan. Sekali-kali, ia masih menerima orderan menjahit. Semua skil kecuali bidan itu dipelajari secara otodidak. “Saya tipikal pekerja keras. Kedua orangtua saya mengajarkan itu. Apalagi ini hobi. Makanya, semua yang dikerjakan saya nikmati,” katanya membuka tentang kisahnya.

Berawal dari hobi dan suka liat rias pengantin, ia akhirnya tertarik juga untuk jadi perias pengantin. Secara kebetulan, orang tua punya dekorasi. “Dari situ, saya mulai bisnis. Alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa jadi perias pengantin dan ada dekorasi sendiri,” katanya.

“PNS tetap pekerjaan utama. Itu amanah yang harus dilakukan, kewajiban, pengabdian kepada masyarakat dan negara. Pekerjaan lainnya tidak mengganggu, karena dikerjakan pada saat sudah pulang kantor. Kalau seperti make up atau rias itu kan subuh saya lakukan, jadi tidak menghalangi. Apalagi saya punya karyawan dan asisten yang bisa dipercayakan,” tambahnya.

Pekerjaan sampingan dilakukan kata dia, berangkat dari keyakinan bahwa perempuan memiliki peluang dan porsi yang sama dengan laki-laki dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan usaha. Ia yakin pilihannya untuk menjadi perempuan yang serba bisa alias multi talenta, tidak mengganggu kewajibannya sebagai abdi negara.

“Terpenting adalah ibadah, sholat jangan lewat. Tidak lupa tanggung jawab, sebagai istri dan ibu rumah tangga. Untuk menjadi pribadi yang multi talenta saya didukung oleh restu suami. Prinsip saya, perempuan harus bisa menentukan tujuan, fokus untuk mencapai, selalu konsisten dan menjadi versi terbaik untuk diri sendiri,” ujarnya.

Ia ingin bersama suami bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga. Utamanya anak harus sukses, makanya semua ini dilakukan untuk bekal anak anaknya kelak. “Jiwa usaha saya tumbuh dari kecil. Saya melihat bapak dan ibu yang mengerjakan apapun agar anak-anaknya bisa sukses dan berhasil khususnya di pendidikan,” ujarnya.

Di usianya yang memasuki kepala empat, ia masih miliki satu impian yang ingin diwujudkan. Melengkapi usaha di bidang pengantin. Jika ada lahan, Harmin ingin membuat gedung sendiri untuk acara pernikahan. (b/ndi)

Profil Singkat

Nama : Harmin Toha, S.ST, M.Kes
TTL : Bangkali, 10 September 1977
Pekerjaan : ASN ( Bidan Koordinator Puskesmas Watopute)
Alamat : Jalan Made Sabara, Kelurahan Laiworu, Muna
Orang Tua: La Ode Nday dan Wa Ode Masiana (Almarhumah)
Suami : Said Takala
Anak : Laras Githa Wardany (Fak Kedokteran UHO)
Gilang Astha Wardana (Pelajar SMA 2 Raha)
Adithya Astha Wardana

Riwayat Pendidikan:

  1. SD 2 Bangkali 1990
  2. SMPN Watopute 1993
  3. SPK DEPKES KENDARI 1996
  4. Program Pendidikan Bidan 1997
  5. D3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kendari 2009
  6. D4 Kebidanan Poltekkes Kendari 2012
  7. S2 Kespro Universitas Indonesia Timur 2015

Riwayat Pekerjaan:

  1. Bidan PTT 1997-2005
  2. Bidan Desa Bangkali 2006 – 2012
  3. Bidan Koordinator Puskesmas Watopute 2013 Sampai Kini

Sampingan
-Bidan Praktik Mandiri di Jalan Made Sabara, Muna
-Perias Pengantin dan Dekorasi
-Pengusaha Elekton dan Kos-kosan
-Pernah jadi Dosen di Akbid YKN Baubau
-Dosen STIKES Karya Persada Muna

Riwayat Organisasi:
-Sekretaris IBI Muna (2013-2018)
-Wakil Ketua I IBI Muna (2018 Sampai Kini)

1 Komentar

  1. Iibu harmin Toha s,St,m,kes
    dosen saya d kebidanan ykn bau bau,,beliau merupakan cocok wanita atau ibu yg sangat kuat dan tegar dalam hal profesi maupaun d luar profesi,,beliau jg merupakan dosen saya yg sangat baik,dan d siplin..saya sangat bangga dan salut kepada beliau,,nasehat ibu saya akan kenang sepanjang masa,best the best..l love yaou…

Comments are closed.