Jahiuddin

KENDARIPOS.CO.ID– Pandemi Covid-19 memberi dampak terhadap keberlangsungan industri kecil menengah (IKM) di Konawe. Setahun lebih geliat ekonomi lesu dan membuat pelaku IKM mencari cara agar tetap bertahan. Sejak mewabah pada awal 2020 lalu, sekitar 154 IKM di wilayah tersebut nyaris berhenti beroperasi.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Konawe, Jahiuddin, mengakui, pandemi Covid-19 yang mewabah secara cepat mengharuskan pemerintah membuat kebijakan-kebijakan pembatasan aktivitas untuk melindungi masyarakat. Katanya, pembatasan aktivitas sosial itu berdampak terhadap operasional IKM yang kian macet.

“Catatan kami, dari 253 IKM di Konawe, 154 diantaranya hampir gulung tikar karena pandemi,” ujar Jahiuddin, Kamis (30/9). Mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Konawe itu menuturkan, selain kebijakan pembatasan aktivitas, sulitnya memperoleh bahan baku menjadi faktor krusial yang dihadapi para pelaku IKM. Bukan itu saja, persoalan pembiayaan juga jadi kendala serius.

“Syukurnya mereka bisa bertahan. IKM tersebut sudah berangsur pulih dan mulai beroperasi secara normal kembali,” ucapnya. Jahiuddin menyebut, salah satu stimulus yang membuat pelaku IKM di Konawe tetap survive yakni adanya program bantuan sosial (Bansos) dari Pemerintah Pusat.

Bansos tersebut diperuntukan membantu UMKM maupun IKM dari segi permodalan. “Terkait Bansos itu, kami sifatnya hanya melakukan proses input data yang masuk dari pemerintah desa maupun kecamatan. Eksekusinya itu ada di kementerian terkait,” tandasnya. (c/adi)