Menghitung Dollar di Atas Pincara, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Menghitung Dollar di Atas Pincara, Oleh : La Ode Diada Nebansi

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

KENDARIPOS.CO.ID — Sebagai jurnalis, saya merasa berdosa atas kematian tiga orang warga yang akan menyeberangi sungai Pohara di Bondoala, menggunakan Pincara. Merasa berdosa karena saya tak memberitakan ancaman bahaya di jalur “basah” menuju kawasan industri Morosi ini. Setidaknya, ada tiga ancaman bahaya yakni, kendaraan kecebur di sungai, hanyut terseret arus dan terakhir: ancaman disantap buaya.

Saya merasa berdosa. Kenapa saya tak pernah memberitakan bahwa menuju kawasan Industri Morosi masih terdapat hambatan sungai. Saya tak pernah memberitakan jika pilihan favorit masyarakat menuju Morosi adalah via pincara dengan waktu tempuh dari Kota Kendari kisaran 20-25 menit. Memang, ada jalur utama dari Kota Kendari ke Morosi via Pohara. Tapi, waktu tempuh kisaran 1,5 jam. Selisih waktu 1 jam inilah yang menjadikan warga lebih memilih jalur alternatif menuju Kawasan Industri Morosi yakni, via Pincara. Jalannya sudah teraspal. Tapi, yah itu tadi, terhambat sungai Pohara yang jika dibangun jembatan, bentangannya kira-kira 50an meter. Tapi bagaimana caranya bisa dibangun jika status porosnya tak jelas. Poros yang jelas saja di Raha-Wamengkoli tak digelontorkan anggaran, apalagi poros menuju kasawan bisnis.

Saya merasa berdosa. Berdosa karena saya tak memberitakan bahwa ada buaya di Sungai Pohara dan banyak orang tambang melintas via pincara dengan kandu-kandu penuh dolar.

Saya merasa berdosa karena tak memberitakan bahwa di seberang sungai ada kawasan yang masyarakatnya mendiskusikan bagaimana cara dapat duit sementara di seberang sungai sisi lainnya mendiskusikan cara bagi-bagi dollar.

Teringatlah ketika saya diskusi dengan salah seorang Muspida. Sultra ini memiliki kekayaan yang luar biasa. Dari sisi tambang saja, kalau dioptimalkan, maka untuk membangun sebuah project besar saja sesungguhnya sanggup. Nggak perlu utang. Ngapaaain ngutang-ngutang. 200 pemegang IUP saja, sebulan bisa dapat ratusan miliar. Setahun bisa triliun. Guedddhe bangat. Tiga “D”-nya, saking seriusnya. Dengar ini, saya hanya menggumam. Naiiih. Tiga “i”nya saking serius keherananku.

Dengan penjelasan ini, saya kemudian “ngeh” bahwa tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) memiliki posisi strategis. Tentu, ada harapan optimalisasi kerja TAPD. Dengan sundulan anggaran “Guedddhe” yang bisa disebut, tampaknya TAPD patut dan layak meminta arahan Muspida dalam rangka backup. Atau, dapatkah kita membentuk TAPD-diperluas? dengan melibatkan semua unsur empunya informasi tentang lobang-lobang pendapatan sekaligus meclearkan cara mendapatkannya.

La Ode Diada Nebansi

Misalnya, bertanyalah kepada Pak Kapolda, bertanyalah kepada Pak Kajati, bertanyalah kepada Pak Danrem, bertanyalah kepada Ka-BPK, bertanyalah kepada petinggi-petinggi kampus. Terakhir, ajaklah pimpinan-pimpinan media. Mari kita gotong memikirkan pembangunan daerah ini dengan tujuan mulia, daerahnya terbangun, masyarakatnya sejahtera, kita dapa-uam-banya, dus, lingkungan tetap lestari. Kita semua kan memiliki kompetensi, memiliki power, dan jika semua itu berjalan simultan dan padu maka tunggu, di akhir periode kepemimpinan orang-orang yang terlibat dalam TAPD Diperluas tadi, keyakinan saya, orang-orang di luar Sultra akan memposting status begini: Wow, Sultra sekarang maju pesat. Maju di zaman Gubernur Ali Mazi. Maju di zaman Kapolda Irjen Yan Sultra, maju di zaman Kajati Sarjono Turin, maju di zaman Danrem Brigjen Jannie Siahaan, maju di zaman Rektor UHO Prof Zamrun, maju di zaman Rektor Unsultra Prof Andi Bahrun, maju di zaman Dirut Kendari Pos, Irwan Zainuddin. Secara gradual, 17 Kabupaten/kota lainnya juga akan ikut maju.

Memang. Jalur menuju kawasan industri Morosi ini benar-benar menggelengkan. Dengan kematian tiga penyeberang pincara di Bondoala, pikiran saya lari ke persoalan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) terhadap pembangunan sebuah kawasan industri.
Maksud saya, rekomendasi AMDAL, apakah hanya tanggung jawab perusahaan atau pemerintah terdampak juga ikut bertanggungjawab? Bagaimanapun, ramainya pengguna pincara yang oleh orang Jakarta menyebutnya getek orang Muna menyebutnya Djambata Neleni-leni, orang setempat menyebutnya Dambata Lumango, adalah dampak dari pembangunan kawasan industri. Karena itu, pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat harus turun tangan untuk mengatasi dampak termasuk pemerintah terdampak dalam hal ini Kota Kendari dan Konawe Utara.

Tragedi Pincara, secara tidak langsung memaksa para penggiat atau Dewan AMDAL untuk berpikir tiga langkah kedepan. Dewan AMDAL jangan hanya terpelotot pada perusahaan wajib AMDAL tetapi juga harus meyakinkan daerah dan pemerintah terdampak. Pemerintah Kota Kendari lebih maju berpikirnya dengan mengantisipasi pembukaan jalan Puwatu Bondoala. Pemerintah Konawe juga ya, dengan melakukan pengaspalan di seluruh ruas jalan kabupatem-kecamatan yang terhubung dengan kawasan Industri Morosi. Demikian halnya dengan pemerintah Konawe Utara yang mengantisipasinya dengan jalan lingkar dan pengaspalan menuju dan atau keluar Morosi. Bukan cuma wilayah daratan tetapi juga kepulauan. Lihatlah pembukaan jalur fery Tondasi-Kasipute yang memudahkan pekerja dari kepulauan menuju kawasan industri Morosi.

Terutama jembatan pincara yang oleh orang Jakarta menyebutnya Getek itu. Ini tanggungjawab siapa? Menaruh tanggungjawab kepada Pemda Konawe, nah yang lewati naga-naganya boleh dikata bukan penduduk Konawe. Bersandar di pemerintah Kota, ndak ada hubungan adminstrasinya. Pastilah propinsi yang tanggung jawab dalam hal ini.


Jika tidak, ajak itu 200an pemegang IUP. Mari kita sepakat beraama, kita jadikan kinsensus agar tak ada yang dikrimanalisasi dalam misi mulia ini.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy