Nelayan Butuh Edukasi dan Alat Ramah Lingkungan

MUHAMMAD RUSLI/KENDARI POS
NELAYAN : Edukasi dan pengawasan lebih intens dari pihak terkait untuk mencegah kerusakan ekosistem perlu dilakukan pada nelayan. Di Kolut, perhatian khusus Pemerintah dilakukan dengan memberikan bantuan alat tangkap ramah lingkungan. Tampak seorang nelayan sedang membenahi jaringnya yang sobek.

KENDARIPOS.CO.ID– Sebagian besar masyarakat Desa Lawata di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut) khususnya yang mendiami wilayah pesisir, berprofesi sebagai nelayan. Mata pencarian sehari-hari dengan cara melaut tersebut butuh dukungan alat tangkap khususnya yang ramah lingkungan.

Kepala Balitbang Kolut, Masmur Lakahena, menjelaskan, tahun ini pihaknya memiliki program khusus yang menyasar Desa Lawata khususnya masyarakat Bajo nelayan. Pihaknya telah menyerahkan sebuah rumpon perahu sebagai tempat berkembang biak hewan laut.

“Mereka selama ini memang masih mencari ikan secara nomaden di Teluk Bone. Baik di atas permukaan maupun menyelam,” katanya, Kamis (16/9). Namun, ada kebiasaan yang membuat Masmur Lakahena resah. Karena ia mendapat informasi jika dari garis pantai pesisir Utara Kolut ada aktivitas menangkap ikan dengan cara meledakkan bom. Itu tentu merusak ekosistem dan berimbas pada hasil tangkapan sendiri.

“Kami ingin mereka menangkap ikan tetap dengan cara terhormat dan mengedukasi jika tindakan mereka akan merugikan diri sendiri, laut dan masyarakat lain,” tuturnya. Makanya, Balitbang memberikan sebuah rumpon perahu dan telah terpasang di pesisir laut Lawata. Wadah ini bisa dipasang di laut dangkal maupun dalam yang berfungsi menarik gerombolan ikan hingga lebih mudah ditangkap. “Tahun ini kami harapkan lima rumpon terpasang,” ucapnya optimis.

Masih maraknya aksi ilegal fishing pada sejumlah titik di perairan Kolut menurut Masmur memang perlu edukasi dan pengawasan lebih intens dari pihak terkait untuk mencegak kerusakan ekosistem. Tentunya, perhatian khusus melalui bantuan alat tangkap ramah lingkungan sangat dibutuhkan semua nelayan termasuk masyarakat Bajo tersebut.

“Stigma yang terus berkembang di masyarakat, tiap ada bom ikan yang meledak pasti menebak itu dari masyarakat Bajo. Meskipun itu belum pasti,” tandasnya. (c/rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *