Tubuh muda Surahman intens terpapar terik matahari dan debu-debu jalanan dari Wuawua, Lepolepo hingga kawasan kota. Berprofesi sebagai kernet membuatnya karib dengan peluh, namun sekaligus menggembleng daya tahan fisik dan mentalnya sebagai bekal persiapan bersaing menjadi anggota Polri.

Keputusan membuang diri adari gugusan pulau di persimpangan laut banda adalah langkah revolusioner bagi napak tilas hidup Surahman.
Hijrah ke Kendari membawa setangkup harap akan suatu kehidupan yang layak dan lebih baik. Berangkat dari perahu yang kecil bukanlah hal mudah baginya untuk masuk ke percaturan hidup perkotaan.

Dari kampung ia tidak membawa cita-cita apapun. Hanya dengan modal tekad yang membaja, ia ciptakan cita-cita itu di tengah hingar bingar dinamika perkotaan, lalu mengejarnya mati-matian.

Perkenalannya dengan korps Bhayangkara cukup menggelitik. Ketika mengabdikan diri kepada salah seorang kerabat yang kesehariannya melakoni bisnis jual beli pakaian bekas di Kendari. Dalam bahasa lokal dikenal dengan sebutan “pakaian RB”. Pada zamannya, bisnis tersebut sangat ikonik di Wakatobi, utamanya di pulau Wangi-wangi (Wanci), tempatnya berasal.

Berjibaku dengan bisnis tersebut, ia banyak berinteraksi dengan petugas kepolisian. Saat ditangkap, kemudian berproses. Kala itu pakaian bekas (RB) masih identik dengan aroma-aroma ilegal. Hikmah dari interaksi tersebut menjadikannya banyak berkenalan dengan anggota-anggota polisi. Dengan postur tubuh tinggi dan tegap, Surahman muda sangat eye catching. Ia menarik perhatian. Lalu disarankan untuk mendaftarkan diri di kepolisian.

Berangkat dari situ, Surahman lalu membulatkan tekad. Melakukan persiapan-persiapan. Mengikuti kursus bahasa Inggris. Sembari melakukan persiapan, ia menghidupi diri dengan bekerja sebagai kernet mikrolet.

Pengalaman hidup dan tempaan kondisi membentuk mental dan karakternya. Berbekal tekad, ia camkan dalam diri bahwa harus pulang dengan membawa hasil terbaik. Setelah mengikuti seleksi masuk Polri, ia merasa beruntung, perjuangan, dedikasi dan kerja kerasnya serta campur tangan Allah SWT, terjawab dengan kegemilangan. Ia berhasil lolos. Kemudian mengikuti pendidikan SEBA MILSUK di SPN Batua dan menamatkannya pada tahun 1993.

Saat berdinas pertama kali di Bulukumba sebagai polisi tugas umum, Surahman mulai mengalami kontra kepribadian dengan tugas-tugasnya sebagai seorang polisi. Ia tak berminat pada tugas-tugas lalu lintas, reserse bahkan intelijen. Suaranya sangat fals dalam tugas bernada represif. Tugas-tugas itu lebih banyak bertentangan dengan karakternya secara personal. Pada rentang 1993 hingga 1995 menjadi momentum bagi Surahman dalam berkontemplasi. Memoar yang mengantarkan masa depan kariernya menjadi polisi kesehatan dalam korps Bhayangkara.(agr)

MEMBANGUN INTEGRITAS

Dalam kapasitasnya sebagai anggota polisi ia menekankan agar tiap personel tahu dan paham tugas-tugas polisi kemudian mengorelasikannya dengan kepribadian masing-masing. Tentu saja hal ini akan sangat bergantung dengan bekal dari rumah dan didikan orang tua seperti apa. Surahman menegaskan, apapun tugas, akan memberi warna dalam upaya menjaga integritas Polri.

Kemudian, yang paling berat dari tugas Polri, menurut penilaian Surahman ialah selaput tipis antara tugas perlindungan dan pengayoman terhadap tugas-tugas penegakan hukum. Dua hal tersebut adalah dua sisi yang sangat berseberangan. Saat melaksanakan tugas penegakkan, disitu akan ada pressure dan tindakan represif. Maka seketika itu pula Polri tidak melindungi orang, itulah letak sisi sulitnya. Orang banyak memandang secara universal. Secara umum. Padahal tugas-tugas Polri ada bagian-bagiannya.

“Hari ini saya bertindak sebagai penegak hukum, saya harus represif menindak kejahatan, tidak bisa tidak, Surahman harus lakukan itu apapun konsekuensinya. Ketika besok, saya berperan sebagai petugas bina mitra, pelindung dan pengayom, tidak bisa tidak. Saya harus perankan diri sebagai pelindung dan pengayom, ketika teman-teman menghakimi, oh jangan, saya harus lindungi, itu sisi yang terkadang integritas Polri dilihat sebagai sesuatu yang warna warni. Saat sebut mengayomi harus juga melihat tugas Polri yang lain,” tutur Surahman.

Bagi Surahman membangun integritas individu dapat pula dilakukan melalui jalur pendidikan. Pendidikan menjadi cara memberi teladan pada anak-anaknya dan sebagai upaya mengeksplorasi kapasitas pribadi. Filosofi pendidikan dari perwira polisi itu bukanlah materi sloganistik belaka, ia wujudkan prinsip tersebut dengan menempuh jenjang Doktoral jurusan Manajemen di UHO. (*)

BIBIT KEBAIKAN DARI KELUARGA

Kompol La Ode Surahman bersama istri Siti Amaliah menghadiri wisuda kelulusan anak pertamanya dari Akademi Kepolisian.

Ayah dan ibu adalah sosok paling bernilai bagi Surahman. Meski tidak memiliki pendidikan tinggi, ayahnya, alm. H. Laode Hamu, dan ibunya, Hj. Waode Yasni merupakan orang tua pekerja keras dan bertanggung jawab menafkahi Surahman dan saudara-saudaranya. Dengan segala keterbatasan, orang tua tak pernah putus memberi didikan. Ayah sebagai petani dan terkadang berlayar selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun merupakan situasi yang sangat sulit, namun ayah tetap ikhlas menjalaninya hanya demi membiayai pendidikan Surahman bersaudara.

Jerih payah keringat kedua ibu bapaknya memotivasi dirinya agar bisa berhasil dan hidup lebih baik lagi. Keputusannya merantau ke Kendari pada tahun 1992 adalah untuk mencari nasib baik, kuliah jika beruntung, selain itu mencari peluang-peluang lain agar bisa menjadi “orang”.

Ayahnya banyak membekali dengan mengajarkan Surahman arti sebuah perjuangan dan kebulatan tekad. Ayahnya selalu berkata, “walaupun kita orang kecil yang tak memiliki apa-apa, meski dengan hanya bermodal tekad maka tidak ada cita-cita yang tidak dapat dicapai”. Surahman pun mengimplementasikan keluhuran nilai-nilai itu ke dalam setiap gerak-gerik perjuangannya mengadu nasib di perantauan.

Ia pun menularkan semangat itu kepada anak sulungnya Larwanda Agung Maulana. Surahman telah memungkasi satu lagi kewajibannya sebagai orang tua dengan membimbing dan mendampingi sang anak lulus dari Akademi Kepolisian pada Juli lalu dan kini tengah menjalani masa dinas perdananya di Polda Kalimantan Utara. (*)

KEGAGALAN DAN PRESTASI

Surahman mengajarkan satu keyakinan bahwa selalu ada campur tangan yang kuasa di balik usaha dan perjuangan. Mengenang kegagalannya dalam tugas di kesatuan tak begitu banyak catatan penting. Baginya, laksanakan apa yang menjadi tanggung jawab secara total dan ikhlas. Surahman sempat berkelakar, “tugas Polri itu sebenarnya gampang saja, santai, yang membuat susah dan gagal ya individunya.”

Mengenai kegagalannya dalam mengarungi bahtera kehidupan, Surahman mengakui sudah banyak menghabiskan jatah gagalnya semasih muda dulu. Kegagalan demi kegagalan ia cicipi. Intinya, kegagalan jangan lebih kuat dari prinsip yang dipegang.

Pembawaannya yang down to earth membuat sosok Surahman terlihat bersahaja. Ketika ditanya apa prestasinya yang paling spektakuler?, jawabannya sangat sederhana namun tetap powerfull. Bahwa menjadi kebanggan dalam keluarga yang dibesarkan dari orang tua yang hanya petani sudah cukup mengisi penuh rongga dadanya dengan kebahagiaan.

“Saya cukup membangun keluarga kecil dengan baik, membuat pencitraan yang baik bagi keluarga besar adalah satu prestasi mengagumkan bagi saya”, tegasnya.(*)

SUMBER INSPIRASI

“Dalam bertugas, anggaplah pimpinan itu orang tuamu. Karena dia yang menitipkan rezeki untuk anak dan istrimu, untuk masa depanmu. Pimpinanmu itu adalah perwakilan tuhan di muka bumi untuk mengantarmu kepada keberhasilan”, begitu pesan orang tua yang melekat di dalam sanubari seorang Surahman.

Surahman mengaku, bahwa sumber segala inspirasinya adalah dari orang tua. Ia mengawali rutinitas pergaulannya di luar dengan membentengi diri dengan pesan-pesan moril orang tua. Surahman memegang teguh pesan-pesan tersebut dalam menjaga integritas diri, agar ia tak keluar dari rel kemanusiaan. Gemblengan dan didikan orang tua menjadi modal utama baginya dalam pergaulan dan menuntaskan tugas-tugas. Baginya, pimpinan sebagai orang tua adalah panutan dan teladan yang layak dihormati.(*)

FILSAFAT PENDIDIKAN

Setiap kita tak bisa membaca apa yang telah Allah torehkan pada diri masing-masing. Maka menjadi kewajiban bagi individu itu untuk mengeksplorasi apa yang dititipkan padanya, salah satu diantaranya melalui jalur pendidikan. Jika diberi kesempatan untuk bersekolah, mengapa tidak?. Bagi Surahman, kepuasan akan suatu hal itu hanya milik Allah SWT. Batasan itu pada yang maha kuasa. Sebagai hamba sepatutnya menjalani saja. Bahwa mimpi tak boleh mengukurnya hanya dari diri kita saja. Tetapi kita harus melihat apa yang Allah telah rencanakan pada diri kita untuk kemanfaatan kepada orang banyak dan kepada anak-anak kita.

Bagi pria bernama lengkap Laode Surahman, pendidikan adalah cara memberi teladan kepada anak-anaknya. Lahir dan besar disatu kampung kecil dengan segala keterbatasan orang tua ia selau diajarkan untuk bercita-cita tinggi. Dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya Surahman mendekap harapan besar agar menjadi pemicu dan motivasi bagi anak-anaknya.

Terlahir dari strata paling dasar (Secapa) di institusi kepolisian, secara langsung jenjang doktoral yang sedang ditempuhnya di UHO tak akan lagi bisa menunjang reputasi karirnya di kepolisian. Pria berpangkat Komisaris Polisi itu kembali meng-iqro dirinya tentang potensi lain yang dapat ia kembangkan di luar institusi kepolisian.

Di samping itu, pendidikan baginya adalah wadah silaturahmi. Dengan bersekolah ia bisa menyadari kemampuan diri sampai dimana. Ia jadikan pendidikan sebagai alat untuk menyugesti para generasinya. “Interaksi sosial yang tinggi dan kehidupan masyarakat yang serba kompleks, kita harus pandai-pandai membawa diri, dengan bersekolah tinggi kita bisa tahu ilmu-ilmu lain yang ada di luar institusi kepolisian”, ungkap lulusan cum laude Magister Science itu.

“Yang unik dari pendidikan saya memilih bidang ilmu yang bukan dari basic saya sejak awal. Saya justru memilih sekolah-sekolah sesuai dengan karakter saya. Contoh, saya punya karakter pandai komunikasi, suka interaksi, diskusi, pimpin rapat, potensi saya adalah berbahasa. Naluri saya menjurus kesana. Itulah makanya saya memilih sekolah sosial. S1 di FISIP, bukan kesehatan malah”, urainya.(*)