KENDARIPOS.CO.ID — Meski telah dilarang, masih saja ada nelayan yang menggunakan bom menangkap ikan. Padahal bom ikan sangat berdampak buruk terhadap kelestarian ekosistem laut. Mulai dari kerusakan terumbu karang dan matinya ikan ikan di perairan. Dalam jangka panjang, kerusakan ini akan berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.

Baru-baru ini, Ditpolairud Polda Sultra berhasil mengungkap aktivitas penangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak di sekitar perairan Pulau Saponda. Dari hasil penyelidikan, polisi menangkap seorang warga Soropia berinisial SB (47) dan menyita barang bukti bahan peledak (handak) sekitar 150 kilogram (kg).

Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Sultra, AKBP Ruly Indra Wijayanto (tengah) menunjukkan sejumlah barang bukti bahan peledak dari tersangka SB (baju orange) dalam konferensi pers di Mako Ditpolairud Polda Sultra, Senin (18/10). I NGURAH PANDI SANTOSA/KENDARI POS

“SB telah ditetapkan sebagai tersangka. Kini, yang bersangkutan telah diamankan polisi guna proses penyidikan lebih lanjut,” beber Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Sultra, AKBP Ruly Indra Wijayanto dalam konferensi pers di Mako Ditpolairud Polda Sultra, Senin (18/10).

Pengungkapan kasus ini kata dia, bermula saat Tim Patroli Rubber Boat Dit Polairud Polda Sutra memperoleh informasi dari warga sekitar perairan Pulau Saponda. Disebutkan, kerap terjadi penangkapan ikan menggunakan bahan peledak di wilayahnya. Dari informasi itu, tim Lidik subdit Gakkum Dit Polairud Polda Sultra melakukan penyisiran dan pemantauan di perairan Saponda Darat.

“Saat patroli, tim melakukan pemeriksaan terhadap satu buah kapal jolor tanpa nama, berwarna putih orange. Hasilnya, tim patroli menemukan 25 jerigen ukuran 5 dan 10 liter berisi pupuk siap pakai,” ujarnya.

Tidak hanya sampai di situ, tim turut melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap rumah di pesisir pantai desa Saponda Darat Kecamatan Soropia, Konawe. Di sana, tim mengamankan tersangka dan barang bukti 26 botol bekas bir berisi bahan peledak siap pakai.

“Ada juga barang bukti lain seperti dua botol plastik kecil berisi serbuk korek api, satu toples berisi sumbu peledak dan benang, dua buah karung ukuran 50 Kg merk pupuk cantik, dan alat alat lainya,” bebernya.

Saat diinterogasi, pelaku mengakui handak tersebut akan digunakan untuk melakukan penangkapan ikan di sekitar perairan Buton. Tersangka, mengaku baru pertama kali mencari ikan menggunakan bom. Saat akan mengulangi perbuatannya, duluan diamankan oleh polisi.

“Bahan bahan peledak ini dilakukan untuk dirinya sendiri. Kita masih terus kembangkan. Ada kemungkinan tersangka lebih dari satu orang. Atas kejadian tersebut tersangka disangkakan melanggar pasal 1 ayat 1 undang-undang danurat nomor 12 tahun 1951 tentang bahan peledak. Ancaman hukumannya pidana penjara maksimal 20 tahun,” tegasnya. (b/ndi)