Biodata
Nama : Dr. Herman, SH., LL. M.
TTL : Buton, 6 Maret 1976
Jabatan : Dekat FH UHO
Istri : Ir Hariani Parawansa
Anak : Wahyu Aliansa
Warham Aliansa
Wizam Arib Aliansa

Pendidikan
SDN Lanto Buton Tengah
SMPN Lanto Buton Tengah
SMAN 3 Baubau
S1 UMI Makassar
S2 UGM Yogyakata
S3 Unair Surabaya

Riwayat Jabatan
Dekan FH UHO 2018-Sekarang
Wakil Dekan Bidang Adm Umum, Perencanan dan Keuangan FH UHO 2014-2018
Kepala Lab Hukum dan Krimonologi FH UHO 2010-2014
Ketua Program Ekstensi FH UHO 2007-2008
Sekretaris Lab Hukum dan Krimonologi FH UHO 2006-2007
Koordinator Perekaman Kasus Korupsi di Sultra (Kerjaama KPK-FH UHO) 2012-2018
Sekretaris Tim Bantuan Hukum YGO 2012-2017
Ketua Tim Adhoc Pemeriksa Pelanggaran Kode Etik UHO 2014-Sekarang
Ketua Mahkamah Sengketa Organisasi Kemahasiswaan UHO 2014-2017
Ketua Tim Bantuan Hukum UHO 2017-Sekarang

Dr. Herman, SH., LL. M.


-Tebus Tangis Ibu, Tukang Adu Jotos Memilih Insaf

KENDARIPOS.CO.ID — Jalan kesuksesan itu terjal. Butuh perjuangan dan ikhtiar. Siapa pun punya peluang tergantung kesungguhan. Mungkin ini bisa menjadi gambaran kisah Dr. Herman, SH., LL.M. Dulunya, ia pernah dicibir dan menyandang cap negatif sebagai “sampah masyarakat”. Namun siapa sangka, pria kelahiran Buton 6 Maret 1976 akhirnya bisa survife dan mendapat amanah memimpin Fakultas Hukum (FH) Universitas Halu Oleo (UHO).

Perjalanan Herman mencari jadi diri memang berliku. Ketika duduk di bangku SMA, ia nyaris putuh sekolah. Untuk menamatkan pendidikannya, suami Hariani Parawansa harus pindah sekolah. Ketika masih pubertas, Herman memang pernah salah jalan. Nongkrong di deker, suka tawuran dan bolos sekolah. Lantaran keseringan berantem, luka bekas adu jotos masih membekas di tubuhnya. Padahal awal masuk SMAN 1 Baubau, prestasi akademiknya cukup bersaing.

Namun ada sebuah moment yang membuat Herman akhirnya berbalik arah. Tetesan air mata sabu ibu seakan menyentaknya. Ia tak sanggup melihat bulir-bulir air yang keluar dari bola mata sang bunda. Di saat orang mencibirnya, ada ibu yang bisa berdoa dan berharap dirinya segara berubah. Ia tersadar bahwa “kasih ibu memang sepanjang jalan”. Orang tua tak akan meninggalkan anaknya dalam keadaan apapun. Curahan kasih sayang ibu dan ayahnyalah yang membuatnya terdasar dan menamatkan studinya di SMAN 3 Baubau.

Di kampung halamannya, pemuda atau pemudi yang tamat SMA akan menikah. Ketika menamatkan studinya, ia pun diminta orang tuanya mengikuti tradisi tersebut. Namun ia menolak. Rasa sakit orang tua mendengar cibiran masyarakat terhadap perbuatannya, terus berbayang-bayang. Ia justru termotivasi untuk membuktikan diri dan membalikan image. Anak yang dianggap sampah masyarakat ini bisa juga dibanggakan.

“SMA adalah masa yang paling berkesan. Sebab di situlah memontum penting dalam perjalanan hidup saya. Teman seangkatan saya banyak yang memilih berhenti sekolah. Ada pula yang memilih merantau atau berdagang. Tapi saya memilih tetap melanjutkan studi. Saya percaya, pendidikan bisa merubah pandangan orang dan bisa membanggakan orang tuanya,” kata Herman.

Baginya, orang tuanya adalah sosok yang paling berperan menata masa depannya. Sejak SD, sang ibu dan ayah secara bergantian selalu mengantarkanku hingga masuk pagar sekolah. Termasuk ketika menempuh pendidikannya di SMA. Orang tua khawatir, Herman tak masuk sekolah.

“Saat orang tua mau naik haji sekitar tahun 1992, mereka sudah tahu kelakuan saya. Hanya pakai seragam tapi tidak pernah masuk sekolah.

Sudah sering bolos. Sebab awalnya, saya anak baik-baik. Di semester I, saya rangking 8. Namun karena pergaulan, saya melorot di peringat paling buncit. Rangking 48 dari 48 siswa ketika naik kelas II. Kondisinya tak berubah. Justru saya jarang ke sekolah meskipun naik kelas III,” ujarnya mencoba merangkai kenangan masa lalunya.

Di kelas III, Herman pindah di SMAN 3 Baubau. Jika tidak, ia bisa terancam tidak lulus. Jaman itu, tidak ada sistem kompromi. Kalau tidak lulus harus mengulang. Di sisi lain, orang tua ingin dirinya tidak berteman dengan teman-temannya.

“Saya justru senang. Sebab lokasi dekat hutan. Jadi, bisa sering bolos. Sebenarnya, saya tidak mau lanjut. Tapi orang tua memaksa. Saya akan kedua dari 6 bersaudara. Anak pertama perempuan dan cepat menikah. Ketika ibu menangis, saya akhirnya sadar dan mulai giat belajar. Alhamdulillah, saya berhasil menjadi juara. Wali kelasku pun seakan tak percaya. Saya pun bebas tes di Universitas Patimura (Unpati) dan Universitas Gajah Mada (UGM),” imbuhnya.

Karena alasan tak ada keluarga di Jogja, orang tua tak mengizinkan dirinya melanjutkan studi di UGM dan menyarankan kuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Tak ingin mengecewakan orang tuanya, ia pun mengubur keinginannya kuliah di UGM. Di Kota Daeng, Herman akan tinggal di rumah kerabat.

“Kuliah di Makassar, saya dipaksa tinggal sama om. Saya didik keras dan disiplin. Saya pun aktif di organisasi kemahasiswaan, remaja masjid, BEM dan HMI.

Om saya sangat keras, tapi hikmahnya sangat luar biasa. Rata-rata yang tinggal dengannya hidupnya sukses. Berkat bimbingannya pun saya menjadi dosen,” katanya.

Di UMI, ia berhasil meraih gelar S1. Sejak saat ini, jalan meriah kesuksesan terbuka. Cita-citanya melanjutkan studi di UGM terwujud. Herman pun melanjutkan S2 di UGM dan menjadi lulusan terbaik. Selanjutnya, ia melanjutkan studi doktor di Univesitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Dalam melengkapi disiplin ilmu di bidang hukum, ia harus berjuang keras. Kuliah selama tujuh tahun dan hampir di-Droup Out (DO).

Berbekal kompetensi dan keilmuannya, karier sebagai dosen pun melejit. Setelah melalui jenjang karier, Herman pun diberi amanah menjadi Dekan FH UHO. Di bawah arahan Rektor UHO, ia melakukan berbagai pembenahan sarana dan prasarana (Sarpras). Sarpras harus representatif, FH akreditasi A dan semua layanan dari sisi fisik sesuai standar.

Menurutnya, dinamika di kampus adalah suatu keniscayaan. Untuk itulah, harus diukur. Menghadapi mahasiswa, itu tak lepas dari tanggung jawabnya. Sebab mahasiswa adalah amanah sehingga perlu dihadapi dengan pendekatan personal. Saat mereka demo, mahasiswa hukum
harusnya berbeda. Eksistensinya, harus lebih fokus pada menuntut keadilan dan disampaikan sesuai aturan.

“Setiap saat saya sampaikan teman-teman harus setara dengan FH unggulan di Indonesia. Kita ini harus lari sambil
lompat agar tujuan cepat tercapai. Ada sebagian yang menganggap model
kepemimpinan saya sedikit keras. Ada yang menganggap saya tidak
kenal lagi teman atau sahabat. Saya terima soal
kritikan. Tapi soal persahabatan itu tempatnya di tempat lain. Soal kampus itu profesional,” tandasnya.

“Uji kompetensi, alhamdulillah mahasiswa kita ada juara II di Universitas Udayana. Kita juga juara I debat di Unhas dan juara IV di Yogya. ari 49 orang yang ikut kompetensi seleksi tahap pertama, saya kirim dua tim keduanya masuk 20 besar. Parameter itu menunjukan FH UH sudah sesuai,” tambahnya.

Di sisi lain, pihaknya turut menjalin kerjasama dalam dan luar negeri. Kerja samanya dalam bentuk action. Tidak sedikit dosen yang diikutkan dalam pelatihan. “Terkait kegiatan dosen yang saya fasilitasi, kita dapat peringkat III UHO termasuk dosen FH. Shinta III, dalam dua tahun, Saya PCI dari peringkat IV naik ke tiga. Saya juga memacu ke peringkat II berarti sudah standar internasional,” jelasnya.

Ke depan lanjutnya, targetnya pengembangan Prodi. Saat ini, FH telah membuka prodi S2 dan selanjutnya S3. Sejauh ini, pihaknya tengah mengkonversi akreditasi A ke Unggul.

“Masih On Progres. Masih ada kewajiban dasar yg harus dipenuhi terutama rasio dosen dan mahasiswa. Program S2 dan S3 kita buka banyak, S1 kita batasi penerimaan Mabanya. Awalnya, 600 orang kita terima. Setelahnya jadi 500 orang. Saya hanya menjaga rasio dosen dan mahasiswa. Prinsip dalam penerimaan Maba, saya tidak kejar kuantitas lagi tapi kualitas. Kemarin, turunkan 400 orang. Minimal tahun depan, kuotanya sama dengan tahun ini,” jelasnya. (mal)

Pegang Teguh Falsafah Orang Tua
-Kepincut Gadis Remaja Masjid

Jujur dan ikhlas. Itu kunci yang berusaha ditanamkan orang tua terhadap Herman. Falsafah hidup itulah yang selalu dijaga. Apalagi ia bukanlah dari keluarga yang berkecukupan. Herman bangga dengan perjuangan orang tuanya. Untuk menafkahi keluarga, sang ayah pernah menjadi tukang becak di Kota Ambon. Makanya, ia sempat dititipkan kepada neneknya. Saat duduk di kelas III, ia baru bisa menyusul orang tuanya.

Dari menarik becak, ayahnya pun berhasil mengumpulkan modal sedikit demi sedikit. Setelah dianggap cukup, barulah mencoba peruntungannya dengan membuka usaha kecil-kecilan. “Orang tua saya sering berkata bahwa kita ini tidak punya apa-apa. Hanya falsafah itulah yang ditanamkan. Orang tua saya perantau dan pernah kerja dengan warga keturunan,” kata Herman.

Baginya, keluarga adalah segala. Tidak hanya orang tua, istri dan anak juga punya andil dalam memberi dukungan. Untuk urusan kantor, istri selalu memberi kepercayaan penuh. Ia pun rela tidak bekerja dan sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai istri dan membimbingan anak-anaknya.

“Selama berumah tangga, alhamdulillah sampai sekarang kami bisa menjaga komunikasi dan saling memahami. Saya lebih banyak memahami situasi di lingkungan keluarga. Istri keras dan saya sedikit sebagai penyeimbang,” tuturnya.

Perkenalannya dengan sang istri saat tinggal di Makassar. Kebetulan mereka satu kompleks. Rumahnya sang istri di ujung lorong. Saat keluar pasti melewati rumah tersebut. Makanya, sering bertemu. Di sisi lain, keduanya tergabung dalam remaja masjid di Kobang Syech Yusuf.

“Istri saya itu pengurus remaja masjid, tetangga dan sekampus UMI. Namun ia kuliah di pertanian. Dari situlah, timbulah benih-benih cinta. Momentumnya saat ada kegiatan Maulid. Kebetulan saat itu, saya ketua remaja mesjid,” kisahnya.

Di saat penyelenggaran Maulid, Herman pun ada kegiatan TC untuk kejuaraan karate antar Perguruan Tinggi (PT) di Surabaya. Awalnya, sang istri begitu jutek. Namun akhirnya luluh juga.Tidak hanya merebut hati istrinya, Herman juga harus menaklukan hati ayah mertua. Karakter mertua mirip-mirip pamannya tegas dan keras. Setiap lelaki yang bertandang ke rumahnya pasti diusir. “Namun saat saya datang justru diterima dengan baik. Tahun 2007, saya memutuskan mempersuntingnya atau selepas lulus kuliah,” katanya. (mal)