Ida Purwastuti

KENDARIPOS.CO.ID–Penularan penyakit tuberkulosis (TB) sudah harus mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka. Pasalnya, jumlah warga Bumi Mekongga yang menderita penyakit infeksi paru-paru karena kuman tersebut, sudah mengkhawatirkan.

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menyebutkan, jumlah penderita penyakit menular itu selama Januari hingga akhir Agustus 2021 tercatat sudah mencapai 194 orang. Wakil Supervisor TB Dinkes Kolaka, Ida Purwastuti, SKM, mengungkapkan, penderita penyakit infeksi paru-paru tersebut tersebar di seluruh kecamatan.

“Penderita TB yang paling banyak itu ada di Kecamatan Kolaka sebanyak 41 kasus dan di Kecamatan Pomalaa ada 34 kasus. Penyebab dua kecamatan itu menjadi yang paling banyak terdapat penderita TB karena merupakan wilayah paling padat penduduk,” ungkapnya, Jumat (17/9).

Ida Purwastuti menjelaskan, penyakit TB dapat menular. Olehnya itu, agar kasus tidak terus meningkat, pihaknya selalu memberikan edukasi kepada petugas Puskesmas terkait pencegahan dan pengobatan penyakit TB. “Petugas Puskesmas itulah yang selanjutnya melakukan sosialasi terkait TB pada masyarakat di wilayah tugas masing-masing,” ujarnya.

Kata Ida, jumlah penderita tahun 2021 lebih sedikit dibanding dengan tahun sebelumnya. Tercatat, penderita TB tahun 2020 mencapai 303 dan sembilan diantaranya meninggal dunia.

Menurutnya, penurunan jumlah tersebut karena adanya pandemi Covid-19. Warga yang memiliki gejala TB enggan berobat ke Puskesmas karena gejalanya hampir sama dengan Covid-19.

“Gejalanya memang hampir sama seperti batuk, sesak nafas dan demam. Perbedaannya, penderita TB selalu mengeluarkan keringat berlebihan di malam hari, meski tanpa aktivitas. Selain itu, berat badannya juga menurun drastis,” paparnya. Agar pencegahan dan penekanan kasus TB lebih maksimal, maka Ida berpesan kepada warga yang memiliki gejala segera berobat ke Puskesmas.

Sebab, pengobatan TB membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan, jika tidak ditangani secara medis maka dapat menyebabkan penderitanya meninggal dunia. “Pengobatan TB itu minimal enam bulan dan paling lama bisa sampai sembilan bulan, bahkan dua tahun, tergantung dari tingkat keparahan. Pengobatan tersebut juga tidak boleh putus,” pesannya.

Ida menegaskan, seluruh biaya pengobatan TB di Puksesmas gratis. “Jadi mulai dari pemeriksaan dahak dan pengobatan hingga sembuh itu semua ditanggung. Jadi, jangan takut berobat ke puskesmas jika merasakan gejala TB,” ulangnya, mengingatkan. (b/fad)