Merajut Mimpi, Menggapai Cita-cita – Kendari Pos
Nasional

Merajut Mimpi, Menggapai Cita-cita


-Yatim Sejak Kecil, Numpang Tinggal di Keluarga

KENDARIPOS.CO.ID — Jalan hidup sesorang tak bisa ditebak. Siapa yang menyangka, Drs Buhari M.M bisa surfive. Umur lima tahun, ia harus ditinggalkan ayahnya. Setahun kemudian, ibunya menyusul dipanggil Sang Khalik. Di usia yang masih sangat belia, pria kelahiran Desa Kamiri 25 Juni 1968 ini sudah menyandang status anak yatim piatu. Padahal saat itu ia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya.

Setelah orang tua meninggal dunia, Buhari belia harus berjuang di masa-masa sulit. Selain kehilangan tempat bersandar, ia tak tahu bagaimana menata masa depannya. Apalagi ia merupakan keluarga besar. Buhari adalah anak ke tujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Abdul Hamid dan Wellang. Sang kakaklah kemudian mengganti peran orang tua dan mengasuhnya.

DRS BUHARI M.M

Beban hidup yang diamali Buhari justru menjadi pemacu semangat. Dengan segala keterbatasan, ia bisa melanjutkan studi meski harus numpang tinggal di rumah keluarga. Jarak sekolah yang jauh tak menurutkan semangatnya untuk meraih masa depan. Pada akhirnya, segala kesabaran itu membuahkan hasil. Buhari mendapat kepercayaan strategis di pemerintah. Saat ini, Buhari tercatat sebagai Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Pemkab Kolaka Utara.

Semasa SD, Buhari di bawah asuhan kakaknya hingga tamat sekolah di Desa Kamisi yang kala itu masih merupakan wilayah administrasi Kabupaten Kolaka. Usai tamat, ia nyaris tak melanjutkan studinya. Pasalnya, hanya ada dua sekolah tingkat SMP. Itu pun sangat jauh yakni di Lasusua dan Pakue.

“Terus terang saat itu saya tidak tahu juga akan jadi apa kelak. Kedua orang tua tiada, sementara kami banyak bersaudara,” ujarnya mencoba merangkai kenangan.

Kelengkapan adminduk kaum disabilitas menjadi perhatian Disdukcapil Kolut.

Lantaran jarak sekolah yang cukup jauh, Buhari terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Ia pun pindah ke Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk melanjutkan pendidikan dan menetap di rumah sepupunya. Ia termotivasi untuk terus melanjutkan studi. Pasalnya, belum ada di keluarganya yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi.

“Tadinya, orang tua sangat mendukung kami semua anak-anaknya bisa terus lanjut sekolah. Namun setelah ibu-bapak kami meninggal mau apa lagi, semua terpencar. Kondisi tidak memungkinkan untuk semua bisa lanjut pendidikan hingga harus memilih berhenti setelah tamat,” tutur Buhari dengan nada serak.

Setamat SMP, Buhari kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Di masa putih abu-abu, ia tiga kali pindah sekolah sebab jaraknya telalu jauh. Uang saku dari kerabatnya, ia sisihkan untuk keperluan belanja perlengkapan belajar semisal buku dan lain-lain. Sebagai konsekuensi, ia memilih berjalan kaki dari rumah ke sekolah.

“Saya juga risih minta-minta kepada keluarga. Uang becak saat itu masih Rp 250. Jadi sejak SMP-SMA saya sering jalan kaki dan berangkat lebih pagi agar tidak terlambat,” paparnya.

Melihat kondisi ini, kerabatnya yang tinggal di Bandar Lampung turut empati. Buhari pun diajak terbang ke tanah Sumatera. Ia lalu menetap bersama di rumah keluarganya yang mendorong dirinya untuk terus melanjutkan studi. Dukungan itulah yang membuatnya bersungguh-sungguh belajar guna mewujudkan impian kedua almarhum orang tuanya.

Setelah menamatkan studinya di SMA, Buhari kemudian mendaftarkan diri di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Bandar Lampung. Ia memilih pendidikan kedinasan karena pertimbangan biaya. Untuk SPP telah ditanggung pemerintah. Sementara biaya kebutuhan sehari-hari, dirinya bisa nyambi kerja. Segala ikhtiar tak sia-sia. Ia pun berhasil menyelesiakan studi dan tercatat sebagai lulusan terbaik ketiga.

Setamat di IPDN, Buhari mendapat penempatan di kecamatan yang cukup jauh bernama Tulang Bawang (sekarang kabupaten). Jarak tempuh perjalan darat sekitar lima jam dari Bandar Lampung. Setelah itu, Buhari masih harus naik perahu untuk bisa sampai ke lokasi penempatannya.

Di tengah kesibukannya, ia tetap berusaha melanjutkan studinya. Dua tahun bekerja, ia kembali melanjutkan S1 sebagai tugas belajar Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi LAN Jakarta. “Alhamdulillah dari 50 an orang dari IPDN ikut tugas belajar di sana (LAN Jakarta) hanya lima diterima termasuk saya yang dibiayai pemda,” bebernya.

Berawal dari sana, karir Buhari terus menanjak dengan berpindah-pindah dari satu daerah dan instansi lain. Hingga pada akhirnya ia memilih pulang di kampung halamannya tahun 2006 silam. Buhari mengaku sangat terharu mengenang seluruh perjalan hidupnya meninggalkan sanak saudara dan kampung halaman demi sekolah.”Saya lalui semuanya dengan ikhlas. Saya meninggalkan kampung untuk sekolah maka saya fokus agar tetap bisa bersekolah,” imbuhnya.

Saat ini, Buhari telah memiliki dua orang anak. Bersama istri tercinta, Sumarni S.Sos, ia berusaha menanamkan sikap pantang menyerah kepada anaknya. Anak sulung bernama Arini Aprilliani, S.Farm berprofesi sebagai dosen di sekolah tinggi farmasi Muhammadiah Tangeran Banten. Sementara anak keduanya bernama Agistra Febriandi yang kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Telkom Bandung. (b/rus)

Dipercaya Sebagai Pemateri di Forum Nasional
-Bawa Kolut Sabet Penghargaan

Sebagai ASN, Buhari mengawali karier dari bawah. Mulai dari staf, eselon 5b, 5a, eselon 4, eselon 3 hingga menduduki jabatan eselon 2. Buhari mengaku tidak menyangka bisa menduduki jabatan saat ini. Sebab ada anggapan bahwa untuk menduduki suatu jabatan harus memiliki koneksi.

“Saya kira tidak selalu demikian. Saya contohnya. Saya tidak pernah minta-minta penempatan. Namun saya selalu mendapat kepercayaan dari pimpinan,” ujarnya.

Pada dasarnya, ASN harus siap dan patuh pada pimpinan dimana pun ditempatkan. Tugasnya hanya mengabdi dan bekerja sesuai tupoksinya sebaik mungkin agar bisa meninggalkan kesan positif selepas ia meninggalkan jabatannya. “Selaku abdi negara, keihlasan mengabdi kunci keberhasilan dalam hal apapun. Ditempatkan di mana saja siap mau itu di tempat basah atau kering harus siap. Kita harus memikirkan apakah yang bisa kita berikan kepada organisasi, bukan sebaliknya,”paparnya.

Selama menjabat sebagai nahkoda di Disdukcapil, hampir tidak terdengar lagi ada keluhan masyarakat soal pelayanan. Di era kepemimpinannya, ia melakukan berbagai inovasi dan program yang memudahkan pelayanan. “Kami tak hanya sekedar mengklaim. Coba ditanyakan langsung ke masyarakat yang berurusan di kantor,” tantangnya.

Layanan administrasi kependudukan kata dia, dibuka tiap hari bahkan di hari libur. Percetakan dokumen bisa dilakukan di kantor Desa dan Kelurahan tanpa harus ke kantornya terkecuali mencetak KTP. Saat ini, pihaknya melakukan jemput bola langsung ke lapangan termasuk layanan khusus bagi para lansia dan lainnya. “Via offline maksimal dua jam tuntas dan online maksimal dua hari karena kami dahulukan offline,” katanya.

“Kami kerap melakukan perekaman di lapangan. Tidak hanya di kantor keluhahan dan desa, namun juga di rumah warga. Dokumennya setelah kami selesaikan akan kami antarkan langsung ke rumahnya. Di sisi lain, layanan adminduk tak dipungut biaya alias gratis termasuk layanan pengantaran,” tambahnya.

Program Disdukcapil Kolut kata dia, mendapat apresiasi pemerintah pusat. Tak heran, inovasi Disdukcapil Kolut terpilih menjadi salah satu dari 20 instansi yang dipilih memiliki inovasi yang layak dijadikan role model percontohan oleh 500 an kabupaten yang ada di Indonesia. Persembahannya itu juga telah ditampilkan di TV Desa Kemendes PDTT.

“Di Sulawesi, hanya dua Disdukcapil yang menerima yakni Kolut dan Makassar. Agustus lalu juga diminta sebagai pemateri secara virtual oleh Dirjen Dukcapil untuk memaparkan program inovasi kami,” bebernya.

Capaian ini, tak terlepas dari kekompakan dan semangat para jajarannya dalam memberikan pelayanan terkhususnya kepada masyarakat. Ia juga kerap memberikan motivasi dan perlu saling pengertian antara satu dengan yang lain agar tercipta kenyamanan dalam bekerja, membangun harmonisasi yang lebih erat dan ikhlas melayani.

“Benar, jika kita digaji untuk bekerja. Tetapi jika mampu berinovasi dan mendapat apresiasi, itulah prestasi yang menjadi nilai tersendiri dari sebuah pengabdian yang menjadi kesan positif kepada semua orang saat meninggalkan kursi jabatan,” pungkas suami Sumarni ini. (b/rus)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy