MUHAMMAD RUSLI/KENDARI POS
BELUM MASUK APBN : Bupati Kolut, Nur Rahman Umar (kiri) bersama Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan bersama rombongan saat memantau progres penanggulan dan pematangan bandara Kolut, kemarin.

KENDARIPOS.CO.ID– Rencana pembangunan Bandar Udara (Bandara) pada tahun 2022 mendatang di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), belum dapat terwujud. Itu karena, anggaran pekerjaan infrastruktur tersebut, belum terakomodasi dalam rincian pagu anggaran Ditjen Perhubungan Udara tahun depan. Alasannya, belum ada upaya serah terima aset yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) pada Pemerintah Pusat.

Hal ini diungkapkan Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ir. Ridwan saat melakukan peninjauan progres penanggulan lahan bandara Bandara Kolut, Kamis (14/10). Setelah memantau, Ridwan menyampaikan, dari segi pengerjaan fisik Bandara, butuh perjuangan panjang untuk merealisasikan. Penimbunan lahan tentu memerlukan waktu lama, karena hampir separuh lokasi itu akan menutup pesisir laut. “Soal talud sudah sangat memenuhi syarat,” ujarnya, kemarin.

Penanggulan lahan Bandara yang berbatasan dengan laut sesuai syarat dibutuhkan sepanjang 1.400 meter. Progres saat ini cukup baik karena yang direalisasikan sudah melebihi 2.000 meter, tersisa 260 meter lagi. Ridwan mengaku telah membicarakan hal tersebut secara langsung dengan pihak Dirjen. Bahkan Menteri Perhubungan berniat datang ke Kolut secara langsung melakukan peninjauan. Hanya saja, pada rapat dengar pendapat (RDP) beberapa pekan lalu, permintaan alokasi APBN 2022 tak terkabulkan, karena serah terima aset belum dilakukan.

Kepala Otoritas Bandara Wilayah V Makassar, Sigit Widodo, yang hadir mewakili Dirjen Perhubungan, mengakui, Bandara Kolut telah masuk dalam rencana strategis (Renstra) nasional. Begitu juga dengan penetapan lokasi sudah ditentukan, hingga menyangkut administrasi maupun fisik.

Pengerjaan yang didanai melalui APBD saat ini untuk pematangan hingga perluasan lahan, sangat memenuhi peryaratan awal. Kolut akan didarati pesawat jenis ATR yang mengangkut penumpang dalam jarak pendek. “Panjang lintasan 1.400 meter, namun yang tersedia saat ini sudah lebih dari cakup,” katanya.

Bandara Kolut sendiri berstatus sebagai pengumpan untuk pesawat. Levelnya akan naik sesuai perkembangan ke depan. “Kehadiran Bandara Kolut sangat ideal menunjang berbagai aspek, khususnya ekonomi,” tuturnya. Sementara itu, Bupati Kolut, Nur Rahman Umar, menyampaikan pembangunan Bandara itu sesuai kebutuhan dan bukan sekadar mengikuti tren. Jarak tempuh dari Kendari, ibu kota provinsi hingga kondisi medan menuju Kolut, kerap membuat niatan para pejabat penting hingga investor untuk berpikir dua kali.

“Sekelas menteri saja, sejak Kolut berdiri baru seorang yang datang berkunjung. Alasannya karena jauh dan menghabiskan waktu lama dalam perjalanan,” katanya.

Bandara Kolut merupakan sarana masa depan yang telah melalui kajian cukup panjang akan keberlangsungannya. Kolut sangat membutuhkan hal itu karena tidak semua pembangunan diidentikkan soal untung-rugi namun juga fungsi sosialnya. “Bukan soal berapa banyak anggarannya, tetapi manfaatnya,”pungkas Nur Rahman Umar. (b/rus)