Profil Singkat

Nama : Drs Asrun Lio M.Hum.,PhD
TTL : Buton 25 Mei 1968
Jabatan : Kepala Dikbud Sultra
Istri : Dra. Wa Ode Munanah
Anak :

  1. Tiara Mayang Pratiwi Lio, S.Ked.,M.Si
  2. Dela Puspa Mawarni Lio, S.Ak

Riwayat Pendidikan :

  1. SD Neger 3 Baubau
  2. SMP Neger 1 Baubau
  3. SMA Neger 1 Baubau
  4. Lulusan Cumlaude S1 Pendidikan Bahasa Inggris UHO Tahun 1990
  5. S2 Linguistik Unhas Makassar, Selesai 1997
  6. S3 ANU (The Australian National University), Canberra, Selesai 2015

Prestasi : Juara 1 Diklat PIM III di BPSDM Provinsi Sultra 2019
Hobi : Tenis Meja dan Bulutangkis.

KENDARIPOS.CO.ID — Tak ada yang bisa menebak nasib seseorang. Ungkapan ini bisa dilekatkan kepada sosok Asrun Lio. Dulunya, ia hanya anak “Kampung” yang merantau meninggalkan keluarga demi menjemput masa depan yang lebih baik. Persoalan finansial yang pas-pasan bukan menjadi halangan. Sang ayah hanya guru SD di sebuah kampung di Buton sementara ibunya hanya Ibu Rumah Tangga (IRT). Dibenak Asrun Lio belia kala itu hanya ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

Asrun Lio

Pria kelahiran Buton 25 Mei 1968 meyakini bahwa pendidikan adalah gerbang merubah nasib seseorang. Tak heran, tantangan dan kendala yang dihadapinya justru dijadikan motivasi. Berbekal spirit dan ikhtiar, ia mampu menuntaskan pendidikannya di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari dan Universitas Hasanuddin (UH) Makassar.

Gelar akademik di perguruang tinggi negeri belum membuat rasa dahaga Asrun Lio menimba ilmu benar-benar puas. Ia lalu memutuskan terbang ke Australia menempuh pendidikan Doktor di The Australian National University (ANU), Canberra. Dengan kompetensi keilmuannya, anak kedua dari delapan bersaudara ini pun mendapat kepercayaan dari Gubernur Sultra, Ali Mazi menahkodai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) di lingkup Pemprov Sultra.

Asrun Lio (kiri) mendampingi Gubernur Sultra, Ali Mazi dalam upaya penanganan covid-19 dan persiapan pelaksanaan PTM di sekolah.

Asrun Lio mengatakan setiap orang punya cerita sendiri-sendiri. Namun kegemilangan karir seseorang itu bukan datang begitu saja, namun butuh perjuangan. Demikian pun dengannya. Dengan keterbatasan gaji orang tuanya, ia harus realitis. Setelah menamatkan SMA di kampung, dirinya memilih melanjutkan pendidikan pada universitas terdekat, yang tidak lain adalah Universitas Halu Oleo Kendari.

“Kala itu tamat SMA, teman-teman saya di kampung, ada yang lanjut ke Makassar hingga ke Jawa. Karena saya adalah anak kedua dan adik-adik saya banyak, maka memilih kuliah di tempat terdekat dari Baubau saja. Itu pun sudah untung-untungan bisa melanjutkan kuliah. Selain karena keterbatasan gaji orang tua, juga ada kebiasaan di kampung bahwa tamat SMA langsung menikah. Hal ini tidak mengenal apakah pria atau wanita. Jadi dalam keluarga, saya merupakan contoh bagi saudara-saudara yang lainnya termasuk bagi kakak pertama saya,” kata Asrun.

Tidak hanya menunggu laporan, Asrun Lio (dua dari kiri) kerap turun di lapangan.

Ia ingat betul, saat hendak melanjutkan pendidikan ke UHO. Kemampuan orang tua sangat terbatas dari segi finansial, namun karena tekad dan rasa optiminya, Asrun mampu menjalaninya dengan mengikuti alur dan secara bertahap demi setahap. Hasilnya, anak dari seorang guru SD ini bukan hanya sebagai lulusan terbaik S1 Pendidikan Bahasa Inggris UHO tahun 1990, namun juga mampu melanjutkan S2 Linguistik di Unhas Makassar, dan S3 di ANU (The Australian National University), Canberra.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sultra, Asrun Lio (kiri) menyerahkan bantuan sarana dan prasarana Prokes di sekolah.

“Kita tidak pernah mengetahui masa depan seperti apa nantinya, olehnya dijalani saja dengan berupaya, bersabar dan berdoa. Apalagi kalau cerdas, tekun dan santun, maka bantuan akan datang dari arah mana saja,” kata Asrun.

Sebelumnya, Asrun bercita-cita ingin menjadi guru, sehingga dia pun memilih Pendidikan Bahasa Inggris di UHO. Setelah selesai S1 lalu mengajar di sekolah swasta di Kota Kendari, kemudian menjadi guru SMA hingga akhirnya pada tahun 1993 terangkat menjadi dosen di UHO.

Asrun mengakui tidak pernah berpikir akan menjadi Kadikbud Sultra, selain bercita-cita sebagai guru. Namun dalam perjalanan karirnya, dia mendapatkan kepercayaan tersebut. Gubernur Ali Mazi memintanya untuk menjadi penangung jawab sebagai Kadikbud Sultra sampai saat ini.

“Bapak Gubernur berharap, kami bisa mensukseskan visi misinya yakni bagaiman menjadikan Sultra maju, sejahtera dan bermartabat. Kalau implementasinya berarti kita berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang pendidikan. Artinya seluruh masyarakat kita itu wajib mengenyam pendidikan. Tidak ada alasan ekonomi, tidak ada alasan tidak ada ruang kelas atau tidak ada sekolah yang mau menampung. Karena itu bagian dari tujuan kita yakni peningkatan mutu dan perluasan akses. Artinya siswa-siswa pada usia sekolah wajib sekolah,” kata Asrun Lio. (b/ags)

Fokus Perbaiki Mutu Pendidikan Sultra

Di bawah komando Asrun Lio, mutu pendidikan Provisi Sultra berada diurutan 17 dari 34 Provinsi. Jauh lebih baik dari sebelumnya yang berada diurutan 30 se-Indonesia. Capaian itu tak membuat Asrun berpuas diri. Ia terus bekerja keras meningkatkan mutu pendidikan Sultra.

Menurut Asrun, masih banyak “PR” yang harus segera dituntaskan untuk meningkatkan mutu pendidikan Sultra. Berdasarkan informasi yang didapatkannya dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), dari delapan standar pendidikan jamiman mutu pendidikan, ada dua yang dianggap masih kurang, yakni standari sarana dan prasaran (sarpras sekolah) dan standar guru dan tenaga kependidikan.

Sosok guru melekat dari diri Asrun Lio (kiri). Saat berkunjung di daerah, ia menyempatkan berbincang dengan pelajar SMA.

Pada sisi standar sarpras sekolah, Asrun menyadari betul bahwa masih terdapak beberapa kekurangan. Diantaranya masih terbatasnya sarana gedung sekolah.

“Satuan pendidikan (sekolah) tidak bisa melakukan intervensi. Bagaimana dia mau membangum sekolah, bagaimana mau membangun ruang kelas baru, untuk akses para siswa. Nah ini yang perlu kita dorong agar sarana dan prasarana di satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB itu bisa sejajar atau sesuai dengan standar sarana prasarana itu. Inilah yang kemudian kita akan genjot,” kata Asrun Lio.

Selanjutnya pada standar guru dan tenaga kependidikan. Penyebaran guru di Sultra saat ini belum merata. Masih ada beberapa sekolah khususnya SMA/SMK hanya memiliki satu sampai dua guru yang berstatus sebagai ASN. “Ini perlu kebijakan atau perlakuan khusus agar bagaimana kondisi guru kita merata diseluruh sekolah. Maksudnya sekolah-sekolah itu memenuhi standar guru yang sudah diatur,” ungkapnya.

Sebagai bentuk upaya pemerataan guru di Sultra, Asrun Lio mengaku tengah menggagas sebuah aplikasi yang diberi nama SIAP GTK (Sistem Informasi Aplikasi Pemerataan Guru dan Tenaga Kependidikan). Aplikasi itu nantinya akan didukung dengan kebijakan Gubernur Sultra soal pemerataan guru.

“Nanti, guru-guru itu akan kita distribusikan sesuai dengan kebutuhan sekolah. Tidak lagi seperti selama ini, guru itu pindah atas keinginannya dengan alasan yang macam-macam. Ada karena orang tuanya sakit, karena mau pulang di tempat lahirnya dan macam-macam alasan lainnya. Ke depan tidak ada lagi guru yang bermohon seperti itu. Karena dia pindah by system,” ungkap Asrun Lio. (b/ags)