-Tekuni Ilmu Ekonomi, Pilih Jurusan Sepi Peminat

KENDARIPOS.CO.ID — Tanpa disadari, tidak sedikit orang yang menggantungkan masa depan hanya karena ikut-ikutan. Padahal setiap orang punya bakat dan kemampuan berbeda. Namun tidak berlaku bagi Juhaidin. Di saat rekan-rekannya bercita-cita menjadi guru dan TNI-Polri, ia malah memilih menjadi akuntan.

Pada masa itu, impian pria kelahiran Langge, 29 September 1961 ini terbilang rada-rada aneh. Pasalnya, profesi akuntan masih jarang dan peluang kerjanya terbatas. Namun karena keterbatasan SDM itulah, ia berkesempatan menduduki jabatan strategis termasuk menahkodai Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) serta Inspektorat Wakatobi.

Kepala BPKAD Wakatobi, Juhaidin (kanan), Kepala BPK RI perwakilan Sultra, Andi Sonny dan Ketua DPRD Wakatobi, Hamirudin (kiri) saat penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kabupaten Wakatobi tahun 2020 yang berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK.

Sejak belia, Juhaidin memiliki minat belajar ilmu akuntansi. Dulunya disebut jurusan tata buka. Apalagi suami Hj Masna ini memang jago di mata pelajaran hitung-hitungan. Tak heran, ia memilih melanjutkan studi di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Kaledupa saat menamatkan bangku SD.

Untuk lebih mematangkan pengetahuannya, ia kembali melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Bukan sekedar keinginan, namun didukung nilai dan prestasi akademiknya. Keputusannya pun tidak hanya agar terkesan berbeda dengan yang lain. Tapi karena kesukaannya dengan ilmu akuntansi membuatnya tetap kokoh pada pendiriannya.

Juhaidin (kanan) ketika menjabat Kepala Inspektorat Wakatobi mendampingi Bupati Wakatobi saat itu, Arhawi (dua dari kanan) menerima LHP BPK tahun 2017 lalu.

Ayah tiga orang anak ini memilih untuk menekuni bidang yang disukai. Di sisi lain, orang tuanya memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk sekolah dengan pilihannya masing-masing.

“Dari SMEP saya sudah tekuni dan saya memilih jurusan tata buku di SMEA. Mungkin karena hobi saya di situ. Alhamdulillah, hal itulah yang mengantarkan saya hingga saat ini,” ujarnya.

Melanjutkan sekolah di Baubau, anak kedua dari tujuh bersaudara ini menyadari ada tanggungjawab dan tujuan yang harus dicapainya. Meskipun mempelajari ilmu menghitung adalah hobinya, bukan berarti tidak ada tantangan. Namun baginya, disiplin adalah modal utama yang harus dimiliki.

Tekun belajar dan disiplin waktu, Juhaidin akhirnya bisa lulus di SMEA dengan nilai yang cukup baik. Pada saat bersamaan, Inspektorat Buton membuka lowongan calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Mengingat jurusan tata buku masih sangat dibutuhkan, ayah dari empat orang anak ini tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

“Jurusan tata buku saat itu tidak banyak yang minati. Ketika ada tes pegawai dan syaratnya yang dikeluarkan oleh Inspektorat Buton saat itu nilai rapor minimal tujuh. Alhamdulillah, saya memenuhi syarat itu. Setelah lulus tahun 1980 di SMEA Baubau, tahun 1981 saya langsung pengangkatan,” bebernya.

Juhaidin

Setelah menjadi pegawai, Juhaidin menyadari ia telah memasuki dunia baru dalam hidupnya. Digaji oleh negara bukan dengan cuma-cuma. Setidaknya kualitas dan kinerjanya sangat dinantikan. Sebagai staf di Inspektorat Buton, Juhaidin mulai mempelajari banyak hal. “Karena masih banyak hal yang belum saya ketahui saya terus belajar,” tandasnya.

Hobinya mempelajari ilmu akuntansi sangat bermanfaat ketika ia bekerja sebagai ASN di Inspketorat Buton. Setelah dua tahun mengabdi, ia yang masih golongan II sudah ditunjuk dan dipercaya untuk menjadi bendahara. Kadang sebagai bendahara barang hingga bendahara gaji.

Karena kemampuannya itu, ia pun selalu mendapat kepercayaan menjadi bendahara di setiap instansi tempatnya berdinas. Baginya, kepercayaan itu merupakan amanah yang luar biasa bagi dan butuh tanggungjawab yang besar. “Di posisi itulah, saya semakin belajar karena ternyata masih ada hal-hal yang belum saya pahami,” terangnya.

Alumnus Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Baubau ini memilih konsisten dengan bidang ilmu yang sudah lama ditekuni. Pilihannya untuk belajar ilmu ekonomi sejak duduk di bangku SMEP hingga SMEA dilanjutkan pada saat kuliah. Di Unidayan Baubau, Juhaidin menempuh pendidikan Starata satu (S1) dengan mengambil jurusan Ekonomi pada tahun 1993. (b/thy)

Apik Jalin Koordinasi, Sabet Opini WTP
-Pulang Mengabdi di Kampung Halaman

Berdomisili di Kota Baubau rupanya tidak bisa menjamin Juhaidin akan menetap selamanya di kota yang punya icon Pantai Kamali ini. Kariernya yang stabil dan kinerjanya yang bisa diandalkan, Juhaidin lalu naik golongan II d dan ditunjuk membantu pemeriksaan kaitannya dengan keuangan, memeriksa bendahara barang, bendahara penerimaan hingga pengeluaran.

Tidak lama setelah itu, ia diamanahi menjadi Camat Kaledupa. Tentu saja hal ini sempat membuatnya kaget. Juhaidin yang merupakan staf tekhnis, tiba-tiba akan diperhadapkan dengan lingkungan sosial kemasyarakatan. Hal baru pun kembali ia jalani.

“Saya orang tekhnis, terus masuk dunia baru sosialisasi dengan masyarakat. Tentu bukan hal yang mudah bagi saya. Tapi di sisi lain saya merasa senang. Sebab saya akan mengabdi di kampung halaman. Itu berarti saya juga pulang ke pangkuan orang tua di Kaledupa,” terangnya

Satu hal yang pasti, sosial kemasyarakatan sangat berbeda dengan angka-angka di atas kertas yang dihadapinya selama ini. Meksipun terlihat sulit, pria yang akan purna bakti pada tanggal 29 September 2021 ini memilih belajar menyatu dengan masyarakat sekitar. Kaledupa, tanah kelahirannya dan masyarakat setempat adalah keluarga baginya.

Setelah menjadi camat dan Kabupaten Wakatobi otonom, ia akan kembali ke tempat asalnya mengabdi. Ia dan isterinya sepakat untuk pulang ke kediamannya di Baubau. Karena memang rumah ada di sana. Tapi oleh pejabat Bupati Wakatobi saya diangkat sebagai kepala bagian keuangan di BPPKAD Wakatobi. “Di situ saya mulai belajar lagi dan juga baca aturan lagi,” terangnya.

Sejak saat itulah, kariernya terus menanjak dan akhrinya menduduki jabatan Kepala BPKAD Wakatobi pada tahun 2018 hingga saat ini. Ia bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang hebat di sekelilingnya. Kerjasama yang apik antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kasubag program hingga para bendahara telah mengantarkan Kabupaten Wakatobi meraih WTP hingga ke tujuh kalinya.

“Alhamdulillah selama tujuh tahun kita raih WTP. Ini bukan berarti keberhasilan saya tapi semangat para bendahara, bagian progmam karena mereka kerja profesional. Ini berkat kerja sama yang baik. Saya akui adik-adik saya, Kasubag program, bagian program, bendahara pengeluaran, penerimaan serta yang lainnya cukup baik,” ujarnya.

Baginya, semua yang terlibat adalah pahlawan WTP. Di sisi lain, capaian ini tak lepas dari petunjuk dan arahan pimpinan dan DPRD Wakatobi. “Kita terus diberi semangat sehingga kita punya satu persamaan dalam mengelola skeuangan kita semua. Mudah-mudahan kedepan WTP tetap dipertahankan,” harapnya. (b/thy)