Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Ini berita yang belum tentu benar. Tanyalah mereka yang pernah bertugas di Kalimantan. Agar fokus, tanyalah mereka yang pernah bertugas di Kalimantan Timur. Saya sendiri tidak bertanya. Tidak bertanya tapi, diceritakan. Cerita tanpa ditanya.

Mereka yang pernah bertugas menceritakan, lihatlah bangunan-bangunan mangkrak di Kalimantan Timur. Lihatlah tanah-tanah galian yang menyisakan tandus di Kalimantan Timur. Hoax atau Fakta, saya tidak tahu. Saya hanya diceritakan. Saya tidak bertanya.

Dari cerita, di Kalimantan Timur jangan lagi berpikir sebagai daerah petro dollar. Sekarang, di Kalimantan Timur ibarat pemain judi, sudah posisi: selang. Banyak bangunan mangkrak ditinggal begitu saja. Bekas-bekas tambang yang dulu menggiurkan dan menjadi starting point kebahagiaan, kini tampak sebagai tempat keprihatinan menuju kesengsaraan. Ya, risiko sebagai daerah tambang, kini gilirannya untuk disebut sebagai daerah bekas pertambangan.

Ini Berita Benar. Di Sulawesi Tenggara (Sultra) baru mulai, kelak juga akan melewati fase sebagai status bekas daerah tambang. Agar tak seperti daerah-daerah bekas tambang lainnya yang mengakhiri hidupnya sebagai daerah miskin kerontang atau dikonotasikan sebagai daerah mati, maka mestinya, para pihak mutlak melakukan pemetaan dan antisipasi dini. Tapi, saya apriori. Kenapa? Belum semua faham. Faham apa? Ketahuilah bahwa karakter korup sesungguhnya lebih jahat dari prilaku korup.

Ini Berita Fiksi. Masa kecilku, belum ada TV. Radio juga hanya yang 2 band. Itupun, di kampung saya hanya La Ndiloba yang punya radio 2 band. La Ndiloba keliling kampung dengan radio 2 band-nya. Karena tak ada-alat hiburan, maka sebagai pengantar tidur, ibuku menina-bobokan saya dengan cerita fiksi berjudul Paa-paando. Agar terlihat keren, saya sebut saja Pulando. Begini ceritanya.

La Ode Diada Nebansi

Menginaplah Pulando di perkebunan Ketimun. Di meja resepsionis, Pulando mencatatkan diri akan menginap di perkebunan Timun yang paling lama, sesuai dengan ketentuan perkebunan. Waktu terlama sesuai ketentuan adalah selama dua pekan. Selama di sana, kerjanya, tidur dan makan timun. Keenakan makan timun, Pulando ingin memperpanjang masa inap. Ndak ada masalah. Silakan.
Persoalannya, resepsionis tak ragu dengan Timun dihabiskan Pulando selama dua minggu, namun yang sangat diragukan adalah niat terselubung Pulando yang ingin memperpanjang masa inapnya. Kelakuanmu tak ditakuti, yang ditakuti adalah karakter Pulandomu.

Sadar akan keresahaan para kelinci yang bertugas sebagai resepsionis, Pulando kemudian menawarkan timun muda kepada para resepsionis untuk mengamandemen buku catatan penginapan yang mensyaratkan waktu terlama dua pekan. Pulando meminta tambahan waktu tiga hari. Apakah disepakati atau tidak, dan seperti apa cerita selanjutnya, saya tak tahu lagi karena sudah tertidur. Kok? Ya, tadi kan saya bilang cerita pengantar tidur.(nebansi@yahoo.com)

Keresahaan Para Kelinci