Fungsi Ekonomi dalam Keluarga, Oleh : Dr. H. Mustakim, M.Si – Kendari Pos
Opini

Fungsi Ekonomi dalam Keluarga, Oleh : Dr. H. Mustakim, M.Si

Penulis : Dr. H. Mustakim, M.Si (Penata Kependudukan dan KB Ahli Madya)

KENDARIPOS.CO.ID — “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar,” Al-Quran surat An-Nisa: 9

Secara kontekstual dalam ayat tersebut memang tidak dijelaskan secara pasti apa yang harus ditakutkan oleh kedua orang tua terhadap keturunannya saat kedua orang tua akan meninggal dunia. Hal ini menimbulkan beragam penafsiran dari para ahli tafsir. Misalnya, pertama, Miqsam bin Bujrah dan Hadhrami Al-Yamami berpendapat, ayat ini ditujukan untuk orang-orang yang menunggui orang sakit jelang kematiannya agar tidak melarang mayit untuk mewasiatkan hartanya kepada orang lain.

Pendapat kedua, Ibnu Abbas RA, Qatadah, Said bin Jubair, As-Sudi, Ad-Dhahak dan Mujahid menyatakan ayat itu ditujukkan kepada orang-orang yang mendatangi orang sakit jelang kematiannya, agar mereka tidak membujuknya untuk mewasiatkan seluruh hartanya kepada orang lain sehingga tidak menyisakan sedikitpun bagi ahli waris. Pendapat ketiga, ayat ini ditujukan kepada orang sakit jelang kematiannya dalam rangka melarangnya dari mewasiatkan harta secara berlebihan, sehingga selepas kematiannya tidak menyebabkan ahli waris menjadi orang-orang yang lemah secara finansial.

Dr. H. Mustakim, M.Si

Pendapat keempat, Ibnu Abbas RA dalam versi lain, menyatakan ayat ditujukan kepada para wali yatim dalam rangka memerintahkan mereka agar memperlakukan anak yatim dan hartanya secara baik. Seolah ayat ini mengatakan kepada mereka: “Hendaklah orang yang takut atas nasib anaknya selepas kematiannya juga takut menyia-nyiakan harta anak yatim orang lain yang lemah bila anak yatim tersebut dalam perawatannya”. Pendapat kelima, merupakan penafsiran yang lebih luas dari Abu Bisyr Abdullah bin Fairus ad-Dailami, yang menyatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia agar takut kepada Allah dalam hal yang berkaitan dengan anak yatim dan anak orang lain meskipun tidak dalam perawatannya. (Dirangkum dari penjelasan Ahmad Muntaha dalam https://islam. nu.or.id/post/read/125766).

Meskipun secara redaksional terjadi perbedaan pendapat terhadap tafsir ayat 9 surat an-Nisa di atas, namun ada satu “inti” yang sama dari semua pendapat tersebut yakni yang dimaksud generasi lemah yang harus kita khawatirkan dari anak-cucu kita kelak adalah generasi yang lemah secara finansial atau ekonomi. Hal ini sesuai dengan realitas yang banyak terjadi, jika kedua orang tua yang memiliki banyak anak meninggal dunia, sementara mereka tidak ada harta warisan yang ditinggalkan, biasanya nasib anak-anaknya yang menjadi taruhan. Benar, biasanya ada keluarganya yang peduli, mungkin dari pihak ayah atau ibu atau sepupu-nya, namun tidak semua nasib anak-anak yatim yang ditinggalkan kedua orang tua bagus dan bahagia. Mungkin dari sisi makan setiap hari pasti Allah beri melalui tangan siapapun. Namun dari sisi lain, terutama sisi jangka panjang, seperti tingkat pendidikan dan masa depan pekerjaan mereka, tidak semuanya mengalami nasib mujur.

Itulah sebabnya fungsi ekonomi dalam sebuah keluarga juga sangat penting. Begitu sepasang suami istri start melajukan bahtera rumah tangganya, semestinya harus sudah ditopang dengan ekonomi yang memadai dan siap. Ada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang cukup populer, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menikah maka segeralah menikah. Karena hal itu lebih menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat meringankan syahwatnya.”

Penulis pernah mengamati salah satu daerah di Indonesia yang mana di daerah tersebut banyak sekali kasus pernikahan dini. Bahkan sebagian orang tuanya merasa bangga jika anak perempuannya cepat menikah. Mereka menganggap anaknya “cepat laku”. Penulis sempat menanyakan kepada beberapa warga dan tokoh setempat kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Jawaban mereka kira-kira seperti ini: “daripada anak-anaknya pada kawin sendiri, lebih baik cepat-cepat dinikahkan!” Beberapa tokoh agama setempat menyampaikan alasan dengan menyebut hadits tersebut. Karena alasannya agama dan syari’at, penulis tidak berani protes saat itu.
Namun dalam pengamatan berikutnya penulis mulai risau karena di daerah tersebut kemudian tumbuh subur “janda-janda muda”. Kalau masih muda sudah menjadi janda tentu saja menikahnya masih kecil atau masih anak-anak atau nikah dini. Cerita warga setempat, kondisi seperti itu ternyata cukup merisaukan, banyak kasus perselingkuhan terjadi di daerah itu, kalau bukan perempuannya yang menggoda duluan, para suami pun banyak yang mulai “gila”. Lebih kaget lagi, sekitar tahun 90-an muncul di televisi berita yang mengabarkan bahwa daerah tersebut merupakan salah satu daerah pensuplai Wanita Tuna Susila (WTS) yang banyak dikirim ke kota-kota besar di Indonesia, utamanya Jakarta.

Dengan melihat pengalaman yang terjadi di daerah tersebut, saya saat itu masih kuliah di bidang agama (jurusan dakwah) kemudian berusaha meneliti lebih dalam “apa yang membuat para orang tua, terutama tokoh agama setempatnya sampai mengijinkan nikah din, bahkan dengan alasan yang disandarkan pada ajaran agama/syariat yang salah satunya menggunakan dalil hadits Nabi dari Abdullah bin Mas’ud di atas?” Ternyata (dari hasil penelitian) mereka menafsirkan kata istatho’a (mampu) dalam hadits tersebut hanya “mampu secara biologis” (seksualitas atau jimak). Mungkin mereka terpengaruh kata setelahnya yakni kata “al-baata” yang berarti “jimak” (hubungan biologis). Padahal yang dimaksud istatho’a/mampu bukan hanya sekedar mampu biologisnya. Tapi mampu segalanya. Penulis setuju dengan pendapat Ustadz Abdullah Haidir, LC yang mengartikan istatho’a dengan penafsiran ‘’cukup bekal untuk pernikahan dan biaya rumah tangga. ’’Menurut beliau “redaksi hadits ini asalnya memang diarahkan kepada para pemuda yang notabene merupakan orang yang sudah mampu berjimak. Dengan bukti bahwa ketika mereka belum mampu menikah (belum cukup perbekalan), disarankan bagi mereka untuk berpuasa dengan pertimbangan bahwa puasa dapat mengurangi syahwatnya. Jika yang dimaksud albaata pada hadits ini adalah ‘jimak’, maka anjuran ‘berpuasa’ bagi orang yang belum menikah karena belum mampu ‘berjimak’ menjadi tidak tepat.

Lebih lengkap lagi jika albaata dalam hadits ini diartikan sebagai ‘mampu berjimak dan memiliki perbekalan cukup berumahtangga’. Karena bisa jadi (meskipun jarang) ada orang yang secara materi sudah cukup namun dia tidak mampu berjimak. Hal tersebut akan membuatnya tidak dapat memenuhi hak isterinya dan mendzaliminya, kecuali jika sang isteri ridha dengan hal itu. ”Menurut penulis pun demikian, maksud kata “mampu (istatho’a)” dalam hadits tersebut adalah “mampu segalanya”. Pertama, tentu mampu bilogisnya (sesuai makna al-baata), mereka harus sudah akil baligh (cukup umur) dan normal alat biologisnya. Kedua, karena banyaknya kasus kematian yang menimpa ibu hamil dan melahirkan pada usia di bawah umur, maka sebaiknya juga calon pengantin baru (terutama perempuan) harus sudah siap dan mampu reproduksinya. Banyak dokter dan pakar kesehatan sebaiknya seorang perempuan mulai hamil pertama sudah berusia di atas 20 tahun, karena di usia ini rahim telah siap, dan pinggul seorang perempuan sudah melebar sendiri (sudah lebih lentur) jika hamil.

Ketiga, karena banyaknya kasus perceraian yang terjadi akibat nikah dini, maka pasutri baru juga seharusnya mampu dan sudah siap mental untuk menghadapi dan menyikapi semua problem yang menanti di depan mata. Pernikahan bukanlah hanya sekedar menghalalkan hubungan seksual antara dua sejoli, tetapi banyak persoalan yang perlu dihadapi dengan kesiapan mental. Keempat, tuntunan terbaik untuk keluarga adalah ajaran agama masing-masing, seperti anjuran Nabi dalam mencari jodoh sebaiknya dilihat agamanya, maka pasutri baru pun harus siap spiritualnya. Kelima, jika kita tengok sejarah, dimana Nabi Muhammad SAW pertama kali menikah di usia 25 tahun, dan pada usia 8 atau 10 tahun Nabi sudah mulai belajar berdagang bersama pamannya, usia belasan tahun sudah berdagang sendiri, maka di usia menjelang 25 tahun tentunya Nabi sudah mahir berdagang, yang artinya hal ini seharusnya menjadi contoh buat kita semua (terutama para pemuda ) yang hendak menikah sebaiknya telah siap finansialnya atau sudah bekerja dan lancar penghasilannya alias siap ekonominya. Ingat, uang memang bukan segalanya tapi segala sesuatu membutuhkan uang! (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy