Penulis : H. Nur Alam, S.E., M. Si. (Gubernur Sulawesi Tenggara 2008-2013 dan 2013-2018)

KENDARIPOS.CO.ID — Tahun politik kali ini datang lebih cepat. Para elite dan tokoh politik yang ingin maju pada Pemilu Presiden 2024 mulai melancarkan manuvernya merebut simpati publik dan dukungan parpol. Situasi politik pada skala nasional (juga skala daerah) biasanya semakin memanas. Para pejabat yang masih bertugas pasti sedang sibuk berbenah karena masa jabatannya akan berakhir. Para pendukung di luaran juga sudah mulai terbelah. Ada yang masih loyal, ada yang sudah mulai ancang-ancang cari aman, tapi juga ada yang diam-diam merancang hal buruk yang bisa mengancam.

Di tempat lain, ada orang-orang yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk menggantikan posisi puncak. Di sana pun terjadi beragam aktivitas yang membuat kita mengurut dada melihatnya. Ada yang berusaha mengambil manfaat dari pejabat yang masih aktif, misalnya meminta fasilitas dan dukungan. Ada yang mencari-cari kesalahannya, dan ada juga yang menjadikan kinerja buruknya sebagai komoditas politik untuk “jualan” — menjadikannya bahan propaganda.

Saya pernah berada di titik itu, dan rasanya seperti dikepung euforia yang membuat pening kepala. Dalam situasi seperti itu kebanyakan anak buah hanya menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan tidak segan memojokkan pimpinannya meski bisa saja kelalaian yang terjadi adalah perbuatan dia sendiri.

Pada lingkup kerja birokrasi terdapat tiga tipe manusia; ada yang betul-betul jujur moral dan integritasnya, ada yang jujur karena sistem menuntut dia harus jujur, dan ada juga yang berpura-pura jujur (manipulatif).

Tipe pertama, orang itu memang memiliki iman dan akhlak yang baik, dan kepribadiannya memang betul-betul positif. Tipe kedua, “terpaksa” jujur karena sistem dan standard yang berlaku di lembaganya membuatnya tidak berkutik. Padahal bisa saja dia bukan orang yang betul-betul jujur. Tapi tak ada pilihan lain kecuali patuh pada aturan. Dan yang ketiga, itulah tipe manusia yang paling membahayakan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dia bisa membahayakan teman, pemimpinnya, dan lembaganya.

Menurut saya, serumit apapun situasi menjelang akhir jabatan, jangan lantas membuat kita mengabaikan tugas-tugas yang belum selesai. Cermati apa saja kerja yang belum tuntas dan yang berpotensi bakal terbengkalai. Jangan dibiarkan saja tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Karena, kalau semua itu diabaikan akan sangat membahayakan. Anak buah yang mestinya menyelesaikan biasanya akan melempar tanggung jawab pada pimpinannya, bahkan terkadang menyikut secara terang-terangan, padahal pimpinannya sama sekali tak tahu menahu.

Jabatan (kekuasaan) itu ibarat madu yang sangat manis yang diperebutkan oleh ribuan semut. Semua orang akan merubung, mendukung, dan menyanjung. Bahkan orang yang tidak sehaluan pun akan tiba-tiba tampil seolah pendukung setia, padahal sebenarnya dia punya maksud terselubung.

Maka, di tahun politik sekarang ini, di detik-detik menjelang berakhirnya jabatan, kita harus mawas diri dan ekstra hati-hati. Mereka-para aparatur birokrasi itu perilakunya kebanyakan seperti itu. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah pimpinan tertinggi.

Post Power Syndrome

Saya hendak mengkritisi soal momen-momen padat politik dalam pengertian yang tidak selalu berkonotasi positif, yang membuat saya risau, misalnya soal konflik identitas akibat berakhirnya jabatan dan kekuasaan.

Di bulan September 2021 ini, setiap pejabat masih punya waktu berkuasa kurang dari dua tahun lagi. Tapi, jangan lupa bahwa episode baru sudah menanti, yakni episode pensiun. Pensiun dapat menjadi titik balik dalam identitas personal seseorang karena stigma yang terkait dengan perubahan peran, dan juga berubahnya pola hubungan antar orang tertentu. Gejala ini erat terkait dengan sindrom pasca kuasa, yaitu kumpulan gejala yang memperlihatkan ketidaksesuaian antara tingkah laku dengan keadaan yang dihadapi, karena sebelumnya memegang jabatan dan kekuasaan.

Pensiun adalah masa dimana seseorang akan mulai kehilangan teman kerja, teman beraktifitas, termasuk kehilangan kekuasaan dan kewenangan, dan rentan mengalami gangguan kejiwaan bernama; post power syndrome.

Post power syndrome merupakan sindrom pasca seseorang berhenti dari jabatan atau dari kekuasaannya. Biasanya disertai perasaan menurunnya harga diri karena merasa tidak dihormati lagi. Bagi sebagian orang, masa pensiun bisa dimaknai sebagai masa untuk menikmati hasil jerih payah selama bertahun-tahun, tetapi bagi sebagian yang lain diartikan sebagai malapetaka. Bahkan ada pejabat tinggi yang menganggap pensiun sebagai kiamat kecil. Muncul perasaan terasing, merasa tidak punya power lagi, dan tidak dihargai serta dihormati seperti saat masih menjabat. Kondisi keuangan pun menurun drastis sehingga gaya hidup harus berubah.

Dalam kehidupan modern banyak orang berpandangan bahwa pangkat dan jabatan tinggi merupakan faktor penting yang bisa mendatangkan kepuasan psikologis, uang, kekuasaan, fasilitas, status sosial, kehormatan, dan harga diri.

Jabatan sebagai gubernur yang pernah saya emban selama hampir 10 tahun adalah status sosial yang prestisius. Bagi sebagian orang, jabatan setinggi itu tiba-tiba harus ditanggalkan padahal masa jabatan belum berakhir, tentu merupakan kehilangan besar, yang bisa memunculkan pergolakan psikologis yang tidak ringan.

Seseorang yang menjabat sebagai kepala daerah ataupun pejabat tinggi lainnya, biasanya dihormati dan mendapat fasilitas serta kemudahan karena jabatan yang melekat. Namun, ketika sudah tidak menjabat lagi, jangan kaget kalau rasa hormat dari bekas bawahan dan rekan kerja, juga masyarakat yang dulu mengelu-elukan, semua sirna dan tinggal kenangan. Hidup yang semula ingar bingar menjadi sunyi, sepi, dan hampa. Apalagi kalau si pejabat saat berkuasa mengecewakan banyak orang, kondisinya bakal lebih menyedihkan lagi.

Orang bilang, semakin tinggi jabatan hidup jadi semakin enak. Gaji, tunjangan, dan gengsinya juga lebih tinggi. Itu sebabnya, banyak orang yang berlomba mengejar pangkat dan jabatan. Tapi pertanyaannya adalah; apakah orang tersebut juga menyiapkan diri kalau suatu saat dia kehilangan jabatan? Meski tidak pernah terbayangkan, namun hal itu bisa terjadi kapan saja, dialami oleh siapa saja, dan bisa menimbulkan risiko yang berdampak besar dalam hidup.

Sebenarnya, siapa pun orangnya, sangat manusiawi kalau panik menghadapi masa pensiun. Karena, tak hanya pemasukan uang yang bakal jauh berkurang, tapi juga tidak lagi berkuasa dan tidak bisa memerintah orang seenaknya.

Perasaan galau dan oleh rasa khawatir berlebihan menghadapi episode kehilangan kekuasaan dapat mendistorsi jiwa seseorang yang tidak pernah mempersiapkan dirinya sedari awal. Butuh kesadaran bahwa tidak ada manusia yang hidup selamanya, tidak ada yang abadi di muka bumi ini, dan suatu saat kedudukan kita juga akan digantikan oleh orang lain.

Sadarilah bahwa roda kehidupan senantiasa berputar. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Pensiun adalah sesuatu yang wajar dan proses alami kehidupan yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun. Dan hilangnya jabatan adalah sebuah kenyataan hidup yang bisa menimpa siapa saja.

Namun, selagi masih ada waktu, jalin relasi dan komunikasi yang baik seluas mungkin-dengan semua orang. Tebarkan kebaikan agar bisa memberi manfaat bagi orang lain. Bangun kepribadian yang baik agar orang menghormati dan mengagumi kita bukan karena jabatan yang melekat, tapi karena budi pekerti dan kebaikan hati yang kita miliki. Dengan begitu maka, ketika sudah tidak menjabat lagi kita masih akan tetap diperlakukan dengan baik.

Itu sebabnya, saat masih di posisi puncak jangan bermegah-megah apalagi membanggakan diri dan sewenang-wenang pada orang. Begitu juga mereka yang bakal menduduki posisi puncak, jangan hanya sibuk menghitung besarnya kekuasaan plus privilege yang bakal didapat. Karena, setinggi apapun jabatan yang kita miliki, tak bakal selamanya bisa kita genggam. Suatu saat kita juga akan menjadi orang biasa lagi (tanpa jabatan dan kekuasaan).

Hidup ini bagaikan sinetron dalam episode panjang. Kita harus pandai dalam menjalankan peran, tangguh dalam menghadapi dinamikanya, arif dan bijak dalam menghadapi konflik, serta ikhlas dalam menerima garis nasib yang tertulis di skenario.

Seberat apapun, episode pensiun atau kehilangan jabatan dan kekuasaan adalah kenyataan yang pasti terjadi dan harus diterima dengan lapang hati. Sikap mental positif dan hati yang tenang akan memunculkan spirit dan optimisme, dan akhirnya bisa memaknai bahwa ketiadaan jabatan dan kekuasaan adalah nikmat dari Allah SWT setelah bertahun-tahun bekerja keras. Sudah tiba waktunya untuk istirahat, menikmati waktu bersama keluarga, menikmati kehidupan sosial bersama teman dan sahabat, dan semakin bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Satu hal lagi, setiap orang pasti akan mengalami masa yang tidak bisa dipungkiri dan bersifat alami yakni masa tua. Mempersiapkan diri dalam hal mental dan pola pikir (mindset) termasuk juga hal-hal teknis untuk hari esok akan menjadi tindakan yang sangat bijaksana.

Mari kita renungkan pesan dari Baginda Rasulullah SAW (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim): “Gunakanlah lima masa (kesempatan) sebelum tiba lima masa (kesempitan). Masa mudamu sebelum tuamu. Masa sehatmu sebelum sakitmu. Masa kayamu sebelum fakirmu. Masa luangmu sebelum sibukmu. Masa hidupmu sebelum kematianmu.”

Sejatinya, setiap hal di dunia ini bersifat sementara (fana). Jabatan dan kekuasaan pun juga dibatasi oleh ruang waktu. Maka, selagi masih ada waktu, siapkan diri dengan baik dan rancang gagasan hebat untuk mengakhiri episode kepemimpinan dengan indah. Agar dapat menikmati masa pensiun dengan nyaman, menjadi warga terhormat, dan tetap bahagia meski sepi menyergap. (NA)

Hidup Ini Bagaikan Sinetron dalam Episode Panjang