-Dosen Inovatif yang Sukses Tangani “Mahasiswa Bandel”

KENDARIPOS.CO.ID — Sukses bukan hanya milik orang-orang yang lahir dengan “sendok perak”. Kesuksesan adalah milik siapa saja yang mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Seorang putera yang lahir di sebuah Pulau kecil di Kabupaten Wakatobi bernama Binongko bisa contoh. Di tengah keterbatasan ekonomi yang serba pas-pasan, ia tetap bisa melanjutkan studi meski harus kerja serabutan seperti menjadi kuli bangunan hingga buruh pelabuhan. Dia adalah Prof. Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si.

Bagi Prof.Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si, keluarga adalah segalanya.

Aminuddin tidak pernah membayangkan suatu hari dirinya akan menjadi seorang dosen dan menjabat sejumlah posisi penting di perguruan tinggi. Apalagi menyandang status guru besar termasuk menjabat Dekan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO).

Sejak belia, pria Rukuwa, Binongko 31 Desember 1965 memang pribadi yang gigih. Di setiap jenjang pendidikan yang ditempuh, Aminuddin selalu fokus dan mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik. Aminuddin tak mau banyak berpikir perkara akan menjadi apa dirinya di kemudian hari. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik dalam hidupnya.

Berasal dari keluarga yang sederhana, Aminuddin tak bisa berleha-leha. Dia adalah anak kelima dari delapan bersaudara. Ayahnya seorang nelayan sedangkan ibunya petani ubi kayu. Dari kecil, Aminuddin memang sudah hidup pas-pasan. Sadar diri atas kondisi tersebut, ia pun selalu giat bekerja. Mulai dari mengerjakan berbagai tugas dalam rumah seperti mencuci piring, mengumpulkan kayu bakar, dan mengisi tong-tong air, hingga membantu ibunya berkebun.

Mendapat ucapan selamat dari Rektor UHO, Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu (jas hitam) usai dilantik menjadi Dekan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan

Sang ayah yang seorang nelayan, hanya bisa pulang setiap enam bulan sekali dari berlayar.

Untuk membantu perekonomian keluarga, Aminuddin pernah menjajakan dagangan seperti pisang goreng, onde-onde, dan aneka kue lainnya di sekolah. Masih jelas di ingatannya, ketika ia terpaksa membeli dagangan sendiri dengan uang jajan yang dimiliki, hanya untuk menghibur orang rumah. Sebab dagangannya tidak laku sama sekali.

Begitulah Aminuddin kecil, kendati usianya masih sangat belia, ia pandai merasa. Aminuddin mulai bekerja menjadi kuli saat kelas 5 SD. Bersama teman-teman sekampung, ia bekerja memindahkan kerikil untuk dibawa ke bangunan atau rumah-rumah yang sedang dibangun. Pekerjaan itu terus digeluti sampai ia menamatkan SMP.

“Saya sudah terbiasa bekerja sejak kecil karena sadar diri sebagai orang yang tidak punya apa-apa. Bapak beralih menjadi tukang batu setelah pensiun berlayar ketika saya masih SMP. Jadi, saya sering ikut bapak bekerja. Misalnya, membantu mencampur semen dan menimba air,” kenang Prof. Aminuddin.

Meski lahir dan tumbuh di desa, Aminuddin selalu haus akan ilmu pengetahuan. Keterbatasan ekonomi tidak mampu membendung semangatnya untuk bersekolah. Tantangan yang dihadapi saat ingin melanjutkan SMA ternyata lebih berat. Kala itu, ia harus ke Kota Baubau karena di kampung halamannya belum ada sekolah tingkat SMA. Ia meyakinkan keluarga bahwa dirinya mampu hidup mandiri di perantauan.

Untuk biaya sekolah, Aminuddin mencari uang tambahan dengan bekerja sampingan.

Ketika duduk di bangku SMA, Aminuddin masuk kelas siang sehingga waktu pagi dimanfaatkan untuk bekerja di pelabuhan. Ia menjadi buruh pengangkut barang dari pelabuhan ke toko-toko dan pasar.

Saat bekerja itulah terkadang ia harus rela berpanas-panasan, membiarkan wajah dan kepalanya dipenuhi semen. Ia tetap semangat karena tidak ingin sekolahnya kandas karena biaya. Jika pekerjaan sedang padat-padatnya, Aminuddin terpaksa meninggalkan sekolah. Aminuddin termasuk anak yang cerdas. Meski sibuk bekerja, ia selalu meraih ranking satu di kelas. Tidak hanya pekerja keras dan berprestasi di sekolah, sejak kecil, Aminuddin juga sudah ditempa dengan ilmu agama. Pengajaran didapatkan langsung dari sang ayah yang merupakan imam masjid.

“Alhamdulillah walaupun dengan sengsara seperti itu, saya selalu ranking satu di kelas. Saya buruh yang pernah mengantarkan barang ke toko milik salah satu teman sekelas saya, tapi saya tidak merasa rendah diri. Saya yakin setiap manusia punya kelebihan dan kelemahan. Yang terpenting kita semangat bekerja dan pandai bersyukur,” tuturnya.

Prof. Aminuddin merupakan sosok yang sangat disiplin. Karena sifatnya itu, tak jarang orang menganggapnya sombong. Bahkan oleh sebagian besar mahasiswa. Namun, ia tidak pernah peduli atas penilaian buruk orang lain. Menurutnya, tugas dosen adalah untuk mendidik mahasiswa ke jalan yang benar. Sebagai dosen, Prof. Aminuddin selalu berusaha menjalankan tridharma perguruan tinggi dengan sebaik-baiknya. Membawa perubahan positif di manapun berada adalah misinya.

Salah satu tantangan terberatnya adalah saat menjadi Ketua Program Studi Agronomi pada tahun 2001. Ketika itu, di kampus masih sering ditemui kenakalan-kenakalan mahasiswa. Tidak sedikit yang berpakaian sesuka hati seperti memakai sendal, kaos oblong, dan celana sobek. Selama satu tahun menjadi Ketua Prodi, ia berusaha membimbing mereka agar menjadi mahasiswa yang lebih baik. Tentu saja sikap “suka mengaturnya” itu mendapatkan penolakan.

“Mahasiswa saya banyak yang protes. Tapi saya tidak mau mundur karena saya tahu apa yang saya lakukan benar. Saya tawarkan kepada mereka dua solusi. Melapor ke dekan supaya saya diganti, atau mereka yang pindah ke prodi lain,” katanya.

Tahun 2005, ia diamanahkan menjadi Pembantu Dekan (PD) 3 Bidang Kemahasiswaan Faperta UHO. Ia sangat memahami tidak akan diterima mayoritas mahasiswa karena sifat tegasnya. Setelah melakukan pendekatan-pendekatan akhirnya ia diterima dan dilantik menjadi PD 3 Faperta UHO di tahun 2005.

“Pernah sekali ada mahasiswa paling nakal memakai kaos oblong dan celana robek-robek. Saya hampiri, menonjok perutnya, dan menyuruhnya pulang. Saya sampaikan, saya tidak kenal siapa orang orang tuamu dan di mana rumahmu. Bisa saja saya malas pusing. Tunjangan saya tidak akan berkurang jika tidak mengurusi kamu, tapi saya tidak ingin tunjangan yang saya makan tidak halal karena mengabaikan mahasiswa yang perlu dibimbing,” terangnya.

Banyak perubahan positif yang dibawa Prof. Aminuddin pada setiap jabatan yang diembannya. Diantaranya, merombak tata administrasi fakultas menjadi lebih rapi, memberantas kecurangan dalam pemberian nilai saat menjabat Sekretaris Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat, merubah kebiasaan lobi mahasiswa saat mengusulkan tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga mengatur jadwal seminar untuk memberikan kesempatan mahasiswa wisuda tepat waktu selama pandemi.

“Pada tahun 2015, saya menjadi anggota senat dan didapuk menjadi Ketua Senat di tahun 2017. Saat menjadi ketua senat, saya juga menghadirkan berbagai inovasi.

Prinsipnya, di manapun diamanahkan, saya harus membawa perubahan yang lebih baik,” ujarnya. (b/uli)

Fokus Kuliah, Pilih Tak Berorganisasi
-Awali Karir jadi Dosen Tahun 1990

Pendidikan menjadi hal yang sangat mahal bagi Prof. Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si. Tidak mudah baginya untuk lanjut setiap kali menamatkan satu jenjang pendidikan. Sama halnya ketika ingin masuk kuliah. Selain biaya pendidikan, tempat tinggal juga menjadi kendala. Di saat teman-temannya bebas memilih untuk kuliah di kota-kota besar seperti Jawa dan Makassar, Aminuddin masih bergumul dengan pertanyaan, sanggupkah dirinya melanjutkan kuliah.

Prof.Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si

Beruntung, orang tuanya sangat supportif walaupun penghasilan pas-pasan. Demi mendukung sang anak mencicipi pendidikan di perguruan tinggi, orang tua Aminuddin memintanya untuk mengambil jenjang D1. Dengan begitu, durasi kuliah lebih singkat sehingga tidak memakan banyak biaya.

Namun, sebelum memulai perkuliahan, Aminuddin mendapat kabar bahwa dirinya diterima melalui jalur bebas tes di Universitas Halu Oleo (UHO), kala itu masih Unhalu. Sebagai anak yang sangat menghargai orang tua, Aminuddin membiarkan mereka yang memutuskan.

“Saya diizinkan kuliah S1 di Unhalu. Tapi persoalannya mau tinggal di mana. Beruntung ada teman yang menawarkan untuk tinggal di rumah keluarganya di Kendari. Saya seperti kejatuhan bulan. Ternyata benar bahwa ketika kita mau betul-betul sekolah, meskipun tidak punya uang, orang tua pas-pasan, ada saja jalan keluar,” ungkap Prof. Aminuddin.

Di keluarga itu, Aminuddin diterima dengan sangat baik. Diperlakukan layaknya keluarga sendiri walaupun tidak memiliki hubungan sama sekali. Selain kebaikan hati pemilik rumah, hal itu tidak terlepas dari pembawaan diri Aminuddin. Ia selalu pandai menempatkan diri. Melakukan berbagai pekerjaan rumah dengan penuh dedikasi tanpa diperintah. Menurutnya, hanya dengan begitu ia bisa membalas jasa karena diizinkan tinggal dan makan gratis serta mendapat perlakuan yang baik di rumah tersebut.

Aminuddin selalu senang ketika banyak pekerjaan rumah. Ia merasa dibutuhkan sehingga saat makan tidak perlu merasa sungkan. Ia bahkan rela tidak berorganisasi selama kuliah karena akan menyita banyak waktu. Aminuddin sadar diri hanya menumpang di rumah orang.

“Keinginan berorganisasi jelas ada. Tapi saya lebih mementingkan bagaimana agar kuliah selesai dengan baik tanpa membebani orang-orang di rumah. Sampai saat ini, saya tidak pernah putus silaturahim dengan mereka karena telah banyak membantu sawa sewaktu kuliah. Saya memahami bahwa hidup ini tentang bagaimana menjaga etika. Jika kita memperlakukan orang lain dengan baik, kita juga akan mendapatkan perlakuan yang sama,” terangnya.

Prof. Aminuddin menyelesaikan pendidikan S1 Program Studi Agronomi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Halu Oleo (UHO) tahun 1989. Ia diangkat menjadi dosen tetap Faperta Unhalu pada tahun 1990. Sejak itu, karirnya terus menanjak. Berbagai jabatan penting pernah diembannya. Mulai dari jabatan Koordinator Lapangan Kebun Percobaan hingga Ketua Senat UHO.

Ia mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi dosen. Selama kuliah, yang paling penting menurutnya hanyalah menyelesaikan studi dengan baik. Momen saat pertama kali dinyatakan lulus sebagai dosen tetap akan selalu istimewa bagi Aminuddin. Saat mendaftar, ia menyadari peluangnya tidak begitu besar. Selain tidak memiliki keluarga di lingkungan pejabat kampus, ia hanya mau menjalani seleksi dengan jujur tanpa bantuan siapapun.(b/uli)

Biodata
Nama : Prof.Dr. Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si
Jabatan : Dekan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo
TTL : Rukuwa, Binongko 31 Desember 1965
Isteri : Nuriyati Rahman, SKM, M.Kes
Anak : Muh. Shoddam Rahyatmin Manek, S.Ked
Nur. Shobrianti Rahyatmin Manek, S.Ked
Muh. Shoddiq Rahyatmin Manek
Muh. Shodrin Rahyatmin Manek

Pendidikan
SD Negeri 200 One-One 1971 – 1977
SMP Negeri I Binongko 1977 – 1981
SMA Negeri I Bau-Bau 1981 – 1984
S1 Faklultas Pertanian UHO 1984 – 1989
S2 Institut Pertanian Bogor 1995 – 1998
S3 Universitas Hasanuddin 2010 – 2014