Prof.Eka Suaib (Guru Besar Fisip UHO & Ketua AIPI Cab.Kendari)

KENDARIPOS.CO.ID — Ekor jas, dalam bahasa Inggris yakni coat-tail effect. Istilah ini sudah umum diketahui yakni merujuk kepada hasil yang diraih oleh suatu pihak dengan cara melibatkan tokoh penting atau tersohor, melalui suatu perhelatan. Efek ekor jas dalam catatan ini adalah sebagai pengaruh figur atau tokoh dalam meningkatkan suara partai di pemilu. Sederhananya, partai politik akan mendapatkan limpahan suara dalam pemilihan umum anggota legislatif bila mencalonkan tokoh atau figur yang populer serta memiliki elektabilitas yang tinggi.

Awal mula studi ini, di pemilihan serentak pada di AS yang kesimpulan umumnya adalah terdapat hubungan yang kuat antara kekuatan elektoral seorang calon presiden dan partai yang meguisungnya. Artinya, seorang calon presiden atau presiden yang populer dengan tingkat elektabilitas yang tinggi akan memberikan keuntungan positif secara elektoral kepada partai yang mengusungnya sebagai calon.

Prof. Dr. Eka Suaib

Jika ditarik ke pilkada, maka dapat diformula seperti ini. Seorang calon gubernur atau gubenur yang populer dengan tingkat elektabilitas yang tinggi akan memberikan keuntungan positif secara elektoral kepada partai yang mengusungnya sebagai calon. Konstruksi tersebut dapat digunakan untuk mencoba memahami efek ekor jas Ali Mazi di Nasdem nantinya pada pemilu 2024.

Langkah taktis Partai Nasdem dengan mendorong Ali Mazi sebagai Ketua Nasdem dapat dibaca dari pikiran di atas. Sosok Ali Mazi adalah Gubernur Sultra saat ini. Dengan demikian dengan mendorong Ali Mazi sebagai Ketua Nasdem diharapkan dapat meningkatkan pencitraan partai.

Di Indonesia, politik elektoral selama ini sangat tergantung pada kharisma tokoh. Perolehan suara partai bisa ditentukan oleh kekuatan figur dalam partai. Yakni, ada figur kuat yang bisa diketahui oleh publik sehingga memiliki magnet politik untuk menarik simpati. Selama ini, hubungan antara pemilih dengan partai tidak stabil, atau rendah mengakibatkan kedekatan psikologisnya dengan partai menjauh.

Hal itu ditambah dengan absennya ideologi partai dalam pengambilan keputusan penting di partai. Akibatnya, partai secara praktis menempuh untuk menyasar semua segmen pemilih. Pada saat itulah, maka jalan pintas yang dilakukan oleh parpol yakni dengan menjadikan sosok ketua partai sebagai kampanye utama untuk mendekatkan partai dengan pemilih.

Menjadi menarik untuk dibaca, apa trade off antara kepentingan Ali Mazi dengan memimpin partai ini. Secara pribadi, Ali Mazi tidak mungkin maju lagi di Pilgub Sultra 2024. Dengan demikian, kita masih menanti apakah akan ada figur baru dari Nasdem yang akan dimunculkan di Pilgub nanti? Ataukah hanya akan merawat nama yang sudah ada yakni kader potensial seperti Tina Nur Alam yang saat ini anggota DPR RI. Sosok Abdul Razak, tampaknya tidak dipersiapkan menjadi figur gubernur dari Partai Nasdem.

Langkah politik yang bisa dilakukan menghadapi Pemilu 2024 yakni Ali Mazi dengan bertukar dengan Tina Nur Alam. Ataukah ada figur lain yang dipersiapkan? Matematika politisi tentu saja lebih baik dibanding kita. Catatan ini tidak bisa menghitung bagaimana matematika para politisi. Dinamika dan manuver politik masih akan terjadi. Apalagi, permainan politik pada masa ‘injure time’ kerap dipertontonkan pada arena-arena politik lokal.

Karena itu, efek jas dari eksperimen politik Nasdem Sultra kali ini tidak bisa diharapkan, Soalnya, momen di Pileg tahun 2024 lebih dahulu dilaksanakan sebelum pilgub. Masa jabatan Ali Mazi berakhir tahun 2023, maka ketokohan Ali Mazi saat itu bukan lagi sebagai gubernur, tetapi sebagai anggota DPR RI (jika mencalonkan diri).

Sisa waktu 2 tahun tersisa sebelum masa akhir jabatan adalah momentum yang baik untuk mengangkat elektoral partai. Jika mampu untuk meninggalkan prestasi spektakuler dengan sendirinya mampu memberikan insentif elektoral partai. Sebaliknya, jika tidak mampu meninggalkan peninggalan yang baik dalam pemerintahan akan memberikan efek terhadap partai. Karena itu, maka demitologisasi di partai sudah mulai perlu dilakukan. Caranya, dengan tidak mengandalkan pada kekuatan figur tertentu saja dalam membangun partai.

Mau tidak mau perlu kelembagaan dan pemantapan parpol adalah rute penting untuk ditempuh. Pemantapan parpol, baik dalam wujud perilaku yang sudah terpola, penegakan aturan partai, mekanisme partai yang demokratis. Logis, sebab jika ada instrumen yang tepat untuk menata dan mengatur aktivitas-aktivitas parpol, akan menjadikan Nasdem akan lebih kuat. (*)

Mau Tidak Mau Perlu Kelembagaan dan Pemantapan Parpol