Perempuan Tangguh di Medan Bencana

KENDARIPOS.CO.ID — Dr. Hj. Syamsuryani ST, MM, anak dari pasangan H. Syahrir Abdullah dan Hj. Masnuni Umar, S.Ag. Ia lahir di Ujung Pandang (Makassar, red), 24 Juli 1973 silam dengan ayah seorang pegawai Kementerian Agama dan ibum berprofesi guru. Perempuan itu kini ditugaskan Bupati Kolaka Utara (Kolut) Nur Rahman Umar memimpin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolut sejak tahun 2019 lalu.

Sekalipun menyandang status sebagai ibu rumah tangga, ia tak pernah lalai terhadap tugas menanggulangi peristiwa bencana. Ia begitu tangguh, siang malam turun lapangan bila bencana melanda Kolut. Syamsuryani sosok yang gemar tantangan, ia tak pernah berhenti untuk belajar. Perjalanan panjang yang ia lalui hingga menduduki kursi pimpinan organisasi perangkat daerah, telah menempahnya sehingga ia tangguh saat menyelami medan bencana. “Saya suka tantangan dan selalu ingin belajar hal-hal baru,” ujarnya kepada Kendari Pos.

Bupati Kolaka Utara, Nur Rahman Umar bersama Kepala BPBD Hj Syamsuryani

Anak kedua dari lima bersaudara itu menyelesaikan pendidikan strata-I di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Kala itu, ia memilih melanjutkan pendidikan di UMI karena ia menilai kampus itu mengajarkan tentang pendidikan Islam dan dakwah. Meski begitu, bukan berarti saat sarjana, lantas melanjutkan pengabdian pada lembaga yang berlabel agama. Sebelum menjadi abdi negara, ia malang melintang di dunia konsultan manajemen dan konstruksi. Bahkan pernahg aktif pada organisasi kemanusiaan kemasyarakatan. Ia mulai menyandang status ASN di Dinas Kimpraswil Kolaka tahun 2002 silam. “Seiring waktu pengabdian berjalan, kariernya mulai beranjak menduduki posisi jabatan berbeda-beda dan dan berpindah-pindah daerah. Namanya abdi negara, jadi harus siap dipindahkan dan ditugaskan dimana saja karena keberhasilan itu selalu diawali dengan tantangan,”tegasnya.

Dr. Hj. Syamsuryani ST, MM,

Sebagai pimpinan di sebuah instansi pemerintah, dia menjaga dan mengedepankan integritas dalam semua urusan. Gebrakan atau terobosan program sangat diperlukan. Ia mengakui tak mudah berkarier sambil sebagai ibu rumah tangga. Namun, dia menjalani semua itu dengan tulus, dengan prinsip pekerjaan apa pun dan ditempatkan di mana saja, harus diiringi terobosan kinerja. “jangan hanya pindah-pindah saja. Rugi jika tidak ada karya atau terobosan yang bisa dikenang karena jabatan itu hanya sementara,” papar istri Agus Salim itu.

Kepala BPBD Hj Syamsuryani bersama anggotanya

Kadangkala ia pulang larut malam karena tanggung jawab pekerjaan. Meski begitu, ia sudah menyusun rencana aktivitas untuk esok hari. Di tengah kesibukan, ia masih sempat antar jemput anak ke sekolah. “Urusan anak, agenda rapat, jadwal mengaji dan lainnya terangkum dalam daily activitynya. Kita ini manusia punya sifat pelupa. Tetapi kita punya kemampuan untuk mengingatnya dengan cara mencatatnya,” tutupnya. (rus/adv)

Gagas Desa Tangguh Bencana

Sejak memimpin BPBD Kolut, Syamsuryani melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan kemampuan menanggulangi bencana. Tahun ini, ia membangun gerakan bersama masyarakat berupa desa tangguh dalam menghadapi bencana. Bagi dia, masyarakat di wilayah yang rentan terjadi bencana alam perlu mendapat pendampingan secara khusus dalam hal pembinaan guna meminimalisir dampak dan risiko bencana. “Kami telah bentuk Gerakan Bersama Desa Tangguh Bencana (Gema Destana),” ujarnya.

Kepala BPBD Hj Syamsuryani bersama anggotanya dan warga saat pembentukan desa tangguh. Mereka memasang rambu-rambu peringatan, jalur evakuasi dan titik kumpul saat bencana terjadi.

Gema Destana tersebut merupakan desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana serta segera memulihkan diri dari dampak bencana. Bencana harus menjadi urusan bersama. ” Jika paradigma selama ini masyarakat selalu sebagai pihak yang diselamatkan atau ditolong, kini harus sebagai penolong atau orang yang menyelamatkan orang lain,” tutur ibu dua anak itu.

Gema Destana tersebut dibangun kerjasama antar pemangku kepentingan baik dari pemerintah, swasta, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok-kelompok lain yang peduli. Dukungan yang diberikan pemerintah berupa sumber daya dan teknis bagi pengurangan risiko bencana. “Masyarakat di wilayah rentan itu sangat penting keberadaannya. Karena ketika musibah datang, merekalah yang lebih dahulu tahu dan berada di lapangan hinggga ada reaksi cepat dalam meminimalisir risiko dampak khususnya korban jiwa,” paparnya.

Kepala BPBD Hj Syamsuryani bersama suami dan anaknya

Setidaknya, sembilan desa yang terdapat Gema Destana. Mereka diedukasi, hingga adanya pemasangan ramburambu berupa jalur evakusi, papan peringatan hingga titik kumpul jika musibah terjadi. “Masyarakat yang dibina bakal menjadi ujung tombak yang bertindak sebelum BPBD tiba di lapangan. Gerakan ini pun mendpat dukungan penuh dari Bupati Kolut Nur Rahman Umar,” katanya.

Ada enam komponen Destana antara lain legislasi, perencanaan, kelembagaan, pendanaan, pemngembangan kapasitas dan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Masyarakat yang terlibat menjadi inisiator, perencana dan pelaksana. “Prinsipnya dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Semua desa rentan bencana, akan kami akses kedepan untuk pengembangan program Gema Destana tersebut,” pungkasnya. (rus/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *