-DBD Belum Terindikasi KLB

KENDARIPOS.CO.ID — Penularan demam berdarah dengue (DBD) di Sultra perlu menjadi perhatian. Selama periode Januari hingga September, terdapat 392 kasus. Dari jumlah pasien yang dirawat, tiga diantaranya meninggal dunia. Dua kasus meninggal tercatat di Kota Kendari dan satu lainnya di Konawe.

“Sudah ada tiga kasus kematian. Sementara untuk total penderita DBD hingga akhir September sudah mencapai 392 kasus. Untuk data Oktober, belum ada yang masuk sebab data baru akan dikirim bila sudah sampai diakhir bulan,” beber Hj. Usnia, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sultra, Minggu (24/10).

Kendari lanjutnya, masih menjadi endemik DBD. Sebab wilayah ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi di banding daerah lain di Sultra. Namun dibandingkan tahun lalu, angka kasus DBD menurun. Tahun 2020 tercatat 764 kasus dengan total yang meninggal sebanyak 8 orang. “Meski sebaran kasus sedikit menurun, tapi kita tak boleh lengah. Harus tetap mawas diri demi, ” warning Usnia.

Ia lalu merinci data kasus DBD di wilayah Sultra selama periode Januari sampai September 2021. Kota Kendari 136 kasus, dengan kematian 2 orang, Kabupaten Kolaka 86 kasus, Kota Baubau 67 kasus, Konawe Selatan 36 kasus, Kabupaten Konawe 20 kasus dan kasus meninggal sebanyak satu orang (lihat grafis).

Di tengah pandemi covid, masyarakat juga perlu menjaga diri agar tidak terkena DBD. Sebab wabah yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti ini tak kalah berbahaya dengan covid. Untuk itulah, masyarakat harus terus waspada dengan DBD. Bila memang merasa memiliki gejala, segera periksakan dan jangan menunggu hingga fase kritis.

“Jadi, kita tidak boleh main-main dengan penyakit DBD. Sebab DBD menjadi salah satu penyakit penyumbang kematian terbesar.

Selain periksa kesehatan dini, pemerintah terus menggelakan program 3M. Seperti membersihkan tempat penampungan air, seperti bak kamar mandi, kolam ikan dan vas bunga, menutup wadah air serta mendaur ulang barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Di sisi lain, gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik) harus dimasifkan hingga fogging. “Saya minta warga terus jaga kebersihan. Namun sejauh ini, belum ada indikasi kejadian luar biasa (KLB),” ujarnya. (b/rah)