Nama : La Ode Suhaeni S.Pd M.Pd.
TTL : Bangkali, 1 April 1978
Jabatan : Kepala SMP Negeri Satu Atap 2 Tiworo Utara
Pendidikan Terakhir : S-2 Pendidikan Olahraga
Istri : Istri Asminar, S. Pd
Anak : LM. Alif Qasyaf Kaliworo
LM. Alfin Kaliworo
Arsi Kayla Kaliworo

Pengalaman Organisasi

  1. Ketua MGMP Penjaskes Tahun 2016 sampai Sekarang
  2. Pengurus PGRI Kabupaten Muna Barat 2016 sampai Sekarang
  3. Pengurus PSSI Kabupaten Muna Barat (Masih Menjabat)
  4. Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Muna Barat (Masih Menjabat)
  5. Pengurus KONI Muna Barat 2021-2025 (Masih Menjabat)


-Pengabdian Tenaga Pendidik di Pelosok Mubar

KENDARIPOS.CO.ID — Berjuang mencerdaskan anak bangsa memang butuh pengorbanan meski nyawa adalah taruhannya. Kendati hasilnya tak berbanding lurus dengan apa yang diterima. Namun bagi La Ode Suhaeni S.Pd M.Pd, itulah tugas mulai seorang guru. Di pundaknya, ada beban amanah negara yang harus ditunaikan meski harus ke pelosok negeri demi mencerdaskan anak bangsa.

Dedikasi pria kelahiran Bangkali 1 April 1978 memang patut diapresiasi. Mengawali karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tanggal 1 maret 2009 silam, ia di tempatkan wilayah pelosok di Muna Barat atau tepatnya di Pulau Maginti. Di sana, ia mengajar sebagai guru olahraga di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Maginti.

La Ode Suhaeni (paling depan) berswafoto saat perjalanan laut menuju sekolah tempat mengajar dengan perahu nelayan (katinting/bodi batang).

Jarak Pulau Maginti dengan kediamannya sangat jauh. Untuk menuju lokasi, ia harus menempuh perjalanan darat sekitar 58 kilometer. Kondisi jalan yang belum beraspal menjadi tantangan sendiri baginya. Jalan ini ditempuh sekitar satu jam. Setelah itu, ia masih harus menempuh perjalanan laut. Perjalan laut terkadang menegangkan. Jika laut tenang, katinting (sejenis perahu mesin tempel) yang dinaikinya bisa sampai lebih cepat atau sekitar 40 menit. Namun jika ombak tak bersahabat, bisa sampai tiga jam.

“Usai salat subuh, saya langsung bergegas ke sekolah. Kalau perjalanan darat saya gunakan motor, tapi namanya awal menjadi pegawai motor kita masih tapo-tapo. Tapi kita syukuri. Bahkan untuk perjalanan laut kalau cuaca bagus bisa kurang lebih satu jam perjalanan. Tapi kalau cuaca ekstrim bisa sampai tiga jam, ” bebernya.

Untuk menuju tempat mengajar, La Ode Suhaeni bersama rekan-rekan guru menempuh perjalan darat dan laut.

Namun demi tugas, kendala dan ombak sekali pun tak menyurukan niatnya sampai ke lokasi pengabdiannya. Baginya, guru merupakan pahlawan pendidikan. Jasanya takkan pernah pudar. Para pembesar dan kaum terpelajar lahir dari tangan-tangan para pendidik.

Sejak diangkat menjadi guru, dirinya memang telah menanamkan tekadnya mencerdaskan seluruh anak bangsa termasuk di wilayah pesisir yang jauh dari fasilitas penunjang. Di tangannya, masa depan anak-anak pesisir dipertaruhkan. Makanya, ia selalu bersemangat tempat mengajar meski jarak tempuhnya cukup jauh.

“Ada istilah yang sering digunakan para guru didaratan untuk menggambarkan kondisi wilayah yaitu HAM (Hujan, Angin, Meti). Tiga hal tersebut menjadi penentu utama dalam melakukan perjalanan. Walau terkadang kondisi angin yang membuat riuh ombak atau hujan deras bersatu dengan asinnya air dilautan membasahi badan tapi semangat mengajar tak pernah pupus,” ujarnya.

La Ode Suhaeni (dua dari kanan) bersama istri dan tiga anaknya.

Kalimat “Mencerdaskan anak bangsa” terkadang terdengar geli. Tapi bagi guru-guru yang bertugas di wilayah kepulauan, itu hal yang betul-betul menjadi semangat untuk terus mengajar. Sambutan para siswa yang menyambut kedatangan guru menjadi kebahagian tersendiri yang tak terukir.

La Ode Suhaeni (tiga dari kiri) bersama para guru SMPN Satu Atap 2 Tiworo Utara

“Kami rela pulang balik menghadapi terjangan ombak yang begitu ekstrim demi melihat pendidikan yang merata bagi adik-adik kita di pesisir. Alhamdulillah, sampai saat ini kami masih terus sembagat mendidik para generai penerus bangsa itu,” ungkapnya.

Dengan segala dedikasinya, ia pun mendapat promosi jabatan tahun 2017. Pria yang kerap dipanggilan Oge ini pun mendapat amanah baru menjadi Kepala Sekolah definitif di SMP Negeri Satu Atap 2 Tiworo Utara. Lokasinya masih masa di wilayah pelosok di ujung Mubar yakni di Pulau Tiga Desa Bero.

Jarak tempuhnya tak jauh beda dengan SMPN 1 Maginti. Tetap menempuh perjalanan darat sekitar 58 kilometer menuju pelabuhan Tondasi. Setelah itu, dilanjutkan perjalanan laut menggunakan perahu nelayan (katinting/bodi batang) sekitar 1 sampai 2 jam menuju wilayah tempat kerja. Bahkan bisa sampai 3 jam bila kondisi cuaca ekstrim.

Tantangan memang berat. Namun demikian, ia tetap mengambil khikmah. Baginya, tantangan terberat adalah harus rela terombang ambing di laut selama berjam-jam.

La Ode Suhaeni (kanan) bersama rekan guru saat konferensi kerja nasional (Konkernas) V PGRI tahun 2019 di Batam.

“Itu yang menurut saya tantangan terberat. Tapi motivasi saya mengajar, khusus daerah pesisir masih sangat tinggi. Apalagi pendidikan di sana masih sangat kurang. Saat ini, tergantung kita lagi sebagai kepala sekolah bagaimana cara kita menghadapi mereka agar mereka bisa lebih memahami pentingnya pendidikan,” ujar bapak tiga orang anak ini. (b/rah)

Benahi Sapras, Berjuang Angkat Citra Sekolah
-Pesan Orang Tua jadi Pegangan

Bagi La Ode Suhaeni S.Pd M.Pd, amanah harus ditunaikan. Sebab itu bagian dari tanggungjawab melaksanakan tugasnya. Sejak diamanahkan menjadi leader di SMPN Satu Atap 2 Tiworo Utara, ia bertekad akan untuk memajukan sekolah ini. Salah satunya dengan membenahi sarana dan prasarana sekolah secara bertahap.

Saat pertama masuk di sekolah ini, fasilitas sarpras serta gedung masih tidak memadai. Ruang kelas baru (RKB) hanya satu. Itupun dipakai sebagai gedung serbaguna dan digunakan untuk semua kelas mulai kelas VII, VIII dan IX.

“Setelah saya masuk, saya buat program agar dibuatkan RKB. Alhamdulillah, sejak tahun 2017 hingga 2020, sekolah yang saya pimpin dapat Dana Alokasi Khusus (DAK). Awalnya, hanya satu kini telah lengkap. Jadi, kelas VII, VIII dan IX tak lagi disatukan, ” bebernya.

Bukan hanya RKB lanjutnya, laboratorium pun kini telah lengkap. Sekolah itu telah memiliki laboratorium, IPA, lab komputer, lab bahasa dan bahkan telah memiliki perpustakaan.

“Alhamdulillah sudah lengkap. Namun namanya pulau, jangan samakan fasilitas sekolah dengan di kota. Ruang kelas tetap masih harus ditambah. Tapi kami berupaya tetap memberikan yang terbaik. Meski hanya tiga kelas, namun kelak bisa mengharumkan nama daerah dan Indonesia,” harapnya.

Dalam menjalankan tugasnya, La Ode Suhaeni S.Pd M.Pd selalu terngiang pesan almarhum orang tuanya. Pesan itulah yang selalu menjadi pegangannya. “Orang tua saya berpesan hidup cukup berbuat baik saja terhadap semua orang. Tidak memakan hak orang lain. Insya Allah, kehidupan kita jauh lebih tenang,” ujarnya. (b/rah)