KENDARIPOS.CO.ID — Tidak semua orang memiliki kesempatan. Namun hanya orang spesial dan memiliki kemampuan khusus yang bisa menjawab kesempatan dengan prestasi. Salah satu figur yang sukses mengemban amanah itu adalah Dr Azhari S.STP M.Si. Pria kelahiran Mawasangka 10 Juni 1976 ini sukses mengangkat citra sebuah kampus kecil di Kolaka masuk dalam deretan perguruan tinggi unggulan di Sultra.

Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini terbilang nekat ketika diamanahkan menahkodai Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kolaka. Saat itu, Dr Azhari masih terbilang muda atau 27 tahun. Di sisi lain, sarana dan prasarana kampus masih minim. Namun berkat kegigihannya, ia mampu menata kampus hingga akhirnya beralih status menjadi perguruan tinggi negeri (PTN) tahun 2014 lalu.

Dr.Azhari S.STP.,M.Si

Suami Umi Noranah S.Pd ini tercatat sebagai Rektor PTN termuda. Makanya, Dr Azhari menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Capaian ini tentunya bisa menjadi inspirasi generasi muda. Dengan segala keterbatasan, Dr Azhari bisa membuktikan kapasitasnya. Dengan berbagai catatan pencapaiannya, DR Azhari layak menyandang sebagai salah satu putra terbaik Sultra.

Kepemimpinan Dr Azhari di USN Kolaka telah memasuki periode kedua. Namun secara keseluruhan, kepemimpinannya di kampus merah maron ini telah memasuki tahun ke-17. Awalnya, STKIP bernaung di bawah Yayasan Pembaharuan Pendidikan Indonesia Kolaka (YAPPIKA). Pendirinya adalah H. Nurung, Muhamadong Madapi, Zainal Abidin Rafiudin, H. Baso Lewa, H. Tahrir, Hamsudin Sanusi. Tahun 2007 terjadi perubahan akta Yayasan dengan perubahan dewan pendiri menjadi dewan pembina yayasan. Dewan pembina di samping nama pendiri YAPPIKA ditambah nama dirinya dan Buhari Matta.

“STIKIP diambil alih pengelolaannya oleh Pemda Kolaka, sampai kemudian saat peralihan menjadi universitas swasta semua mesti dikembalikan sesuai peraturan, bahwa perguruan tinggi swasta hanya dikelola oleh yayasan. Pemda Kolaka kemudian berperan aktif melalui perda badan hukum milik daerah dengan memberikan bantuan awal kepada USN Kolaka melalui APBD. Sampai kemudian pada tahun 2009 USN Kolaka sudah tidak memperoleh lagi bantuan dari APBD alias mandiri,” kisahnya.

Azhari menuturkan, pertama kali dipercaya menjadi pemimpin kampus yaitu pada Januari tahun 2004. Ketika itu, USN Kolaka masih bernama Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Kolaka. Azhari dipilih sebagai Ketua STIKIP oleh Bupati Kolaka saat itu Buhari Matta.

Dr.Azhari S.STP.,M.Si

“Ketika Pak Buhari dilantik menjadi Bupati Kolaka, salah satu visi-misinya yaitu menjadikan STIKIP menjadi universitas. Saat itu saya yang menjabat sebagai Staf Khusus dan juga Konseptor Bupati Kolaka mengajukan diri untuk mengemban visi tersebut. Maka dilantiklah saya sebagai Ketua STIKIP pada Januari 2004. Saat itu usia saya masih 27 tahun,” ungkapnya.

Alumnus STPDN tersebut menuturkan saat dilantik menjadi Ketua STIKIP pada Januari 2004, kondisi kampus tersebut sangat memprihatinkan. Tidak hanya dosen dan pegawainya masih sangat kurang, gedung perkuliahannya saja masih berdinding papan.

“STIKIP itu didirikan sejak tahun 1984. Waktu pertama kali saya dilantik, gedungnya itu masih di Jalan Merdeka. Dindingnya masih papan, pegawai tetapnya hanya dua orang saja, pengajarnya yaitu dosen luar biasa. Sejumlah program studinya juga mau dibubarkan karena dianggap tidak sehat,” kenangnya.

Dengan kondisi yang memprihatinkan, Azhari tetap optimis dapat memajukan kampus tersebut. Hasilnya pada Juni 2005, Azhari berhasil mewujudkan visi Buhari Matta yaitu meningkatkan status STIKIP menjadi universitas.

“Saat penganggaran APBD 2005, kami ajukan permintaan anggaran ke DPRD untuk peningkatan status kampus. Saat itu banyak anggota DPRD Kolaka yang pesimis. Mereka menyangsikan kemapuan saya. Ada yang mengatakan tidak mungkin anak-anak bisa meningkatkan status STIKIP,” ujarnya.

“Namun saya berhasil meyakinkan para wakil rakyat dan berjanji akan mundur jika tidak mampu meningkatkan status STIKIP menjadi universita. Dengan dukungan parlemen, saya akhirnya bisa menjawab janji tersebut. Juni 2005, STIKIP resmi berganti menjadi USN Kolaka dan saya ditetapkan sebagai rektor,” tambahnya.

Capaian itu belum memuaskan Dr Azhari. Ia pun bertekad mengubah status USN dari swasta menjadi negeri. Berkat kerja kerasnya, USM beralihstatus menjadi negeri tahun 2014. Saat ini, ia pun terpilih sebagai Rektor USN Kolaka untuk periode 2014-2018. Tahun 2018, Azhari kembali mencalon diri sebagai rektor untuk periode ke dua dan kembali terpilih sebagai Rektor USN Kolaka periode 2018-2022. (b/fad)

Ogah Manfaatkan Fasilitas Negara untuk Keluarga

Pejabat sekelas Rektor PTN, tentu mendapatkan fasilitas dari negara. Namun, hal itu tidak terlihat pada Rektor USN Kolaka, DR Azhari. Azhari bersama keluarganya tidak tinggal di rumah jabatan rektor. Ia lebih memilih tinggal di rumah pribadinya yang terletak di Kelurahan Lalombaa, Kecamatan Kolaka.

Rumah yang ditinggali Azhari tersebut juga nampak bukan seperti rumah pejabat pada umumnya yang menggunakan jasa satpam. Di rumah tersebut, warga terlihat bebas memasuki halaman rumah tanpa perlu melapor.

Azhari menuturkan, dirinya sengaja tidak mau menganggarkan sejumlah fasilitas untuk jabatan rektor. Alasannya, dirinya enggan menggunakan fasilitas negara untuk keperluan keluarganya.

“Rumah jabatan dan anggaran pemeliharaan rumah rektor, uang makan dan lain sebagainya sengaja saya tidak anggarkan. Karena itu diperuntukkan hanya untuk rektor, sedangkan anak dan istri saya itu bukan rektor dan mereka tinggal bersama saya. Saya juga tidak pernah menggunakan jasa satpam atau pengawal. Saya pikir tidak pernah ganggu orang, jadi tentu tidak akan ada yang ganggu saya,” ujarnya. (c/fad)

Prioritaskan Penerima Beasiswa Mahasiswa Yatim dan Kurang Mampu

Tidak hanya fokus mencerdaskan generasi bangsa, Dr Azhari turut memberi perhatian bagi mahasiswa yatim piatu dan kurang mampu. Tak heran, mayoritas mahasiswa penerima program beasiswa pendidikan di USN Kolaka adalah mereka yang telah kehilangan orangtuanya.

“Untuk seluruh bentuk beasiswa di USN Kolaka ini, kami prioritaskan kepada mahasiswa yatim piatu dan kurang mampu. Saya mengeluarkan kebijakan tersebut karena saya tahu gimana rasanya kehilangan orangtua. Ibu saya wafat sejak saya masih duduk di bangku SMP. Saat itu saya merasa sangat kehilangan,” tutur bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Dengan memprioritaskan yatim piatu, dirinya berharap agar beban mahasiswa yang dibantu tersebut dapat berkurang. “Semoga kebijakan ini bisa meringankan beban anak-anak mahasiswa kita yang yatim piatu untuk mewujudkan cita-citanya menyelesaikan pendidikan di tingkat perguruan tinggi agar mendapatkan kerja yang baik sehingga dapat menjadi tulang punggung bagi keluarganya,” harapnya. (c/fad)

1 Komentar

  1. Barakallah..Semoga diberikan kesehatan Diri dan Keluarga… Dan Pak Azhari diberi umur panjang agar terus berkarir mencerdaskan SDM dan membangun Daerah bangsa dan negara. amin

Comments are closed.